Bab 10. Bertanggung jawab

1387 Kata
Mentari pagi belum terbit tetapi Ryan sudah terbangun karena tiba – tiba perutnya terasa melilit. Segera dia berlari ke toilet. Selama beberapa menit lamanya dia berada disitu. Keluar dari sana, Ryan berjalan perlahan seperti kura – kura.   Perutnya masih terasa tidak enak.  Ia berasumi barangkali penyebab perutnya mules adalah karena memakan makanan pedas semalam.   Tidak berselang lama, Ryan kembali ke toilet lagi. Terhitung sudah empat kali dia bolak – balik ditempat itu. Tubuhnya pun semakin lemas tak bertenaga.   Susah payah ia menarik kakinya menuju ke tempat tidur. Diliriknya jam diatas nakas. Masih jam 5 subuh. "Apa bi Marni sudah bangun ?" gumam Ryan. "Lebih baik coba ditelpon." Perlahan - lahan Ryan mengambil gagang telepon yang berada di atas nakas lalu menelpon ke dapur.  * Melakukan tugas menyiapkan makanan, Renata bangun pagi – pagi sekali. Untung dia sudah terbiasa bangun pagi. Renata langsung ke dapur dan memulai aktifitas memasaknya. Pertama – tama ia memasak nasi. Kemudian ia mulai menyiapkan bahan makanan yang akan dipakainya untuk membuat omlet dan bakso ikan tenggiri kuah kecap.   Sementara menyiapkan bahan makanan, telepon didapur berbunyi.   “Selamat pagi,” sapa Renata begitu dia mengangkat gagang telepon itu. “Ini dengan Renata. Ada yang bisa saya bantu?”   “Bi Marni mana ? Suruh bi Marni membawakan obat diare ke kamar saya.” Suara Ryan terdengar parau. “Bapak sakit?”tanya Renata khawatir. “Jangan banyak tanya. Lakukan saja apa saya suruh.”  Tut... Panggilan telepon langsung diputuskan Ryan. "Astaga orang ini..." gumam Renata keheranan dengan sikap Ryan. Renata kemudian beranjak, melangkahkan kaki menemui Bi Marni yang berada diruang tamu sementara membersihkan ruangan itu. “Bi, tadi pak Ryan telpon suruh bibi bawain obat diare.”   “Tuan sakit?” tanya  bi Marni.   “Sepertinya bi. Tapi kalau pak Ryan mau minum obat, perutnya harus diisi dulu. Bi, gimana kalau bibi siapin obatnya dan saya akan membuat bubur. Nggak lama kok. Paling dua puluh  menitan. Obat sama makanannya biar nanti saya yang bawa.”   “Tapi non, kalau tuan nyuruh bibi yang bawain obatnya, sebaiknya bibi yang bawa. Jangan nona.”tolak bi Marni.   “Enggak  apa – apa bi. Bibi lupa ya, saya ini kan perawat bi. Biar sekalian saya cek keadaan pak Ryan. Ya…” Bi Marni pasrah karena yang dikatakan Renata benar. Dia seorang perawat jadi di bisa sekalian memeriksa keadaan tuannya.   "Iya deh non."     Dua puluh menit kemudian, Renata meletakkan piring berisi bubur dan telur rebus, segelas air putih dan obat diare diatas nampan lalu membawanya kekamar Ryan.     Renata mengetuk pintu dengan singkat.Tanpa menunggu jawaban dari dalam, ia langsung membuka pintu kamar Ryan.     Ryan berbaring terlentang. Tangan kanannya diletakkannya diatas dahinya. Masih memejamkan matanya Ryan bertanya, “Kenapa baru datang bi? Saya sudah cukup lama menahan sakit perut ini. Kenapa bibi lama datangnya? Bibi sudah mulai pikun ya?”Masih sempat - sempatnya pria itu mengomel. “Maaf pak. Saya menunggu buburnya masak dulu baru saya kesini. Perut bapak sakit sekali ya?” tanya Renata.   Ryan  kemudian membuka matanya sedikit. Betapa terkejutnya dia saat mengetahui bahwa yang datang membawakan obat untuknya bukannya bi Marni melainkan Renata. “Kenapa kamu disini?”     Renata tersenyum, senyum lembut yang bisa menenangkan.  “Saya membawakan obat dan bubur untuk bapak. Gimana keadaaan bapak ?”     Tiba - tiba Ryan merasa tidak bertenaga untuk banyak bicara banyak, komplain ini itu. Padahal biasanya siapa orang yang disuruhnya, orang itulah yang harus mengerjakan perintahnya. Tapi kali ini Ryan bungkam. Tidak protes sama sekali. Selain karena perutnya semakin terasa melilit, hatinya juga riang gembira karena kehadiran Renata. “Perut saya mules. Saya rasa saya terkena diare. Sejak subuh sudah beberapa kali bolak – balik toilet.” ucap Ryan menjelaskan keadaannya.   “Astaga.” ucap Renata prihatin. Kemudian ia meletakkan nampan diatas nakas. “Baiklah, sekarang duduklah sebentar pak. Biar saya bantu.”     Ryan menggeleng. “Tidak perlu. Kamu tidak perlu membantu saya. Saya bisa sendiri.” Ryan sok kuat. “Harus pak. Saya harus bantuin bapak karena bapak kelihatan lemah.” kata Renata bersikukuh. “Mungkin bapak lupa kalau saya ini seorang perawat. Lagi pula saya pikir sayalah penyebab bapak terkena diare. Mungkin karena bapak memakan makanan semalam yang kepedesan makanya bapak jadi sakit. Jadi sudah seharusnya saya bertanggung jawab merawat dan mengurus bapak. Please, ijinkan saya membantu.” Sesaat Ryan menatap Renata. Wajah wanita itu yang penuh permohonan dan dilapisi perasaan bersalah seolah menghipnotis Ryan. Akhirnya dia mengijinkan. “Baiklah.” ucap Ryan.   Dengan hati – hati Renata membantu Ryan duduk. Dia menyusun beberapa bantal agar Ryan bisa bersandar dengan nyaman dibantal itu.   “Bapak harus mengisi perut terlebih dahulu sebelum minum obat.” Renata kemudian mengambil piring yang berisi bubur.     “Biar saya suapi bapak.” Renata kemudian menarik sebuah kursi dan meletakkannya didekat tempat tidur Ryan. Setelah itu dia mengambil piring berisi bubur dan mengambil sesendok lalu meniupnya beberapa kali . Setelah dirasa cukup dingin, sendok tersebut diarahkannya ke mulut Ryan. "Buka mulutnya pak. Aaaa..." pinta Renata.    Ryan segera membuka mulutnya, menyambut bubur itu.   Pelan – pelan Renata menyuapi Ryan. Setelah makan beberapa sendok, Ryan mengangkat tangannya.   “Sudah cukup Saya tidak mau lagi.”     “Oke.” ucap Renata mengerti. “Nah sekarang minum obatnya ya.”   “Mana obatnya?”   Renata hendak memberikan obatnya ke tangan Ryan, tetapi Ryan langsung membuka mulutnya. Dia ingin sedikit bermanja - manja pada Renata. Nggak apa - apa kan? Renata memandang keheranan pada Ryan. Astaga... Obat juga harus disuapin? Kok kayak ngurusin Rafa ya? Pada akhirnya Renatapun memasukkan obat itu kemulut Ryan. Pria itu menelan obat tablet itu dengan cepat. Setelah itu ia meneguk segelas air putih yang diberikan Renata padanya.   “Terima kasih banyak.” ucap Ryan sungguh – sungguh.  Renata tersenyum menandakan bahwa ia menerima ucapan terima kasih Ryan.  “Saya boleh nanya nggak sama kamu?” ucap Ryan masih dengan suara paraunya.     “Boleh pak .” Renata mengambil gelas dari tangan Ryan dan meletakkannya diatas nakas.     “Sudah berapa lama kamu menjadi perawat?”     “4 tahun, pak.” jawab Renata singkat.     “Mengapa nggak bekerja dirumah sakit?”     “Sudah pernah pak. Sebelum jadi nurse homecare saya bekerja di rumah sakit. Tapi bekerja disana hanya 3 tahun setelah itu saya berhenti." "Kenapa?" tanya Ryan mulai kepo. Meski dalam keadaan tubuh yang tidak mengenakakan, tetapi entah kenapa Ryan penasaran dengan kehidupan Renata. "Ceritanya panjang.”      “ Hari ini saya memiliki banyak waktu untuk mendengarkan cerita kamu yang panjang itu. Hari ini saya ijin  nggak masuk kantor.”   Ryan ingin mendengar cerita hidup Renata. Ia ingin lebih banyak tahu semua hal tentang wanita itu. Ia ingin tahu tentang pekerjaannya, keluarganya dan yang lebih utama adalah dia ingin tahu tentang kehidupan pribadi Renata.     “Tapi saya rasa ini bukan saat yang tepat, pak.” kata Renata.       “Bapak keliatan lemah. Bapak harus beristirahat. Cobalah untuk tidur. Saya akan membawa piring kotor ini ke dapur, memasak beberapa makanan, memastikan Rafa sarapan dan menyuruhnya mandi air hangat. Dia sudah tidak panas lagi. Jadi dia sudah bisa mandi.” Renata melirik jam diatas nakas.   “Kira – kira 2 jam lagi saya akan kembali kesini dan memeriksa keadaan bapak.” lanjut Reanta sebelum pergi meninggalkan Ryan. Renata masih enggan menceritakan panjang lebar tentang kehidupannya kepada Ryan. Memangnya mereka punya hubungan apa? Mereka hanyalah sebatas bos dan pekerja. Jadi tidak ada kewajiban untuk saling terbuka perihal urusan pribadi. Lagipula berada didekat Ryan membuat Renata gugup setengah mati. Bagaimanapun Ryan adalah pria dewasa yang tampan serta mempesona. Bisa - bisa ia tergoda. Ya Allah... Kembali ke dapur, Renata melanjutkan kegiatan memasaknya. Selama satu jam lebih ia berkutat dengan pekerjaannya didapur.   Setelah selesai memasak, Renata pergi ke kamar Rafa dan membangunkan anak itu. Setelah Rafa bangun, Renata membantu anak itu untuk membersihkan diri. Menggunakan air hangat, Renata membasuh tubuh anak itu hingga bersih dan wangi. Tidak lama kemudian mereka berdua turun dan menuju meja makan. Seperti biasa, Renata menyuapi Rafa dengan sabar. Selesai makan Renata membersihkan piring kotor. Setelah itu dia berkata pada Rafa bahwa dia akan ke kamarnya sebentar. Disana Renata mandi secepat kilat lalu mengganti pakaian dengan kemeja motif kotak - kotak dan celana panjang berbahan jins. Dia juga menyisir rambutnya hingga rapi dan membuuhi wajahnya dengan bedak. Turun lagi ke dapur, Renata menyiapkan makanan berupa nasi, omlet dan bakso ikang tenggiri. Ditaruhnya makanan itu diatas nampan kemudian Renata melangkahkan kaki menuju kamar Ryan. Rafa ikut serta dengannya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN