“Ternyata dia lebih cantik diliat langsung daripada di foto ya.” ucap Jimmy saat dia dan Ryan berada diruang kerja.
“Siapa?” tanya Ryan.
“Renata. Wanita itu ternyata aslinya lebih cantik.”
“Sudah mulai ganjen kamu ya?!” pekik Ryan dengan wajah kesal.
“Lah… Siapa yang ganjen ?” Jimmy keheranan dengan tudingan Ryan. “Aku Cuma muji dia Yan. Lagian apa yang aku bilang juga bener kok. Dia memang cantik.”
Ryan menggertakan gigi. “Sekolahin mata dan mulut kamu biar bisa tahu sopan santun. Supaya nggak mata keranjang dan cerewet!”
Jimmy ternganga.
Apa salahku Tuhan ? Memang dosa kalau muji cewek cantik ?
Wajah Ryan tampak kesal dan Jimmy tidak tahu apa yang membuat bosnya kesal seperti itu.
“Tenang, Yan!” ucap Jimmy. “kamu tahu sendiri kalau aku ini sudah menikah dan sudah sangat bahagia bersama Elma. Sama wanita lain aku cuma muji aja, bukan menyukai.”
Ryan hanya diam. Tetapi wajahnya tidak berubah. Masih saja terlihat kesal.
“Tapi tunggu dulu. Ada apa sama kamu ? Apa jangan – jangan dugaan tante Terry tadi benar. Jangan – jangan kamu sudah punya perasaan sama Renata?” Jimmy mulai berprasangka. “Jangan – jangan kamu cemb…”
“Sembarangan bicara kamu. Makin lama mulut kamu makin cerewet ya. Mau dipecat kamu?”
Bukannya takut atau gelisah, Jimmy malah terkekeh. “Jangan marah - marah dong Yan. Asal kamu tahu aja, aku ngomong begitu bukan tanpa alasan.” Jimmy menjelaskan.
"Jangan kamu pikir hanya mama kamu yang merhatiin kamu. Aku juga tadi memperhatikan kamu. Tadi aku liat kamu terus saja mencuri pandang pada Renata. Lalu saat mama kamu bertanya apakah dia sudah punya pacar, kamu keliatan gelisah menantikan jawaban Renata. Begitu tahu dia tidak punya pacar, kamu langsung keliatan lega. Malah senyum – senyum sendiri. Ngaku aja lah, Yan. Kamu suka kan sama Renata ?”
“Sok tahu kamu.”
“Apa susahnya sih mengaku, Yan ? Kenapa coba nggak mau jujur ? Aku ini temen kamu loh. Diantara teman seharusnya tidak ada rahasia.” ujar Jimmy disertai mimik muka serius.
Ya, pembicaraan ini memang serius.
Ryan mengehembuskan napas keras. Tampaknya semua orang menganggap dia menyukai Renata. Sebenarnya pertanyaan itu terus ditanyakan Ryan pada dirinya sendiri. Apakah dia menyukai Renata?
Ryan tidak yakin.
Dalam hatinya sudah mulai mengagumi Renata. Akan tetapi rasa kagum tak bisa menjadi alasan kuat untuk beranggapan bahwa dia sudah mulai menyukai wanita itu.
Ryan menggeleng. Daripada berbicara hal yang belum diyakini, lebih baik menjawab tidak. “Jangan ngaco Jim. Aku bilang aku nggak suka sama dia, itu berarti aku beneran nggak suka. Kenapa sih kamu nggak percaya ? Apa kamu pikir aku berbohong?”
“Oke – oke.” kata Jimmy cepat. “Aku percaya omongan kamu.” Pura - pura percaya tepatnya.
“Gimana keadaan perusahaan?” tanya Ryan mengalihkan pembicaraan.
“Baik. Semua berjalan lancar sejauh ini.”
"Proyek pembangunan hotel di Timika gimana?"
"Desain hotelnya kan sudah oke. Tinggal kita cari waktu ke Timika untuk urus surat ijin dan lainnya. Disana sih sudah ada yang bantuin, tapi kan tetap saja kamu harus kesana ketemu langsung sama pemerintah disana." ucap Jimmy.
Ryan mengangguk. "Kamu atur saja jadwal keberangkatan kita."
Ryan dan Jimmy pun larut dalam pembicaraan. Tidak lain dan tidak bukan, pembicaraan mereka adalah seputar pekerjaan.
*
Sementara itu, Renata kembali lagi ke meja makan dan membereskan piring - piring kotor. Rafa ikut bersamanya. Tapi karena bertemu Terry, wanita pruh baya itu mengajak Rafa ikut dengannya untuk menonton TV agar dia tidak menganggu pekerjaan Renata.
Terlihat di meja makan masih ada beberapa buah cupcake. Jadi setelah selesai membersihkan piring, Renata membawa cupcake dan dua gelas kopi ke taman samping rumah tempat Riyana berada.
"Hai, Na, boleh aku duduk disini?" tanya Renata.
Riyana menoleh, "Tentu saja boleh."
"Ini buat kamu." kata Renata sambil meletakkan secangkir kopi di depan Riyana.
“Makasih ya. "ucap Riyana tulus lalu pelan - pelan mulai menyesap kopi itu. "Oh ya, boleh aku bertanya sama kamu?"
Renata mengambil posisi duduk di depan Riyana sebelum menjawab, "Boleh dong."
"Soal tagi, sebenarnya aku masih nggak percaya kamu nggak punya pacar.” kata Riyana.
Menilik dari situasi zaman modern sekarang ini, sangat tidak mungkin wanita cantik seperti Renata masih saja jomblo. Masakan tidak ada pria yang tertarik padanya. Benar – benar tidak mungkin. Kalau Renata tinggal di pelosok desa, barangkali mungkin dia kesulitan bertemu pria. Tapi dia kan sekarang tinggal di ibu kota, jelas tidak mungkin kesulitan bertemu pria. Dan jelas sangat tidak mungkin tidak ada yang menyukai Renata.
Sebab itu Riyana tidak percaya.
“Masa cewek secantik kamu masih saja jomblo, Ren. Serius dong1 Kamu punya kan?”
“Aku serius. Beneran nggak punya pacar sekarang.” ucap Renata setelah menyesap kopinya.
“Kenapa?” tanya Riyana.
“Bukan berarti nggak ada yang suka sama aku ya.”
Dulu sewaktu di bekerja dirumah sakit, ada beberapa pria yang suka padanya. Ada seorang dokter dan ada juga rekan nurse nya yang menyukai Renata. Tetapi Renata menolak dengan halus. Mereka hanya dianggapnya sebagai teman. Tidak ada rasa suka apalagi cinta dihati Renata untuk mereka.
“Untuk sekarang sih, aku nggak mikirin pacaran karena aku masih mau fokus bekerja biar bisa mendapatkan uang. Hehe…”
Semenjak Renata bekerja, dia bertekad untuk membantu kedua orang tuanya menyekolahkan adiknya, Harley. Saat Renata kuliah, ayahnya masih aktif sebagai pegawai negeri sipil. Tetapi saat adiknya yang kuliah, ayahnya sudah pensiun. Karena itu Renata berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia harus membantu biaya kuliah adiknya.
“Kalau begitu kenapa nggak kerja dirumah sakit?”
“Sudah pernah kok. Aku kerja di rumah sakit selama 3 tahun, tapi kemudian resign.”
“Kenapa?” tanya Riyana penasaran.
“Banyak alasannya. Pertama karena kontrak sudah selesai dan aku nggak mau memperpanjangnya lagi karena aku nyoba jadi perawat homecare. Kedua soal ekonomi. Pendapatan sebagai perawat dirumah sakit dan perawat homecare itu beda, lebih banyak perawat homecare sih. Ketiga soal waktu.”
Renata dengan mudahnya bercerita tentang kehidupan pribadinya pada Riyana. Barangkali karena perbedaan umur mereka yang tidak jauh, lalu sikap dan sifat mereka yang juga mirip menjadikan Renata nyaman berbicara dengan Riyana.
Renata memang mudah bergaul. Tetapi terlebih dahulu dia menilai karakter seseorang yang bisa dijadikan teman. Dia tidak mau salah memilih teman apalagi sekarang dia hidup diperantauan. Untuk segala sesuatu yang dilakukan dengan sangat hati – hati.
Sewaktu bekerja dirumah sakit, Renata memiliki seorang teman yang bernama Sarah. Mereka berdua sangat akrab karena mereka sama – sama anak rantau yang menyadari betapa pentingnya menjalin hubungan persahabatan dengan rukun dan damai. Sebisa mungkin mereka berdua selalu berusaha berpikiran dewasa, bertindak bijaksana, saling memahami dan saling menolong satu dengan yang lain.
Tidak ada salahnya menambah sahabat.
Sekarang, Renata jadi ingin bersahabat dengan Riyana karena gadis itu cocok dengannya.
Renata menyesap kopinya lagi. Begitupun Riyana.
"Kopinya enak." kata Riyana.
"Makasih." ujar Renata.
Kembali ke topik pekerjaan, Riyana berkata lagi, “Tapi pekerjaan homecare lebih melelahkan karena hanya sendirian mengurus pasien. Belum lagi kalau tidak ada kecocokan dengan si pasien atau dengan keluarganya.” Riyana mengemukakan pendapatnya.
Renata tersenyum. “Semua pekerjaan mempunyai plus minus dan resikonya masing – masing. Tetapi kalau dijalani dengan rasa syukur dan sukacita, pasti kita nggak akan mengeluh seberat apapun tantangan dan masalah yang akan kita hadapi.”
Riyana mengangguk menyetujui sebelum ia mengambil cupcake dari piring dan memakannya. “Mmm… cupcake nya enak sekali. Demi apapun, ini adalah cup cake terlezat yang pernah aku makan.”
“Kamu terlalu berlebihan.” Renata menggeleng sambil tersenyum.
“Serius kok. Cup cake ini benar – benar enak. Aku sudah beberapa kali makan cupcake yang dibeli dari berbagai toko kue, tapi cup cake ini yang paling enak, menurut aku. Dengan kemampuan memasak kamu yang hebat, kamu bisa buka toko kue Ren.” ucap Riyana serius.
"Kamu bisa aja..."
Riyana terus mengunyah. “Entah kapan lagi aku bisa makan cup cake ini.”
“Ya ampun. Kalau kamu mau tinggal bilang saja, nanti aku buatkan.” Renata menawarkan.
“Beneran?”
“Iya… Simpan saja nomor wa ku biar kita bisa lebih mudah berkomunikasi.”
Keduanya pun saling bertukar nomor wa.
“Eh, tapi kamu serius soal nggak mau mikirin pacaran sekarang ?” Pertanyaan itu seolah memberitahu bahwa Riyana masih tidak yakin dengan keputusan Renata.
Renata terlihat berpikir. Sebenarnya agak ragu juga jika berkata kalau belum ingin pacaran karena apabila suatu saat nanti dia bertemu dengan orang yang dicintai dan mencintainya bagaimana ? Tidak mungkin kan dia tidak akan pacaran.
Bingung menjawab pertanyaan Riyana, Renata malah balik bertanya, “Memangnya kenapa?”
“Padahal aku mau jodohin kamu.” ucap Riyana sambil senyum – senyum.
Diam – diam rupanya gadis itu mempunyai ide cemerlang dalam otaknya.
Wajah Renata berubah serius. “Hah ? Memang kamu mau jodohin aku sama siapa?”
“Sama kakak aku. Hehehehee…” ucap Riyana sambil cekikikan.s
Renata benar – benar syok luar biasa. “Apa?”