Renata sibuk memasak didapur. Untung Rafa berkata dia ingin menemui neneknya, jadi Renata memiliki banyak waktu untuk berkreasi didapur.
Bi Marni datang membantu Renata. Oleh karena itu Renata tidak hanya memasak makanan tetapi dia juga membuat cup cake.
Ditengah kesibukkan memasak, Renata bertanya pada bi Marni. “Mamanya pak Ryan sering kemari bi? Barusan beliau datang soalnya.”
“Oh, nyonya Terry ada ya.”
“Iya bi.”
“Nyonya Terry sering datang kesini untuk bantu jagain den Rafa. Biasanya sebulan sekali datangnya terus biasanya juga nyonya Terry nginap disini beberapa hari.” Bi Marni memberitahu.
“Oh.”
“Oh ya, kalau makanan yang disukai mamanya pak Ryan apa bi?” tanya Renata.
“Nyonya Terry adalah manusia pemakan apa saja" kata Bi Marni sambil tersenyum. "Begitu juga dengan tuan Ryan, Nona Riyana dan den Rafa. Semua mereka adalah manusia pemakan apa saja. Eh, kecuali sayur pete dan brokoli. ” ucap Bi Marni kini sambil tertawa.
Reanta balas ikut sumeringah. “Ngomong – ngomong, nona Riyana itu siapa bi ?” tanyanya lagi.
“Dia adiknya tuan Ryan. Kalau non Riyana jarang kesini soalnya sibuk kuliah.”
“Ooh.”
Kegiatan memasak Renata dan bi Marni diisi dengan oborlan ringan. Kemudian setelah selesai memasak ayam kecap, rendang ayam, ikan goreng, telur bacem dan sayur kangkung terlur puyuh, Renata melanjutkan kegiatannya didapur dengan membuat red velvet cupcake dan cupcake brownis panggang.
Sementara memanggang cupcake, terlihat Terry menghampiri Renata dan bi Marni didapur.
“Kalian masak apa?” tanyanya.
“Eh, nyonya.” jawab bi Marni. “Ini non Renata lagi masak cupcake nya.”
“Oh ya ? Kamu bisa masak?” tanya Terry penasaran.
“Sedikit bu.” jawab Renata merendah.
“Enggak kok. Non Rena jago masak. Bukan cuma masak makanan aja, tapi kue juga Nya.Semua makanan ini dia yang masak loh.” kata Bi Marni sambil menunjuk makanan yang terletak diatas meja. “Soal rasa jangan ditanya, semuanya lezat..”
“Wah hebat kamu. Sudah cantik, baik pintar masak lagi. Beruntung banget punya istri kayak kamu.”
Renata tidak bisa membalas ucapan Terry. Dia hanya bisa menyugingkan senyum kikuk.
“Tapi ini ngga kepedesan kan?” tanya Terry pada Renata.
“Enggak bu. Saya nggak taruh cabe rawit lagi di makanannya.” Hal itu sudah diingatnya baik – baik karena dia takut Ryan sakit perut lagi kalau makan makanan pedas.
“Coba saya cicipi makanannya.”
“Wah… makanannya enak. Hebat kamu!” Terry terus memuji Renata.
Renata bersemu merah. "Terimakasih bu." ujarnya tulus.
“Makanannya saya atur saja ya dimeja makan." celetuk bi Marni.
“Iya. Atur aja bi. Saya bantuin bibi.” ucap Terry.
Bi Marni dan Terry mengangkat makanan – makanan itu dengan nampan dan mengaturnya dimeja makanan. Sementara Renaata mengangkat cupcake yang dipanggangnya karena cupcake itu sudah matang.
Tiba – tiba bel rumah berbunyi.
"Saya ke depan dulu ya Nya, mau cek siapa yang datang." kata Bi Marni pada Terry.
*
“Pantes baunya harum, banyak makanan enak toh. Kita datang tepat waktu ya Na.”ucap Jimmy pada Riyana. Kedua orang itu baru saja tiba dirumah Ryan.
“Ya ampun.. Kak Jimmy nggak berubah – berubah ya. Nggak bisa liat makanan langsung ngiler gitu. Haha...” celetuk Riyana
“Jimmy, Nana, kalian barengan kemarinya?” tanya Terry.
“Enggak kok, ma. Hanya kebetulan saja kok kita nyampe disini bersamaan.” ucap Riyana.
“Iya tante. Eh, ngomong – ngomong lama nggak ketemu, tante makin cantik saja.” puji Jimmy pada Terry.
“Kamu bisa aja, Jim.” ujar Terry tersipu malu.
"Kalau muji begitu pasti ada maunya itu ma." ucap Riyana sambil tertawa.
“Sembarangan! Aku cuma mau minta jatah makan double aja kok tan soalnya makanan nya keliatan enak. Hihihiii..." Jimmy bergurau.
"Nah ketauan kan maunya. Hahahaa..." seru Riyana.
"Sudah ngomongnya, ayo sekarang duduk." suruh Terry.
Sambil menarik sebuah kursi Jimmy bertanya, "Ngomong - ngomong Ryan dimana tante?”
“Disini. Ada apa kamu kemari?” tanya Ryan saat ia memasuki ruangan bersama dengan Rafa. “Apa ada masalah dikantor?”
“Enggak. Aku hanya ingin jengukkin kamu. Katanya tadi ijin nggak masuk kantor karena sakit. Jadi aku kemari deh." ujar Jimmy.
“Sudah jangan banyak ngomong lagi." Terry menginterupsi. "Sekarang waktunya makan bukan ngomong.”
Semua orang mengambil posisi, menarik kursi dan duduk melingkari meja makan. Ryan duduk di kursi kepala keluarga, Riyana duduk bersebelahan dengan Jimmy dan Terry duduk bersebelahan dengan Rafa.
Renata datang membawa cupcake ke meja makan. "Permisi ya..." kata Renata lalu segera ia meletakkan piring berisi cupcake.
Setelah itu dia hendak meninggalkan ruang makan. Renata merasa malu dan tidak enak hati bergabung bersama keluarga Ryan dimeja makan karena disitu ada mamanya, adiknya dan juga ada Jimmy. Meja makan jadi ramai, Renata jadi malu.
Tetapi baru saja Renata ingin pergi, suara bariton Ryan menghentikan langkah kakinya. “Mau kemana kamu? Sana duduk disebelah Rafa.”
"Tapi pak..."
"Jangan membantah. Duduk disebelah Rafa sana."
"Ayo Ren duduk disamping Rafa." pinta Terry dengan suara lembut.
Renata pun menuruti kata - kata wanita paruh baya itu.
“Ayo ambil makanannya. Jangan malu – malu.” ujar Terry.
Dan semuanya langsung mengambil makakan. Mereka terlihat makan dengan lahap.
“Siapa yang masak makanan ini? Semuanya enak.” tanya Riyana setelah menelan makanan dimulutnya.
“Setuju Na. Semua makanan terasa sangat lezat.” timpal Jimmy.
Riyana terkekeh. “Enak sih enak kak, tapi makannya jangan kayak dikejar anjing gitu. Pelan - pelan aja makannya."
“Habisnya makanannya enak. Aku juga seharian ini cuma makan tadi pagi makanya ini sedikit kelaparan.” kata Jimmy disela – sela mengunyah makanannya.
“Semua makanan ini dimasak oleh Renata.” ujar Terry.
“Ini bener kamu yang masak?” tanya Jimmy.
Renata hanya mengangguk.
“Wah hebat kamu. Sudah cantik pintar masak pula. Beruntung banget deh punya istri kayak kamu. Iya nggak tan ?” celetuk Jimmy.
“Pasti. Dimana lagi bisa nemu perempuan cantik, baik hati, pintar ngurus anak dan pintar masak. Beruntung sekali pria yang menjadikan kamu istri.” ujar Terry sambil memandangi Renata.
Renata merasakan wajahnya panas karena tersipu malu.
Tiba - tiba Terry bertanya pada Renata, “Kamu sudah pacar belum?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut wanita paruh baya itu, seolah ia tidak peduli dengan yang namanya urusan pribadi. Justru dia sengaja bertanya seperti itu untuk menggali informasi tentang Renata.
Selama ini Terry berupaya keras untuk mencarikan wanita yang bisa dijodohkan dengan Ryan. Jadi masalah bertanya soal seluk - beluk, bibit – bebet – bobot bukan hal baru lagi. Terry sudah keseringan dan malah terbiasa melakukan itu.
Dulu Terry membiarkan Ryan memilih sendiri wanita yang ingin dijadikannya pendamping hidup. Tetapi ternyata pilihan putranya itu bukan pilihan yang tepat. Tidak perlu menunggu Ryan bercerita tentang masalah rumah tangganya, Terry sudah dapat melihat situasi keluarga putranya itu. Sejak awal pernikahan bahkan sampai Rafa lahir, tidak ada keharmonisan antara Ryan dan Helen.
Helen tipe wanita egois. Dia memang cantik, tapi hanya cantik dari luarnya saja. Kasihan Ryan yang dibutakkan oleh cinta.
Terry tidak ingin hal yang sama terjadi. Meski dia selalu mendesak Ryan untuk menikah lagi, akan tetapi Terry selalu memastikan siapa wanita yang akan dikenalkannya pada putranya itu, meskipun hingga sekarang menurut Ryan, tidak ada wanita yang sesuai harapannya.
Renata terkejut mendengar petanyaan Terry. Sementara yang lain tampak tegang menantikan jawaban dari Renata. Tak terkecuali Ryan. Pria itu tampak memandangi Renata dengan saksama, sampai - sampai tanpa sadar dia menghentikan aktifitas makannya.
Seulas senyum mengembang dibibir Renata, berharap senyuman itu bisa membuat suasana lebih santai. “Saya punya pacar,” jawab Renata. “tapi dulu. Hehe..” Renata sedikit bercanda.
“Kalau sekarang?” tanya Ryan langsung.
Semua mata langsung beralih menatap Ryan lekat – lekat.
“Kalau sekarang nggak ada.” Renata menunduk seketika.
Sementara Ryan menunjukan ekspresi lega.
“Kamu kayak kepo banget Yan, memang kalau Renata nggak punya pacar kenapa? Kamu mau jadiin Renata pacar kamu?” Pura - pura bertanya padahal sebenarnya Terry memancing Ryan.
“Mama bicara apa sih ? Aku cuma pengen tahu aja. Kan sekarang dia bekerja disini, takut kalau punya pacar entar pacarnya dibawa kesini." Ryan mencari alasan.
Alasan apa itu?
"Sudah jangan ngomong lagi. Lanjutin makan malamnya dengan tenang.” Nada memerintah terdengar saat Ryan mengucapkan kalimat itu.
Dan semua orang menuruti kata – kata Ryan. Mereka menikmati hidangan makan malam tanpa berbicara apapun lagi. Setelah makan malam selesai barulah Terry mengeluarkan suaranya.
“Ren, kamu tinggalnya dimana?”
“Di Jakarta saya nge-kos bu. Kalau orang tua saya tinggalnya di Bandung.”
“Boleh tahu soal keluarga kamu nggak?”
Sebenarnya Renata sedikit risih ditanyakan hal pribadi. Tapi pikiran positif masih cenderung menguasai otaknya, jadi Renata pun berbagi cerita tentang kehidupan pribadinya.
"Ayah saya pensiunan PNS di Dinas kesehatan. Kalau bunda ibu rumah tangga. Saya punya adik cowok namanya Harley."
Semua orang mendengarkan cerita Renata dengan saksama. Tiba - tiba ponsel Riyana berdering. "Permisi sebentar, aku mau angkat telpon ini."
Riyana pergi meninggalkan meja makan.
“Onty Nana Lafa ikut.” seru Rafa lalu anak itu langsung bangkit dari duduknya menyusul Riyana.
“Saya juga permisi.” ucap Renata. Dia mengikuti langkah Rafa.
“Yan, kenapa sih kamu?” tanya Terry.
“Kenapa apanya ?”
“Kamu kayak kepo banget soal Renata. Apa jangan – jangan kamu sudah mulai suka sama dia?"
“Jangan mengada – ada ma. Jangan berpikiran yang enggak - enggak. Aku nggak suka sama Renata.” ucap Ryan sedikit kesal. Gimana nggak kesal ? Dalam beberapa jam ini yang dibahas mamanya hanya itu - itu saja.
"Jangan bohong! Tahu nggak, dari cara kamu liatin Renata, mama yakin kamu sudah mulai ada rasa sama dia."
Ryan mendengus frustasi. "Terserah mama aja. Aku pusing."
Ryan kemudian berdiri. “Jim, ayo ke ruang kerja." ajaknya pada Jimmy.
"Permisi ya tan." ujar Jimmy pada Terry sebelum dia mengikuti langkah Ryan.
Dan Terry pun ditinggal sendirian. Tapi dalam kesendiriannya itu otak Terry mulai menyusun rencana. Jelas dia yakin kalau Ryan berbohong. Dia yakin sebenarnya Ryan sudah mulai menyukai Renata. Itu sebabnya dia berencana tinggal dirumah Ryan selama yang dibutuhkan, sampai Ryan mengakui perasaannya pada Renata.