“Jangan bilang kamu tersenyum seperti itu karena melihat Renata.” tebak Jimmy.
Ucapan Jimmy memancing perhatian Ryan. Dia pun segera mendongak. “Darimana kamu tahu ? Perasaan aku nggak pernah ngasih tahu kamu tentang Renata.” Ryan mulai berpikir.
Jimmy tersenyum puas. Ternyata tebakannya benar.
“Cepat bilang! Darimana kamu tahu tentang Renata ?”
Ekspresi penasaran yang terukir diwajah Ryan membuat wajahnya terlihat lucu. Jimmy sampai berusaha menahan diri untuk tidak tertawa. Jimmy harus mengatur napasnya baru kemudian mulai berbicara.
“Semalam setelah aku mengantar kamu pulang, aku mampir di minimarket di persimpangan jalan. Aku mulai merasa mengantuk, jadi aku mampir disana dan membeli kopi. Aku duduk sebentar didepan minimarket itu, menikmati angin malam ditemani dengan secangkir kopi dan sebatang rokok. Dan disitu aku ketemu Maya. Sepertinya Maya juga sedikit mengantuk makanya ia mampir di minimarket itu dan membeli kopi. Maya duduk sebentar menemaniku dan kami mulai ngobrol. Aku pikir dia baru dari rumahmu, jadi aku bertanya bagaimana keadaan Rafa.”
“Lalu ?” tanya Ryan masih dengan rasa penasaran tinggi.
“Lalu katanya Rafa akan baik – baik saja karena dia hanya demam biasa. Lagi pula sudah ada yang akan merawatnya besok. Aku terus bertanya. Siapa yang akan merawat Rafa ? Maya lalu memberitahuku. Bahkan aku juga melihat foto wanita itu.”
“Kok bisa ?”
“Bisalah.” ucap Jimmy. “Semalam wanita itu mengirim pesan pada Maya. Lalu tidak sengaja aku melihat foto profilnya. Cantik juga dia.” lanjut Jimmy.
Ryan menggelengkan kepala tidak percaya. Tampaknya memang tidak ada sesuatu apapun yang berhubungan dengan dirinya yang bisa ia sembunyikan dari Jimmy.
“Jadi yang kamu lihat tadi dihanphonemu itu beneran si Renata kan?” tanya Jimmy.
“Hmm…”
“Bagus...bagus...”
“Bagus apanya ?”
“Ya semuanya. Kamu sampai senyum – senyum begitu berarti bagus. Renata pasti cantik, baik dan sesuai sama harapan kamu. Bagus kan?"
“Sok tahu kamu.” kata Ryan cepat.
Jimmy hanya bisa mengangkat bahunya sambil tersenyum lebar.
“Sejujurnya dia memang cantik." Akhirnya Ryan mengakui. "Kerjanya juga baik sejauh ini. Tapi terkadang dia aneh. Otaknya kadang nggak berpikir normal.” lanjut Ryan.
“Maksud kamu?” Giliran Jimmy yang penasaran.
Ryan kemudian menyodorkan ponselnya. “Nih kamu liat aja video ini. Tadi bi Marni kirim ke aku.”
Jimmy meraih ponsel Ryan lalu segera memutar video itu.
“Hahahaha…” sepanjang menonton video pertama Jimmy membuka mulutnya lebar – lebar karena tertawa. Gaya Renata sangat lucu. Tapi tetap mirip dengan spiderman. Hanya berbeda jenis kelamin saja. Barangkali Renata bisa dijuluki Spiderwowan, menurut Jimmy.
Saat memutar video kedua, ekspresi wajah Jimmy berubah – ubah, mulai dari terharu, tersenyum ceria sampai tertawa. Imajinasi Renata benar – benar luar biasa. Dia juga cerdas, dengan cepat dapat memikirkan jawaban saat Rafa bertanya kenapa Visen kulitnya merah. Jawabannya ambigu begitu tapi lucu.
“Ini mah bukan aneh Yan, tapi cerdas.” ujar Jimmy mengemukakan pendapatnya.
Ryan menggelengkan kepalanya. “Percuma bicara sama kamu. Kalian ternyata sama – sama nggak normal. Sini balikkin handphonenya.”
Jimmy segera menyerahkan ponsel milik Ryan.
“Daripada mendengarkan omonganmu yang tidak masuk akal itu, lebih baik aku pulang.”
Tawa Jimmy semakin menjadi. “Cih... Bilang aja mau cepat pulang karena ingin segera bertemu dengan Renata."
“Sembarangan kamu bicaranya. Ayo cepat bersiap.”
Meski masiih senyum - senyum Jimmy tetap langsung bergerak, marapikan dokumen – dokumen diatas meja. Dalam keadaan seperti ini sebaiknya langsung menuruti perkataan Ryan karena kalau tidak bos nya itu bisa marah - marah tidak jelas. Kan nggak enak dengernya...
Jimmy tahu selama ini Ryan kesulitan berhubungan dengan wanita. Apalagi saat dia berstatus duda. Ryan bukanlah lelaki playboy. Dia pria yang bermartabat. Itu sebabnya untuk berhubungan dengan wanita dia memiliki standar tinggi. Bukan tentang status social, bukan tentang materi tetapi tentang tanggung jawab dan kesetiaan.
Ryan sangat cerewet mengenai wanita – wanita yang pernah dikenalnya. Wanita itu terlalu manja. Wanita itu terlalu sombong. Wanita itu terlalu emosian. Wanita itu terlalu ambisius. Wanita itu terlalu matrealistis. Ryan selalu menggumamkan ketidakpuasannya terhadap setiap wanita yang ditemuinya. Jimmy sampai pusing mendengarkan keluhan bosnya itu.
Sampai sekarang Ryan belum menemukan wanita yang tepat sesuai harapannya. Malahan sudah hampir setahun lamanya ia tidak berhubungan dengan wanita, dalam hal berkencan. Jimmy tahu kalau Ryan sudah kapok mengikuti kencan buta yang diatur oleh ibunya. Dan ia tahu bahwa mencari wanita untuk dijadikan istri dan ibu untuk anaknya bukanlah hal yang penting bagi Ryan sekarang ini.
Tetapi melihat Ryan yang tersenyum ceria karena seorang wanita membuat Jimmy bahagia. Dia berasumsi bisa saja Renata adalah wanita yang tepat untuk Ryan. Jimmy memang belum bertemu dengan Renata, tetapi saat melihat cara Renata mengurus Rafa dalam video diponsel Ryan, Jummy dapat melihat aura keibuan yang menampilkan kasih sayang tulus dari hati wanita itu.
Jimmy tidak akan menyuruh Ryan mengejar Renata atau memaksanya untuk menikahi wanita itu. Walau sejujurnya hal itu baik, tapi tetap saja dia tidak mau mendesak Ryan, setidaknya untuk saat ini. Dia memilih membiarkan Ryan menjalani hari – harinya bersama dengan Renata secara alami. Siapa tahu dihati Ryan akan tumbuh benih – benih cinta.
*
Jam sudah menunjukan pukul 7 malam ketika Ryan tiba dirumahnya. Memasuki dapur, Ryan mendapati Renata tengah mengatur makanan di atas meja makan. Rafa sudah duduk manis dikursi sambil menunggu Renata selesai menyajikan makanan.
“Sudah pulang, pak.Rafa baru mau makan. Ayo pak, makan malam bersama Rafa. Tapi cuci tangan dulu ya." Tanpa sadar Renata menyuruh - nyuruh Ryan.
Tapi Ryan mengikuti kata – kata Renata. Setelah selesai mencuci tangannya, Ryan langsung menuju meja makan dan duduk dikursinya.
Entah apa yang dipikirkan Renata. Segera setelah Ryan duduk, ia langsung mengambil piring dan menyendokkan nasi dipiring itu. “Mau lauk apa pak? Ini ada udang balado, udang asam manis, ayam kriuk dan telur sambal.” Renata bertanya dengan sopan dan ramah.
“Udang balado saja dan telur sambal.” ucap Ryan cepat.
“Oke. Sayur nya mau yang mana? Cap cay atau Cah kangkung tempe?”
“Cap cay saja.”
“Oke. Ini pak, silahkan dimakan.”
Setelah menaruh piring berisi makanan yang diambilnya dihadapan Ryan barulah Renata sadar akan kelakuannya. Memalukan. Ia pikir Ryan adalah Rafa. Ya ampun.
Tiba – tiba Renata merasa canggung. “Eh... Maaf pak.” ucapnya pelan. Bagi Renata kelakuannya memalukan. Ia nyaris tidak memiliki keberanian untuk menatap Ryan. "Saya pikir bapak Rafa."
“Tidak apa – apa.” Jelas tidak apa - apa karena dalam hati Ryan bersorak gembira karena dilayani seperti ini. Berasa ada yang memerhatikannya.
Ryan kemudian mengambil sendok dan garpu lalu langsung mencicipi makanan itu. “Ayo makan nak," ucap Ryan pada Rafa. "makan yang banyak biar sehat.” lanjut Ryan. Kemudian dia mulai menguyah makanannya.
Renata langsung menarik kursi disamping Rafa dan duduk disitu. Mengambil piring yang berisi makanan Rafa lalu menyuapi anak itu dengan sabar.
Saat bi Marni datang ke meja makan membawakan s**u dan obat untuk Rafa, Ryan langsung mengajukkan pertanyaan.
“Bibi yang masak makanan ini?”
Bi marni gugup, ragu – ragu menjawab pertanyaan tuannya.
“Maaf pak, makananya saya yang masak.” Renata langsung mengeluarkan suaranya dengan perasaan tidak tenang.
Apakah dia membuat kesalahan ? Renata bertanya – tanya dalam hati. Seingatnya saat dia memasak sore tadi, semua bahan yang dipakainya adalah bahan yang memang dipakai untuk membuat masakan itu.Dan Bi Marni juga tidak ada komentar apa - apa ketika mencicipi makanan itu.
“Oh. Pantas saja rasanya berbeda.”
“Maaf pak. Makananya nggak enak ya?”
“Makanannya enak kok. Tapi pedas.”
Renata tersenyum menyesal sambil meminta maaf sekali lagi. Dia pikir pedas masakannya sudah pas. Ternyata ia keliru.
Menyadari senyum menyesal Renata, Ryan langsung berkata, “Nggak apa - apa. Lain kali kalau masak jangan terlalu banyak cabe rawitnya. Kalau perlu nggak usah ditaruh.”
Mata Renata membulat. Apa maksud lain kali ? Apa dia ingin aku memasak untuknya ? Renata menduga – duga.
“Tapi papi makannya banyak sekali, tidak sepelti biasa. Itu pasti kalena masakan kak Lenata enak." Rupanya Rafa memerhatikan papinya itu. "Lafa juga makannya banyak. Besok kak Lenata masak lagi ya buat Lafa.” .
“Iya sayang, masakan tante Renata enak." kata Ryan pada Rafa. "Jadi kalau bisa mulai besok kamu yang masak.” timpal Ryan, mendukung permintaan Rafa.
“Oh, baik pak.” ucap Renata.
Kini ada tugas tambahan untuknya. Oleh sebab itu dalam hatinya Renata bertekad, mulai besok dia akan memasak dengan benar sesuai selera bos kecil dan bos besarnya.