Bab 11. Seperti sebuah keluarga yang harmonis

1208 Kata
Dalam perjalanan ke kamar Ryan, Rafa bertanya kenapa papinya tidak ikut sarapan bersama mereka. Lalu kenapa Renata membawa makanan ke kamar papinya. Renata lalu memberitahu Rafa kalau papinya sedang sakit. Sebelum masuk ke kamar, Renata mengetuk pintu beberapa kali. Setelah mendengar jawaban masuk dari dalam kamar, barulah dia membuka pintu dan masuk kesana. Renata dan Rafa pun langsung berjalan menghampiri Ryan. “Gimana keadaan bapak?” tanya Renata saat dia melihat Ryan tidak tidur.    “Terasa lebih baik. Mulesnya udah hilang jadi udah nggak bolak - balik toilet. Kenapa kamu lama datagnnya? Katanya cuma 2 jam. Ini sudah hampir 3 jam." keluh Ryan.   Heh... Jangan bilang Ryan nungguin Renata.   "Maaf pak, tadi saya mengurus Rafa dulu. Mandiin dia sama suapin dia makan. Terus saya juga membersihkan diri. Badan udah keringetan pas habis masak jadi saya mandi dulu sebelum kesini. Makanya agak lama. Maaf ya." Renata memberi penjelsanan.   "Hemmm..."   Rafa kemudian naik ke tempat tidur dan duduk disamping kanan papinya  itu. “Papi, papi sakit apa ?” tanya Rafa sambil meletakkan tangannya didahi Ryan. Anak itu tampak mengkhawatirkan papinya. Memang Renata sudah memberitahu Rafa kalau papinya sakit. Tapi tidak menjelaskannya secara spesifik.   “Papi sakit perut sayang bukan demam.” jawab Ryan. "Tapi makasih ya, Rafa perhatiin papi."    Rafa menarik tangannya dari dahi Ryan. “Kenapa papi sakit pelut ? Memang papi nggak makan? Kata kak Lenata kalau nggak makan nanti bisa sakit pelut.”    Ryan tersenyum. “Iya. Kalau ngga makan nanti bisa sakit perut. Kalau kelebihan makan juga bisa sakit.”    “Ooo… Memang papi kelebihan makan?” tanya Rafa dengan polosnya.   Ryan terkekeh. Begitu juga dengan Renata. "Mungkin. Semalam papi kelewat banyak makannya makanya sakit perut."   "Oh. Hihihi..." Rafa terkikik. "Papi lakus sih." lanjutnya.   Renata heran terhadap Rafa. Bisanya - bisanya anak itu berkata begitu pada papinya. Tapi nggak apa - apalah. Karena celoten anak itu kini dia dan Ryan jadi tertawa.  "Oh ya, tadi kan bapak hanya makan bubur. Sekarang sebaiknya isi perut bapak dengan nasi. Ini saya bawakan nasi sama omlet dan bakso ikan tenggir." ujar Renata.   Dia kemudian mengambil piring berisi makanan itu dan hendak memberikannya pada Ryan. Pikir Renata bos nya itu sudah cukup kuat untuk makan sendiri. Tapi Ryan buru - buru bersuaara, "Suapin saya. Tangan saya masih nggak kuat pegang piringnya."   Alaa... Alesan... Bilang aja mau disuapin Renata.   "Oh," Renata cukup kaget. Tapi pada akhirnya dia percaya saja apa yang dikatakan Ryan. "Baiklah, saya akan suapin bapak."   Renata bermaksud duduk kembali dikursi yang diletakkannya didekat tempat tidur tapi kemudian Ryan menahan lengan nya. “Duduk saja disini." ucap Ryan sambil melirik ke tepi tempat tidur.     Begitu merasakan sentuhan tangan Ryan dikulitnya, tubuh Renata tesentak kaget, merasa seperti ada sengatan listrik menjalari lengannya. Renata juga merasa jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Segera ia menarik tangannya dari genggaman Ryan.   “Iya - iya, pak.” ucap Renata gugup.   Eh kok jawab iya sih?   Dengan ragu - ragu Renata  duduk di tepi tempat tidur. Kemudian dia mengambil makanan dengan sendok lalu mulai  menyuapi Ryan.   “Ih papi kayak anak kecil disuapin.”  ucap Rafa. Anak itu memerhatikan adegan suap menyuapi Ryan dan Renata.   Renata kikuk mendengar ucapan Rafa sementara Ryan bersikap acuh tak acuh. “Biarin. Kan papi lagi sakit.” kata Ryan setelah menelan makanannya.   “Masa Rafa aja yang disuapin kalau lagi sakit. Papi juga mau. Kalau tante Renata suapin papi, papi bisa cepat sembuh.”  lanjut Ryan.   Renata semakin kikuk dan wajahnya memerah karena malu.     Rafa cekikikan. “Hihihi… tapi malu, papi sudah tua masih disuapin.”  ledek Rafa.   Bisa juga anak itu meledek.   Kikuk Renata hilang. Kini dia ikut - ikutan cekikikan seperti Rafa. Sementara Ryan berubah kesal.   “Apa ? Kata siapa papi udah tua ? Papi masih muda kok.”   seru Ryan sedikit kesal. Memandangi Renata, Ryan mengatakannya lagi. "Saya masih muda kok." Dari segi usia, dibanding dengan usia Renata memang jelas kalau Ryan sudah tua. Usianya kan sudah 37 tahun.Tapi Ryan tahu bahwa jiwanya masih muda. Dia bisa bersikap dan berperilaku layaknya anak muda. Belum lagi soal penampilannya. Gini - gini Ryan merasa dia masih cukup menarik. Punya tubuh atletis, wajah yang tampan dan selalu berpenampilan modis. Layak disebut muda kan? Dalam pergaualannya pun, Ryan banyak memiliki teman yang lebih muda darinya. Memang bukanlah teman akrab, tapi paling tidak dari mereka Ryan bisa belajar banyak hal baru yang lagi ngtrend zaman sekarang. Ryan merasa tidak pernah ketinggalan zaman.  Jadi dia tidak terima dikatai tua.   "Iya - iya," Renata merespon. "Umur saya memang udah kepala tiga, tapi jiwa saya muda." Ryan masih berusaha menjelaskan pada Renata. "Coba deh kamu liat wajah saya. Masih keliatan muda kan?" "Astaga, jangan baper atuh pak. Rafa kan cuma bercanda. Iya kan sayang?' celetuk Renata sambil memandangi Rafa. Anak itu hanya menangguk. Tidak bisa menjawab karena mulutnya masih tertawa. Jahil banget sih ini anak.. "Saya nggak baper." kilah Ryan. "Saya berkata yang sebenarnya kok. Makanya sini kamu perhatiin wajah saya." Ryan terdengar memaksa sekali. Renatapun pasrah. Dia menuruti ucapan Ryan. Dipandanginya wajah pria itu. Dan seperti biasa, Renata jadi tidak berkedip. Hadew...   Meskipun sedang kurang sehat, tidak mandi dan rambut acak - acakan, nyatanya ketampanan Ryan tidak berkurang sama sekali. Ryan masih bisa membuat Renata klepek - klepek dengan keadaan seperti itu.   Agar Ryan tidak tahu kalau ia tidak berkedip karena kagum saat memandanginya, tiba - tiba Renata tertawa. Ryan semakin kesal. "Sudah, saya nggak mau makan lagi." kata Ryan dengan nada merajuk. Ini mah bukan lagi jiwa muda, melainkan kenakak - kanakan. Tapi Ryan tidak peduli.   "Kok ngambek sih pak ? Jangan ngambek atuh. Kan tadi udah dibilangin kalau Rafa cuma becanda." ucap Renata membujuk Ryan. "Tapi kamu ketawain saya, memang ada yang lucu?" "Enggak kok pak. Wajah bapak nggak lucu tapi ganteng. Saya sampai nggak berk." Tiaba - tiba Renata menghentikan bicaranya. Aduh kok ngomongnya ngelantur sih?    "Kamu sampai nggak apa?" tanya Ryan penasaran.   "Hehe.. bukan apa - apa kok pak." Renata enggan jujur. Kan malu!   "Jangan ngomong sepotong - sepotong. Kamu sengaja mau buat saya penasaran ? Sengaja mau buat saya kesal?" Ryan jadi mengomel. "Eh, enggak pak. Suer." "Ya sudah cepatan bilang, Kamu sampai nggak apa ?"   Tidak punya pilihan lain, akhirnya Renata melanjutkan ucapannya. Kasihan juga melihat wajah merajuk Ryan. Terpaksa Renata jujur tentang kelakuannya yang memalukan. "Saya sampai nggak berkedip liatin bapak." suara Renata terdengar pelan dan wajahnya langsung berubah merah semerah kepiting rebus.   Hilang sudah kekesalan Ryan. Kini dia jadi berbunga - bunga. Rasa bahagia langsung merayapi hatinya. Ryan berasumsi Renata menganguminya. Atau mungkin menyukainya. Nah, jadi baper lagi kan dia.   Perasaan bahagia karena bersenda gurau seperti ini tidak pernah dirasakann Ryan saat ia bersama mendiang istrinya. Helen Belnova adalah wanita yang egois, hanya mementingkan dirinya sendiri. Tidak sekalipun ia memperhatikan keluarga. Sewaktu pacaran saja perempuan itu penuh perhatian. Tapi saat menikah dan punya anak, sikapnya jadi berubah seratus persen. Sampai ia meninggalpun tidak pernah ditunjukannya kasih sayang dan perhatian kepada Ryan dan Rafa putra mereka.     Sangat jauh berbeda dengan Renata. Mesik Renata hanyalah seorang nurse yang bertugas untuk menjada Rafa tapi Ryan merasa sangat bahagia akan kehadiran Renata dirumahnya. Mereka bertiga tampak seperti sebuah keluarga yang harmonis. Ryan begitu tersentuh karena dia sangat mendambakan moment - moment seperti ini. Tiba - tiba otak Ryan jadi berpikir. Haruskah dia membangun keluarga bersama Renata?                  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN