Renata pergi ke kamarnya, mengeluarkan semua pakaiannya dari dalam koper dan mengaturnya serapi mungkin didalam lemari yang berada sudut ruangan.
Kamar yang ditempatinya itu berada disebelah kamar Rafa. Kamar itu dicat warna abu – abu dipadukan dengan warna hijau. Ruang kamar itu terlihat lembut dan menyejukkan mata.
Sementara mengatur pakaian Renata teringat rumahnya di Bandung. Sejak SMA Renata sudah diajarkan menjadi anak yang mandiri oleh kedua orangtuanya dengan cara menyuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah. Pada hari senin sampai dengan jumat pagi Renata harus membantu bundanya memasak. Sedangkan pada akhir pekan, dia harus membersihkan rumahnya mulai dari menyapu, mengepel sampai melap perabotan – perabotan rumah.
Belum lagi kalau ayahnya meminta bantuan Renata untuk mencuci mobil. Pokoknya semua pekerjaan rumah sudah biasa dilakukan Renata.
Terkadang memang Renata malas dan sengaja mengabaikan perintah bundanya untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi tidak menunggu lama pidato seratus bab bundanya langsung terdengar.
Anak gadis harus bisa memamsak, nyuci, nyapu, ngepel dan ngurusin rumah. Pokoknya harus serba bisa. Kalau kamu menikah nanti, kamu harus mengurus suami dan anak – anakmu. Syukur kalau nikahnya sama orang kaya. Tapi kalau nikahnya sama orang ekonomi pas – passan gimana ?
Sekalipun menikahnya dengan orang kaya, sekalipun dapat mempekerjakan selusin pembantu, tetap saja seorang istri harus melakukan tugasnya mengurus suami, anak dan rumahnya dengan baik. Kalau malas – malasan gimana bisa tahu kerja ?
Dengan cemberut Renata bergerak dan mulai melaksanakan perintah bundanya. Mengingat kejadian itu Renata jadi senyum – senyum sendiri. Ternyata didikan orang tuanya sangat membantu. Walaupun sekarang dia belum menikah, tetapi Renata tidak merasa hidup kesulitan saat jauh dari orang tuanya. Renata bisa hidup dan mengurus diri sendiri dirantau dengan baik.
Renata baru sadar, sudah dua hari dia tidak menghubungi orang tuanya. Setelah selesai mengatur pakaiannya, Renata buru – buru mengambil ponselnya lalu menelepon bundanya.
“Halo, Assalamualaikum bun.”
“Waalaikum salam. Teteh ngapain aja ? Kenapa baru telpon bunda sekarang? Sudah lupa sama orang tua kamu ya?” Bunda Yanti langsung ngomel.
“Hehe. Maaf bun, teteh lumayan sibuk sekarang. Ini ada job baru bun, jagain anak laki 5 tahun. Semalam anaknya demam, terus pengasuhnya lagi ijin pulang kampung. Jadi teteh gantiin jaga.” Renata memberitahu.
“Emang orang tuanya kemana ?”
“Papinya ada, tapi maminya sudah meninggal.”
“Oh. Nggak nikah lagi dia?” tanya bunda Yanti kepo.
“Ih bunda kepo. Bapaknya belum nikah bund.”
“Ganteng nggak orangnya ?” Bunda Yanti nyerocos terus.
“Anaknya ganteng bun, lucu lagi.”
“Maksud bunda papinya. Tapi kalau anaknya ganteng berarti papinya pasti ganteng.”
“Iih bunda sok tahu deh.” Renata tersenyum geli.
“Bukan sok tahu, tapi memang kan biasanya begitu. Buah jatuh ngga jauh dari pohonya. Jadi k alau anaknya ganteng berarti papinya pasti ganteng. Bener kan?”
“Iya sih. Papinya ganteng." ucap Renata sambil membayangkan wajah Ryan. Lalu tiba - tiba dia geli sendiri menyadari kelakuannya.
“Tuh kan bener. hati - hati kamu teh, jangan sampe klepek – klepek sama papi anak itu. Tahu sendiri kamu nggak bisa liat yang ganteng. Poster cowok ganteng dikamar aja dipuja kayak dewa, padahal teteh nggak pernah ketemu orangnya.”
“Ih bunda. Bedalah poster dikamar sama pak Ryan. Poster dikamar kan itu poster Ji Chang Wook bun, aktor korea yang ganteng banget. Teteh mah fans banget sama dia.”
“Ah, tapi kamu memang nggak bisa liat cowok yang ganteng. Liatinnya sampe ngiler, nyadar nggak? Makanya kadang bunda takut kamu itu kenapa - kenapa disana.”
"Masa sih sampe ngiler bun ? Setahu teteh kalau teteh lihat cowok ganteng mah cuma suka nggak berkedip gitu. Hehe..."
"Nah itu...Hati - hati kamu disana teh, jangan sampe kamu dimanfaatin sama laki - laki yang bertanggung jawab.' terdengar suara kekhawatiran dari bunda Yanti.
"Bunda jangan khawatir. Teteh bisa jaga diri baik - baik kok. Bunda tenang ya."
“Terus sekarang teteh tinggal dirumah anak itu ya ?”
“Iya, bun. Tapi disini ada beberapa pekerja kok. Ada bi Marni sama pak Udin sama satpam tapi Teteh lupa namanya siapa. Aman kok bun disini.” Renata memberi penjelasan supaya bundanya tidak khawatir.
“Tetap saja kamu harus hati – hati.”
"Iya - iya."
“Siapa yang nelpon bun?” Terdengar suara ayah Haris dari balik ponsel.
“Teteh yang nelpon.”
“Sini hp nya, ayah mau bicara. Halo teh, kamu apa kabar, Sehat kan ?”
“Alhamdulilah sehat, yah. Ayah sendiri sehat kan ?”
“Iya, ayah juga sehat. Bulan depan teteh pulang kan ? Nanti ayah bayarin travelnya...”
“Iya, teteh bakal pulang yah. Job disini hanya sebulan kok jadi bulan depan teteh bisa pulang ke Bandung. Mau titip oleh – oleh apa ?”
“Ya ampun. Nggak usah teh, yang penting tetehnya bisa pulang supaya kita bisa ngerayain ulang tahun pernikahan ayah sama bunda bersama – sama.” ucap ayah Haris.
"Iya teh, biar bunda ada temen belanja dipasar." bunda Yanti menimpali.
"Ah bunda mah gitu. Belum aja teteh pulang udah dikasih kerjaan."
Bunda Yanti tertawa. Ayah Haris dan Renata juga ikutan tertawa.
"Ngomong - ngomong ada apa teteh telpon?" tanya bunda Yanti. Hp sudah diambil lagi sama bunda Yanti.
"Emang harus ada keperluan baru bisa nelpon?"
"Nggak begitu juga teh. Kamu mah sensi sekali, apa lagi datang bulan?" pertanyaan bunda Yanti mulai kemana - mana.
"Kok ngomonnya sudah sampai di datang bulan sih bund? Hahaha... Teteh telpon cuma mau nanya kabar. Ngomong – ngomong adek mana ?”
“Adek dirumah Dimas, katanya lagi ngerjain tugas.”
“Oh, ya sudah teteh titip salam ya buat adek. Ini teteh nggak bisa bicara lama. Tutup dulu ya telponnya soalnya mau lanjut kerja. Ayah sama bunda jaga kesehatan ya. Jangan nonton sinetron sampai larut malam.”
“Iya. Teteh juga harus jaga kesehatan. Baik – baik ya disana.”
Sesudah mengakhiri pembicaraan ditelepon dengan kedua orang tuanya, Renata memeriksa pesan wa yang masuk. Ada nomor yang tidak dikenal mengirim pesan padanya.
INI NOMOR WA SAYA.
RYAN
Mata Renata sampai membola karena membaca pesan dari Ryan. “Ya Allah... Nge-wa gini amat. Pake Caps Lock semua. Hadew... Safe dulu nomornya.” Renata kemudian menyimpan nomor hp Ryan dengan nama Pol ice man. “Hihihi…” Renata tertawa kecil membaca nama itu. "Biar aja safe pake nama itu."
Kemudian ia membalas pesan Ryan dengan mengatakan apa saja yang telah dilakukannya dengan Rafa. Kecuali kegiatan memasaknya tidak diberitahukan kepada Ryan.
Selamat pagi Pak. Nomor bapak sudah saya save. Terus soal Rafa, setelah sarapan tadi Rafa bermain sebentar lalu setelah itu saya langsung ajakin tidur diar siang. Sekarang Rafa nya sudah tidur pak dikamarnya. Sebentar kalau sudah bangun, saya akan cek suhu badannya. Nanti saya lapor ke bapak hasilnya gimana. Terus saya juga akan suapin dia biar bisa makan banyak. Setelah itu saya akan bujuk untuk minum obat. Bapak tenang saja ya kerjanya. Rafa pasti akan saya urus dengan baik.
Begitulah isi pesan yang dikirim Renata pada Ryan.
Renata melakukkan persis seperti apa yang ditulisnya. Siang hari saat Rafa bangun, ia langsung mengecek suhu badan Rafa. Bocah itu sudah tidak panas lagi. Sesudah itu, Renata langsung mengajak Rafa makan siang. Disuapi nya bocah itu dengan sabar. Alhasil Rafa menghabiskan sepiring makannya.
Sepertinya napsu makan bocah itu sudah mulai kembali. Lagipula makanan yang disantapnya adalah makanan yang dimasak Renata. Ternyata makanan itu sangat sesuai dengan selera Rafa. Karena itu dia makan cukup banyak.
Sesudah makan siang, Renata langsung membujuk Rafa untuk minum obat.
Sore harinya Renata membantu membersihkan badan Rafa dan membantu anak itu mengganti pakaiannya. Rafa diurus dengan baik oleh Renata.
Setelah itu Renata kembali memasak didapur untuk menyiapkan makanan untuk makan malam. Renata membuat beberapa jenis lauk dan sayur.
***
Ryan baru bisa memiliki waktu senggang disore hari. Sepanjang pagi dia disibukkan dengan meeting bersama dengan tim project yang menangani proyek pembangunan hotel barunya di Timika. Berbagai hal dibahas, mulai dari kapan mereka akan berangkat meninjau kembali lokasi pembangunannya, penentuan nama hotel, perkiraaan biaya dan berapa lama waktu yang dibutuhkkan untuk pembangunan hotelnya.
Disiang hari Ryan harus bertemu dengan arsitek PT. Megatama Architectur, arsitek yang bertanggung jawab mendesain hotelnya.
Begitu berada diruang kerjanya Ryan memberitahu Jimmy kalau dia ingin beristirahat sebentar. Ryan menyandarkan tubuhnya disandaran kursi kerjanya lalu memejamkan mata. Lelah karena seharian bekerja ditambah semalam tidak tidur dengan nyenyak karena menjaga Rafa membuat Ryan langsung tertidur.
Jimmy asistennya berada diruangan yang sama dengan Ryan. Jimmy hanya tersenyum saat melihat Ryan tertidur. Dengan tenang Jimmy melanjutkan pekerjaannya, memeriksa beberapa dokumen.
Semenjak menjabat sebagai CEO PT. Zin Mandiri Abadi, Ryan jadi bertambah sibuk dalam pekerjaannya. Saat dia dan Helen mendiang istrinya memiliki anak, kesibukkan Ryan semakin meningkat. Jimmy tahu banyak tentang kehidupan Ryan. Ia tahu Helen tidak pernah mengurus Ryan dan anak mereka. Bahkan dia juga tahu tentang perselingkuhan Helen. Pada akhirnya Ryanlah yang mengurus semua, baik urusan perusahaan maupun urusan keluarga.
Beberapa menit kemudian.
Ting…
Notifikasi dihandphone membangunkan Ryan. Ia mengerjapkan matanya lalu setelah itu mengambil ponsel dan memeriksa pesan yang masuk.
Pertama Ryan membaca pesan dari mamanya yang berisi pemberitahuan kalau hari ini mamanya tidak bisa ke rumah Ryan untuk menjenguk Rafa karena mendadak encoknya kambuh. Ryan membalas pesan dari mamanya.
Tidak apa – apa ma. Kesehatan mama penting. Istirahatlah dulu dan minum obat. Kalau sudah sembuh baru datang jengukin Rafa. Lagian aku sudah nyari perawat untuk ngurusin Rafa. Mama nggak usah khawatir ya.
Pesan kedua dari Renata, berisi tentang apa saja yang sudah dilakukannya dengan Rafa. bibir Ryan melengkung membentuk senyuman. Dia gembira karena Renata melakukan tugasnya dengan baik. Membalas pesan Renata, Ryan hanya menulis satu kata. ‘Ok.’
Pesan ketiga dari bi Marni, berisi dua video dengan keterangan sedang bermain dan menidurkan Rafa.
Dengan serius Ryan memuar video pertama. Video itu menampilkan adegan dimana Renata bergaya seperti spiderman. Senyum cemerlang tercipta dibibir Ryan. Selanjutnya senyum cemerlang itu berubah menjadi tawa kecil.
Selesai menonton video pertama Ryan melanjutkan dengan video kedua. Video itu menampilkan Renata yang sedang menidrukan Rafa. dengan ceria Ryan mendengarkan dongeng Renata divideo itu. Ryan juga memperhatikan interaksi antara Renata dengan Rafa, putranya. Interaksi diantara mereka ternyata baik. Rasa lega lagi – lagi menyentuh hati Ryan.
Jimmy yang melihat senyum cemerlang Ryan mulai merasa keheranan. Tidak biasanya bosnya itu tersenyum seperti itu. Samar – samar terdengar suara dari ponselnya. Sepertinya Ryan sedang menonton video. Tapi video apa yang ditontonnya ?
Rasa penasaran pun menyelimuti Jimmy. Ia pun langsung bertanya. “Yan, kamu nggak sedang nonton video por no kan ?”
Jimmy sudah lama bekerja diperusahaan Ryan. Karena itu hubungan keduanya bukan hanya sebatas hubungan atasan bawahan, tetapi diantara mereka sudah terjalin persahabatan. Saat mereka hanya berdua, mereka mengabaikan formalitas. Mereka sepakat untuk saling memanggil nama saja.
Ryan mendongak. “Sembarangan kamu.”
“Terus kenapa senyum – senyum begitu?”
“Bukan urusan kamu.”
Ryan jelas – jelas memiliki sesuatu yang menarik dibalik senyum cemerlang yang ditampilkannya. Tapi mengapa dia tidak mau memberitahu ? Tidak ada pilihan lain. Untuk menuntaskan rasa penasarannya, Jimmy memutuskan untuk mencari tahu.
Mengajukan pertanyaan pada Ryan benar – benar tidak bisa membantu Jimmy menghilangkan rasa penasarannya. Karena itu ia harus mengubah strategi. Kali ini dia tidak akan bertanya, tetapi menebak.