Bab 6. Menikmati kebersamaan

1347 Kata
  Sebelum ke dapur, Renata singgah sebentar dikamar yang disiapkan untuknya untuk berganti pakaian. Tadi Bi Marni sempat memberitahu Renata kamar mana yang akan ditempatinya saat mereka berjalan menuju ke ruang kerja Ryan. Renata mengganti dressnya dengan pakaian yang lebih santai. Kaos berwarna biru dan celana jins panjang menjadi pilihan Renata.   Karena saat kegiatan sarapan tadi dia tidak sempat makan, maka dari itu di dapur Renata membuat secangkir kopi dan memanggang dua lembar roti tawar yang sudah diolesinya dengan sedikit mentega dan selai coklat. Makanan ringan seperti itu menjadi santapan Renata hampir setiap pagi.   Di Jakarta Renata hanya tinggal di rumah kos.  Kamarnya hanya berukuran 3 x 4 meter persegi. Didalam kamar hanya tersedia tempat tidur berukuran 90 x 200 cm, sebuah lemari sedang, sebuah dispenser, sebuah meja multi fungsi, sebuah kursi dan sebuah tv LED berukuran 32 inch.   Barang – barang Renata tidak terlalu banyak tetapi kamarnya sudah hampir penuh. Itu sebabnya Renata tidak menaruh kompor disana. Mau taruh dimana lagi itu ?   Renata jadi tidak bisa memasak. Untuk mengisi perutnya dia selalu membeli makanan yang mudah disajikan atau membeli makanan dari warteg.   Usai menghabiskan kopi dan rotinya, Renata langsung memulai aksinya. Bi Marni sudah berlalu dari dapur sejak beberapa menit yang lalu. Katanya dia mau membersihkan ruangan. Renata menjadi semakin leluasa bekerja didapur.   Renata takjub saat membuka kulkas. Bahan – bahan untuk memasak sangat lengkap, tersimpan rapi didalam sana. Tadi bi Marni sudah memberi tahu Renata masakan apa yang disukai Ryan dan Rafa. Mereka menyukai semua jenis makanan, tetapi jangan yang pedas. Untuk sayuran, Ryan dan Rafa juga bisa memakan sayuran apapun kecuali pete dan brokoli.   Renata kemudian mengambil bahan – bahan makanan untuk membuat udang asam manis dan sup ayam. Kemudian Renata mulai membersihkan bahan makanannya. Pertama – tama Renata membersihkan ikan udang dan ikan ayam untuk dibuat sup. Kemudia dikupasnya bawang merah, bawang putih, bawang bombay, daun bawang, dua buah wortel, dua buah kentang dan seledri.. Setelah itu Renata memasukkan bahan – bahan tesebut ke dalam blender untuk menghaluskannya.   Setelah itu Renata langsung memanaskan sedikit margarin lalu ia mulai menumis bumbu yang sudah dihaluskannya. Dengan mudahnya Renata memasak.   Satu jam kemudian Renata sudah selesai  membuat udang asam manis dan sup ayam. Dia kemudian menyajikan makanan itu dipiring.   Tak lama kemudian Bi Marni datang. “Sudah selesai ya non? Boleh bibi cicipin makanannya ?”   “Tentu saja boleh bi. Silahkan.” Renata mengambil sendok dan memberikannya pada bi Marni   “Mmmm… ternyata masakan non Renata enak. Den Rafa pasti suka.”   Renata tersenyum ceria. “Makasih bi. Oh ya, ini tolong disimpan dulu ya. Soalnya saya mau lihat Rafa dulu.”   Renata menghampiri Rafa yang sementara duduk di kursi meja makan. Mata anak itu sudah tampak sayu. Barangkali karena pengaruh tidur semalamnya yang kurang nyenyak ditambah lagi efek samping obat yang diminumnya sekarang Rafa kelihatan mengantuk.   Cepat – cepat Renata mengajak Rafa membereskan mainannya. Tentu saja Renata juga turut membantu bocah itu. Dia mengambil mainan mobil - mobilan lalu menaruhnya di dalam box di ruang tengah. Setelah itu Renata mengajak Rafa ke kamar anak itu untuk tidur siang.   Renata berbaring disamping Rafa lalu membelai rambut anak itu. “Tidur siang sekarang ya. Ayo tutup matanya.”   Alih – alih menutup matanya, Rafa justru mengajukan pertanyaan. “Kak, kalau Lafa beli salung tangan spaidelmen nanti bisa kelual jaling ya?”   “Anak ini imajinasinya bener – bener luar biasa.” gumam Renata dalam hati.  Anak - anak terkadang susah ditebak. Pikiran mereka kadang terlalu canggih. “Enggaklah sayang. Spaidermen itu digigit laba – laba makanya dia jadi kayak laba – laba bisa ngeluarin jaring. Tapi pas digigit spaiderman nya sakit berhari – hari loh.”   “Kenapa dia nggak langsung minum obat ? coba langsung minum obat, pasti spidelman langsung sembuh.”   Renata terkekeh. “Kamu tu ya ada - ada aja..." "Kayak Lafa kan lagi sakit langsung cepat sembuh kalena minum obat." Masih menyunggingkan senyumnya Renata menjawab, "Iya... Kamuu ya,  sudah ganteng, pinter, ngegemesin pula. Cium dulu dong... Muach…” Renata mendaratkan ciuman dipipi Rafa. “Udah ya ngomongnya. Sekarang tidur dulu.”   Tetapi anak itu tidak mendengarkan ucapan Renata. Ia kembali bertanya. “Kak Lenata kenapa visen kulitnya melah?”   Renata membuang napas panjang, kebingungan tidak tahu harus menjawab apa. Tidak semua film superhero pernah ditontonnya. Jawab apa ya sama anak ini ?   Renata kemudian memutuskan untuk menjawab asal – asalah saja. Muncul sebuah ide. “Mungkin dia salah minum obat. Hihihiii…” Renata merasa lucu dengan jawabannya.   “Ooo…”   Alamak anak ini kayaknya percaya omonganku. "Hahahaa…” Renata tertawa.   “Kenapa kaka teltawa?”   “Soalnya kamu lucu.” Renata kemudian mencubit pipi Rafa. “Sekarang tidur ya. Ayo tutup matanya lalu tidur dan bermimpi yang indah.”   “Nggak bisa tidul.”  Ngga bisa tidur bagaimana ? Mata udah lima wat kayak gitu. Ada - ada aja anak ini.   “Mmm… Gimana kalau kaka ceritain dongeng ? Tapi setelah itu Rafa bobo ya.” Renata membuat kesepakatan.   “Tapi jangan dongeng yang ada dibuku celita ya.”   Alamak ini anak pakai pilih – pilih juga. Tadi nggak sempat lihat buku cerita diruang bermain, masa bisa tahu dongeng apa yang ada dibuku itu.    “Ok.” Renata main setuju – setuju saja. “Tapi janji ya. Selesai dengerin dongengnya, Rafa harus bobo.”   “Okey.”   Renata memutar otaknya, berpikir dongeng apa yang harus diceritakannya.   “Dahulu kala… di sebuah hutan yang lebat hiduplah seekor kuda. Dia sangat sombong karena dia merasa dia jago dan hebat. Suatu hari si kuda melihat seekor siput. Siput itu sangat lambat bergerak. Kuda jadi ingin mengerjai siput.   “Hei, siput kamu tidak boleh lewat disini. Ini wilayah kekuasaanku.”   “Wilayah itu apa?” Renata berpikir sejenak sebelum menjawab, “Wilayah itu sama dengan tempat. Jadi maksud si gajah, hutan itu adalah tempatnya. Siput nggak boleh lewat sana.”   “Ooo.”   “Lalu kuda itu bilang ke siput. Kamu boleh lewat sini tapi kamu harus melawanku. Ayo kita lomba balapan. Kuda berpikir karena dia cepat larinya, gampang sekali mengalahkan si siput.”   Siput itu sangat marah kepada kuda. Jadi dia setuju untuk melawan kuda dilomba balapan. Oke, kata si siput. Ayo lakukan. Kita lomba balapan hari Minggu ya.   “Siput pulang dan memanggil semua teman – temannya. ia  memberi tahu semua teman - temannya tentang balapannya dengan kuda. teman – teman siput ternyata  memiliki rencana untuk mengakali kuda. Siput ini walaupun lambat, mereka ternyata mereka pintar.  Karena wajah mereka semua mirip, mereka memutuskan untuk mengakali kuda. Hari minggu pun tiba. Siput berangkat pagi-pagi sekali ke tempat lomba. Mereka mulai bersembunyi di tempat-tempat yang nggak kelihatan. Siput yang satu ada disini, yang satunya ada disini, yang lainnya ada disini. Siput – siput bersembunyi mulai dari garis awal tempat lombanya sampai garis finis . Lalu perlombaan nya dimulai. Kuda itu berlari sangat cepat. Tapi saat dia melihat kebawah ada siput di depannya. Kuda itu berlari semakin cepat. Tetapi siput itu masih ada di depan. Kuda itu terus berlari lebih keras dan lebih cepat. Tapi walaupun kudanya sudah berlari dengan cepat, siput itu masih ada di depannya.  Kuda itu akhirnya kalah. Dengan malu dan sedih kuda berkata, Baik, aku mengaku kalah. Sementara siput tertawa terbahak-bahak. Hahahaha!”   “Belalti siputnya tukang tipu.”   “Hahahaha…” Tawa Renata semakin pecah. “Duh.. kamu ini pintar sekali. Gemes deh....” ucap Renata sambil memegang kedua pipi Rafa. “jadi, cerita tadi mengajarkan kita agar supaya kita jangan sombong. Walaupun kita pintar, kita hebat atau kita kaya, kita jangan sombong supaya kita tidak dibenci dan ditipu. Sudah ya ceritanya, nanti lagi. Sekarang Rafa tidur.”   Renata kemudian mengelus punggung anak itu agar membuatnya cepat terlelap. Dan ternyata usahanya berhasil. Tidak sampai lima belas menit, anak itu sudah tertidur pulas.   Mata Renata memandang penuh kehangatan ketika Rafa sedang tidur. Baru beberapa jam bertemu dengan anak itu tetapi ia sangat menikmati kebersamaan mereka. Renata senang karena dia bisa beradaptasi cepat dengan Rafa. Ia juga gembira karena dia perlahan – lahan bisa mengambil hati anak itu. Dalam hati Renata berharap, semoga selama ia bekerja disini dia bisa memberikan keceriaan bagi Rafa.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN