Bab 9. Interogasi Pol ice man

1710 Kata
Renata mengira dia tidak akan bertemu dengan Ryan lagi setelah perbincangan mereka dimeja makan. Ternayta Renata salah. Saat hendak menidurkan Rafa, Ryan datang ke kamar putranya itu.   Mata Renata terpana begitu melihat penampilan Ryan. Barangkali ini yang dimaksud bundanya. Dia memang tidak bisa melihat pira yang ganteng. Auto klepek - klepek. Apalagi Ryan kini tampak segar. Sepertinya pria itu baru saja mandi. Dia mengganti pakaian kerjanya dengan kaos oblong berwarna putih dan celana panjang model jogger. Kaos putih itu melekat sempurna ditubuh  Ryan, memperlihatkan setiap ototnya. Renata tidak menyadari selama beberapa detik matanya tidak berkedip karena mengagumi Ryan. Ya Tuhan, mungkin dia sudah tidak waras.   Saat Ryan duduk ditepi ranjang, samar – samar Renata dapat mencium aroma tubuh Ryan. Aroma musk, Renata menebak. Bahkan dirumah pun pria itu sangat harum. Aroma tubuh Ryan begitu sen sual hingga bisa memabukkan setiap wanita yang dekatnya. Renatalah wanita itu. Dia kan sekarang sedang berada dekat dengan Ryan. Dan rasanya dia sudah mabuk kepayang. Sadar Renata...Sadar...   Menyadari tatapan kagum Renata, Ryan berdeham. “Ada apa?” tanyanya pada Renata.   Pertanyaan itu membuyarkan pikiran Renata yang kemana - mana. Renata salah tingkah.”Eh, tidak ada apa – apa kok pak. Hehe.” Renata berdiri canggung ditepi tempat tidur Rafa. Dia merasa wajahnya terbakar karena malu. Menyembunyikan rasa canggung dan malunya, Renata pura – pura memegang selimut Rafa. “Rafa sudah mau tidur pak.” ucap Renata pelan.   Ryan mengalihkan pandangannya pada Rafa. “Sudah mau bobo ya?”   "Iya pi."   “Boleh nggak papi ngobrol sebentar ?”   “Boleh .Apa?”   “Mmm… Seharian ini Rafa ngapain aja?”   Pertanyaan itu memang ditanyakan pada Rafa, tapi saat mendengar Ryan berkata seperti itu Renata langsung menatap keheranan ke arah Ryan.   Apa maksudnya? Apa ini interogasi ? Perasaan aku sudah kasih tahu tadi kegiatan aku dan Rafa seharian ini. Apa itu nggak cukup ? Apa harus mengkonfirmasi ke Rafa ? Apa dia nggak percaya padaku ? Sederet pertanyaan itu bernaung dikepala Renata.   Renata teringat dengan pesan balasan yang dikirim bosnya itu. Sekian banyak  pesan laporan yang dikirim nya, balasan yang diberikan bosnya itu hanya 1 kata. 'OK.’ Kemudian sore harinya setelah Renata selesai mengukur suhu badan Rafa, dia juga langsung mengirim pesan pada bosnya itu. Dibalas juga dengan kata'OK'. Pikir Renata, sudah OK aja berarti semua sudah clear aja. Tapi nyatanya enggak. Mendadak Renata kesal.   Dengan polonsya Rafa menjawab,”Hali  ini Lafa main sama ka Lenata. Papi tahu ngga, ka Lenata tahu loh belgaya spidelmen. Tadi ka Lenata tunjukkin ke Lafa.”   Ryan melirik Renata. “Oh ya?”   Kekesalan Renata berubah menjadi sikap kikuk. Apa sih ini anak  ngasih tahu aku bergaya spiderman. Kan malu! Renata tidak bisa membalas ucapan Ryan. Tatapan Ryan beralih ke Rafa lagi. “Terus ngapain lagi?”   Bocah itu diam dan berpikir. “Mmm.. Tadi Lafa makan banyak kalena makanannya enak. Ka Lenata telnyata jago masak. Telus ka Lenata juga baik tadi bantuin bi Malni belsihin dapul.”   Renata membeku. Ampun ini anak, semuanya dikasih tahu. Terdengar seperti ngaduin aku lagi. Astaga.   “Tadi cuma bantuin masak sama beresin piring – piring kotor saja kok pak. Bukan bi Marni yang suruh, jangan marahin bi Marni ya pak. Saya melakukan itu atas keinginan saya sendiri.” Dengan cepat Renata menjelaskan sambil memasang wajah sendu.   “Hmmm…”   Apa maksudnya hmmm?   “Tadi Rafa minum obat nggak?”   “Ada. Lafa minum semua obatnya. Tapi balusan tinggal dua obat yang Lafa minum. Kata ka Lenata badan Lafa sudah ngga panas jadi obat panasnya sudah tidak diminum lagi.”   Ryan tersenyum.”Hebat anak papi.” ucap sambil kemudian mengacak – ngacak rambut Rafa.   “Oke, kita lanjutkan ngobrolnya besok ya. Sekarang Rafa bobo.”   “Lafa mau dengel dongeng sebelum bobo. Tadi siang ka Lenata celitain dongeng sebelum Lafa bobo siang. Sekalang juga halus celitain dongeng.”pinta Rafa dengan muka memelas.   “Oh ya? Ya sudah, ayo kita dengarkan dongeng tante Renata sama - sama.”   “Hah?” ucap Renata spontan karena terkejut dengan perkataan Ryan barusan.   “Tunggu apa lagi? Ayo ceritain dongeng biar Rafa bisa segera tidur.”seru Ryan pada Renata.   Tidak ada yang bisa dilakukan Renata selain menurut. Apalagi kalau bosnya sudah berbicara pakai ngegas, harus langsung cepat - cepat dilaksanakan perintahnya itu.  “Oh, baik pak.”   Sambil berpikir Renata menarik kursi meletakkannya di samping tempat tidur. Duduk disitu lebih nyaman karena Ryan sudah berbaring saja disamping Rafa. Masa Renata juga ikut berbaring bersama mereka.   “Cepetan celitain dongengnya.” ujar Rafa tidak sabaran.   “Iya – iya. Kaka ceritain dongeng tentang raja yang bertobat.” Renata asal - asal saja mengucapkan judul ceritanya.   Tetapi tampaknya Ryan bereaksi kaget saat mendengar ucapan Renata. Dia menatap  Renata penuh selidik. "Cerita apaan itu?" celetuk Ryan. "Ya cerita tentang raja yang sombong, suka marah - marah, suka merintah - merintah tapi kemudian dia bertobat." Renata langsung nyerocos aja. Ryan hanya bisa mendegus.  "Mulai nih ya ceritanya." ucap Renata lagi. "Iya kak, ayo cepetan." ujar Rafa. “Pada suatu hari, hiduplah seorang raja yang sangat sombong, suka marah - marah dan jahat. Dia tidak menghargai pengawal - pengawal  yang bekerja di istana.”   “Menghargai itu apa?” tanya Rafa.   Dengan sabar Renata menjelaskan. “Menghargai itu sama dengan menerima seseorang itu apa adanya tanpa melihat perbedaan misalnya agama, status social apakah dia kaya atau miskin atau  perbedaan fisik, misalnya orang itu gemuk atau kurus, tampan atau jelek. Begitu.”   “Ooo…”   “Nah, karena raja itu sombong dan jahat, dia bukan hanya nggak  menghargai pengawal- pengawalnya, tetapi dia juga sering memarahi mereka. Si raja itu bicaranya kasar sekali. Pada akhirnya, pengawal – pengawalnya itu pergi meninggalkan raja.   Pada awalnya raja nggak peduli. Biar saja semua pengawal meinggalkannya. Raja pikir berpikir dia bisa mengurus dirinya sendiri. Tapi suatu hari dia jatuh sakit. Raja tidak bisa berjalan karena tubuhnya menjadi lemah. Raja mencoba mencari pertolongan tapi tidak ada yang bisa menolongnya karena semua pengawalnya sudah pergi.   Raja akhirnya menyesal.  Dia pikir dia bisa hidup sendiri padahal sebenarnya enggak. Raja kemudian berdoa dan memohon ampun kepada Tuhan. Raja juga berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya. Raja berjanji tidak akan sombong dan jahat lagi.   Tiba – tiba datang seorang pelayan menghampiri raja. Ternyata pelayan itu tidak meninggalkan istana.”   “Kenapa pelayan itu tidak pelgi dali istana?” tanya Rafa.   “Mmm.. karena dia harus menyelesaikan tugasnya didapur. Sebenarnya pelayan itu sudah berencana meninggalkan istana, tetapi nanti kalau sudah selesai memasak barulah pelayan itu akan pergi. Selesai memasak, pelayan itu hendak membawakan makanan kepada raja. Tidak disangka, pelayan itu mendengar doa raja. Karena pelayan itu berhati baik, diapun segera menolong raja. Akhirnya si raja sembuh dari sakitnya. Rajapun sangat berterimakasih kepada si pelayan. Dan setelah raja sembuh ia langsung memanggil kembali pengawal – pengawalnya untuk bekerja lagi diistana.”   “Jadi kita ngga boleh sombong dan jahat nanti ditinggalin sendilian.” ucap Rafa.   “Ya betul. Duh makin pintar aja kamu sayang.” puji Renata. “Ceritanya kan sudah, sekarang bobo ya.” "Mmm... Tapi punggungnya diusapin." pinta Rafa. "Gimana sayang?" tanya Ryan . "Usapin punggung Lafa." "Begini pak," ucap Renata langsung memberikan contoh. Renata memajukan tubuhnya lalu dengan lembut mengelus punggung anak itu. "Rafa jadi cepat tidur kalau diusapin kayak gini punggungya." lanjut Renata. "Oh." kata Ryan singkat. Biasanya juga dia nggak kayak gitu. Sama Renata Rafa makin manja saja. Lima menit berlalu. Rafa sudah tertidur. Ryan langsung berdiri, bermaksud pergi ke kamarnya. Dilihatnya Renata masih tidak bergerak dari tempatnya. “Kamu nggak ke kamar kamu?” tanya Ryan.   “Enggak pak. Saya tidur disini saja.”   “Tapi tempat tidur ini kekecilan buat kamu sama Rafa.” “Enggak kok pak. Ini cukup.” Saya kan nggak gendut pak. Tempat tidur ini lebih dari cukup buat saya sama Rafa.   “Ya sudah. Saya pergi.”   “Iya pak, selamat malam dan selamat beristirahat. Mimpi indah…” Tanpa sadar Renata mengucapkan kata – kata itu. Tapi terlanjur sudah dikatakan. Ya sekarang wanita itu berjuang untuk dapat terlihat tenang. Padahal wajahnya sudah memerah aja karena malu.   Mendengar ucapan Renata, Ryan jadi salah tingkah. Tapi hatinya gembira. Dia pun berdeham beberapa kali sebelum akhirnya berkata, “Terimakasih.”   *   Sudah tengah malam tetapi Ryan masih terjaga. Ditempat tidur king sizenya dia berguling ke kanan ke kiri, mencoba untuk tidur. Tetapi usahanya nihil. Pikiran Ryan dipenuhi bayangan Renata.   Wanita itu selalu penuh kejutan. Ternyata dia bisa memasak. Ternyata dia bisa mengurus rumah. Dan ternyata dia bisa menceritakan berbagai genre dongeng kepada Rafa. Ryan bertanya – tanya dari mana datangnya keahlian itu?   Setiap dongeng yang diceritakannya selalu tersisip pembelajaran untuk Rafa. Di siang hari cerita dan suasananya tampak santai. Tetapi malam hari ini jauh berbeda. Lebih terkesan serius. Namun tetap saja mengasyikan.   Ryan menyadari bahwa benar yang dikatakan Jimmy tentang Renata. Wanita itu cerdas. Dia bersikap dewasa dan penuh perhatian. Dia bisa merawat dan mendidik. Dia bisa menjadi teman, kakak dan mungkin seorang ibu. Terlihat dia sangat menyayangi dan memanjakan Rafa. Diam - diam Ryan ingin juga diperlakukan seperti itu. Ya Tuhan, pikiran Ryan mulai berkelana jauh.   Semua hal tentang Renata itu sempurna. Ryan tidak perlu mencemaskan apapun. Renata tidak hanya cantik, tetapi juga baik hati. Terlepas dari tanggung jawab yang harus dilakukannya, Ryan merasa wanita itu memiliki hati yang tulus. Berkat ketulusan dan keramahan Renata, semua orang dirumah ini begitu menyukainya. Mungkin itulah alasan mengapa Ryan diam – diam mengagumi Renata.   Sekalipun memang demikian, apa yang dia harapkan?   Ryan mendesah. Dikepalanya seperti ada bisikan yang mengingatkannya tentang perbedaan antara dirinya dan Renata. Sial! Wanita itu masih muda dan cantik. Sementara dirinya, dia duda beranak satu. Dan sekarang Renata bekerja untuknya. Dia adalah bos wanita itu. Tidak mungkin dia terlibat dengan Renata dalam hubungan pria dan wanita. Itu mustahil.   Ryan berpikir kepribadian Renata yang seperti itu pasti membuat dirinya banyak digilai para lelaki. Siapa yang tidak menginginkan wanita yang cantik, cerdas serta baik hati? Dan tentu saja pemikiran itu secara langsung memberi tahu Ryan bahwa sudah pasti Renata telah memiliki kekasih.   Mengapa repot - repot memikirkan Renata?   Tidak ada gunanya sekarang apabila terus membiarkan dirinya dikuasi bayangan Renata. Demikian putus Ryan. Berbaring miring dan memeluk bantal mencoba mencari posisi nyaman untuk tidur. Ryan segera menutup matanya. Ya dia harus tidur untuk mengehentikan pemikiran yang tidak – tidak tentang dirinya, wanita itu dan keluarga.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN