Renata benar - benar terkejut!
Apa ? Dia mau menjodohkanku dengan kakaknya ? Pertanyaan itu berputar – putar dikepala Renata.
“Hei, kenapa wajah kamu begitu ? kaget ya ?” tanya Riyana.
“Enggak kok.” jawab Renata pura – pura. Kemudian ia memandangi Riyana dengan tatapan serius. “Coba kasih tahu alasannya apa sampai kamu mau menjodohkan aku dengan kakak kamu?” tanya Renata pensaran.
“Karena aku rasa kak Ryan menyukaimu dan kamu juga menyukainya.”
Sebenarnya Renata gugup dan malu, bertanya – tanya dalam hati apa memang terlihat jelas kalau dia mulai mengagumi Ryan. Ataukah Riyana hanya membual untuk bisa memancing dirinya mengakui perasaannya.
Dengan tetap tenang Renata bertanya lagi. “Kenapa kamu berpikir seperti itu?”
“Karena aku melihat cara kalian berpandangan. Sorot mata kalian tuh seakan berkata aku suka sama kamu. Cara berpandangan kalian itu seperti punya arti yang mandalam.”
Renata menatap dengan ngeri karena ucapan Riyana tepat. Ia merasa bahwa memang ada sesuatu dalam dirinya. Sebuah rasa yang aneh dan tak terkatakan namun bisa dipahami. Rasa suka tetapi mungkin juga rasa sayang.
Astaga.
Renata menyelidik hatinya. Kapan datangnya perasaan aneh dalam hatinya ?
Sejak saat pria itu mengumumkan peraturan – peraturan yang harus dilakukannya selama bekerja merawat putranya dirumah ini, Renata langsung terpesona dengan ketegasan pria itu.
Dia adalah seorang ayah sekaligus pria yang baik dan bertanggung jawab, menurut Renata. Zaman sekarang ini sulit menemukan pria yang bertanggung jawab. Apalagi ketika menikah dan memiliki anak. Kebanyakan pria lebih menginginkan istrinya yang mengurus anak.
Memang Ryan sudah tidak memiliki istri. Tapi dia termasuk pria yang kaya. Ia memiliki kesibukkan dengan pekerjaannya yang banyak. Untuk pria yang seperti itu, biasanya mereka menyerahkan pengurusan anak kepada orang tua atau kepada pengasuh.
Tetapi tidak demikian bagi Ryan.
Saat ia berkata bahwa dia akan menyuapi Rafa ketika sarapan, Renata menduga pria itu sudah terbiasa melakukan hal itu. Hebat.
Saat Ryan masuk kekamar Rafa untuk menidurkan anak itu diwaktu malam, Renata berasumsi bahwa sesibuk – sibuknya pria itu ia tetap selalu memperhatikan putranya.
Secara perlahan tumbuh rasa kagum didalam hati Renata.
Tetapi sejak Ryan menyentuh lengan Renata, ia merasakan sen sasi aneh menerpanya. Otaknya seakan berhenti beroperasi. Perasaannya seakan jungkir balik. Renata merasa bahwa ia tidak hanya mengagumi Ryan, tetapi dia sudah tertarik pada pria itu.
Dalam waktu singkat Ryan telah memengaruhi hidup Renata.
Ya Tuhan...
“Ku rasa kamu salah menduga.” kilah Renata. Kan malu jika terlalu gampang mengaku.
“Aku rasa nggak.” sergah Riyana. “Tenang saja. Kalau kamu pacaran sama kak Ryan, aku setuju kok. Aku malah sangat mendukung. Mama juga pasti begitu. Rafa juga pasti mendukung.”
Mata Renata membulat sempurna. “Astaga. Kamu ini ada – ada saja.”
“Aku serius. Aku belum pernah seyakin ini. Bahkan saat kak Ryan memperkenalkan Helen dulu, aku sama sekali tidak ada keyakinan pada wanita itu. Dan semua itu terbukti. Kak Ryan nggak bahagia sama dia.”
Oh, jadi mendiang istri pak Ryan namanya Helen.
“Tapi aku nggak ada perasaan pada kakak kamu.”
“Tapi kalau dia mempunyai perasaan terhadap kamu dan dia mengutarakannya, apa kamu mau menerima?”
Renata terdiam sejenak dan berpikir. Setelah itu senyum manis mengembang dibibirnya. “Bisa jadi.” jawab Renata dengan malu – malu.
Jika memang Ryan menyukainya dan dia mengutarakan perasaannya itu, Renata bersedia berkompromi.
“Ish… jawab yang benar dong. Iya atau enggak ?”
Renata tersenyum. “Hemmm…”
Jawaban apa itu ?
*
Terry berada dikamar Rafa dan hendak menidurkan anak itu. Walaupun ada pengasuh yang mengurus Rafa sejak anak itu kecil, tapi saat Terry berkunjung kesana dia selalu mengambil alih mengurus Rafa, mulai dari mandi, mengganti pakain hingga menidurkan anak itu.
“Bobo sekarang ya.” pinta Terry.
“Tapi Lafa masih belum ngantuk nek.”
“Ya sudah. Nenek ceritain kamu dongeng biar bisa cepet ngantuk dan langsung tidur.”
“Ogah.” Rafa menggeleng. “Lafa nggak mau. Bosan sama celita nenek. Paling juga nenek mau celita tentang putli tidul atau main kundang.”
Terry tertawa. “Sudah hafal ya kamu sama cerita itu? Hahaha…”
Bibir Rafa mengerucut.
“Baiklah, nenek nggak akan ceritain dongeng. Kita ngobrol aja ya.”
“Hem...”
“Nenek mau tanya. Rafa suka nggak sama kak Renata?”
“Iya. Lafa suka sama kak Lenata."
“Kenapa?” tanya Terry lagi.
Anak itu termenung sesaat. “Kalena kak Lenata cantik dan baik. Dia juga bisa menilukan gaya spaidelmen. Sepelti ini.” Rafa kemudian bangkit dan berdiri diatas tempat tidur lalu menirukan gaya spiderman.
“Hahaha… Kak Renata bisa seperti itu?”
“Iya nek. Kelen kan.”
Masih dengan tawa yang lepas Terry menjawab, “Iya keren.”
“Kalau kak Renata jadi mami Rafa, Rafa mau nggak?” tanya Terry setelah berhenti tertawa.
“Mau. Memang kak Lenata mau jadi mami Lafa?”
“Mudah – mudahan.” Terry masih belum yakin tetapi dia akan terus berusaha untuk menyatukan Ryan dan Renata.
“Nanti Lafa tanya deh sama kak Lenata.”
Terry tersenyum. “Anak pintar.”
Setidaknya dia sudah tahu bagaimana pendapat Rafa. Dan Terry bersyukur ternyata anak itu setuju – setuju saja apabila papinya berhubungan dengan Renata. Permulaan yang baik.
“Sekarang bobo ya...”
*
Malam ini waktu terasa berjalan sangat lambat. Meskipun sudah berbaring ditempat tidur akan tetapi Renata masih tak kunjung mengantuk. Otaknya terus memikirkan ucapan Riyana.
Semakin dipikirkan semakin ia merasa pusing. Perasaannya jadi campur aduk. Takut, gelisah, gugup tetapi juga gembira.
Dering ponsel memecah kepingan – kepingan ingatan yang memenuhi kepala Renata.
Ia kemudian menepak tangannya, mengambil ponsel miliknya yang ia letakkan diatas nakas.
Panggilan telepon itu berasal dari Harley, adiknya. Renata kemudian segera mengusap layar ponselnya lalu membawa ponsel itu ketelinganya.
“Hallo dek, assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam teh. Teteh apa kabar?”
“Alhamdulilah baik. Kamu sendiri gimana kabarnya?”
“Aku juga baik teh. Kerjaan teteh gimana ? Aku dengar dari bunda sama ayah teteh dapat job lagi.”
“Iya. Pekerjaan teteh lancar."
“Alhamdulilah.”
“Kuliah kamu gimana?”
“Baik teh. Semua aman terkendali. Hehe..”
“Syukur deh. Jangan males – males kuliahnya.”
“Sejak kapan aku males. Teteh ini suka berlebihan deh. Eh, ngomong – ngomong teteh tahu nggak, anak pak RT minggu depan mau nikah loh.”
“Si Desi ya?”
“Iya. Padahal belum setahun kerja di Jakarta sudah dapat jodoh aja dia.”
“Itu namanya takdir dan rejeki. Kita manusia nggak tahu kapan rejeki dari Allah datang pada kita. Kita hanya bisa berdoa dan memohon kepada Allah.”
“Iya teh. Padahal aku sudah doain teteh biar cepat ketemu jodohnya tapi kok nggak dapet -dapet ya?"
"Tunggu aja, paling bentar lagii dapet kok." Renata menjawab asal - asalan
“Memang teteh sudah punya pacar ya?”
“Dasar kepo...”
“Boleh dong kepoin kakak sendiri. Hehe… Sudah punya pacar apa belum sih teh?”
“Beluum...”
"Heh.. Tadi katanya bentar lagi dapet. Kirain udah ada calon nya."
"Hmmm, teteh mau tanya pendapat kamu. Kalau seumpanya teteh pacaran sama duda gimana?"
"Kalau dudanya gendut terus botak aku nggak setuju." kata Harley sambil tertawa terbahak - bahak.
"Itu juga teteh nggak mau." Nada kesal terdengar pada suara Renata.
“Tapi kalau duda nya ganteng dan keren, boleh - boleh aja sih teh." ujar Harley. "tapi teteh yakin mau sama duda?" lanjutnya.
"Memang duda kenapa dek?"
"Ya agak repot sih kalau menurut aku. Apalagi kalau dia udah punya anak. Kalau nanti teteh nikah sama si abang duda, sudah pasti teteh nggak cuma ngurusin suami tapi ngurusin anaknya juga. Ngomong - ngomong ini duda cerai atau duda di tinggal mati?”
“Ditinggal mati.”
“Syukur deh. Tunggu – tunggu, duda itu bukan ayah dari anak yang kakak jaga sekarang kan?” tanya Harley penasaran.
“Bukan. Pokoknya ada deh.” Renata terpaksa berbohong. Masa iya dia harus berkata selengkap dan sejujur – jujurnya pada Harleu adiknya. Kan dia malu.
Untung Harley tidak bertanya lebih lanjut.
“Kalau aku sih terserah teteh saja. Kalau memang teteh sudah kepincut sama si duda, ya go on aja. Aku dukung apapun keputusan yang teteh ambil. Selama teteh bahagia, aku juga bahagia.”
“Ya ampun dek, sejak kapan kamu jadi dewasa kayak gini?”
“Hahaha… Jangan salah teh. Si duda kalau mau sama teteh harus bayar kompensasi besar. Si duda kan dapatnya perawan.”
“Asem kamu dek, kamu kira teteh ini barang apa sampe bawa – bawa kompensasi segala.”
“Hahaha… Bercanda teh. Tapi ngomong – ngomong soal kompensasi, kapan teteh gajiannya?”
“Apa hubungannya coba kompensasi sama gajian?” gerutu Renata.
“Adalah. Sama – sama ada duitnya. Hahaha…”
Renata menghembuskan napas frustasi. Dia lupa adiknya ini sudah kayak preman aja. Dikit - dikit malak.
“Teh, beliin kamera baru dong.”
Nah, mulai malak kan dia.
Hais...
“Kamera kamu emang kenapa?” tanya Renata.
“Masih bisa dipakai sih, tapi sudah nggak terlalu bagus. Beberapa hari lalu sempat jatuh kameranya, jadi kayak udah ada masalah dikit sama lensa. Beliin yang baru ya teh, yang merk canon ya teh.. ”
“Ya ampun dek. Kamu mah harusnya hati – hati jagain barang. Apalagi barang nya mahal.”
“Maaf teh, kemarin nggak sengaja jatuhin.”
“Kira – kira berapa harganya?”
“Ngga tahu pasti. Tapi kemarin aku tanya temen aku, katanya sekitar delapan jutaan teh. Hehe..”
Renata tersentak kaget. “Busyet, mahal banget. Kalau mau beli itu, langsung habis gaji teteh sebulan.”
“Ya mau gimana lagi. Harganya memang segitu teh. Beliin ya teh, kasihanilah adikmu ini.” ucap Harley memelas.
“Ya sudah, nanti teteh beliin.”
“Asyik… Makasih banyak ya teh. Teteh memang yang paling deh. Paling baik, paling cantik, paling manis, paling seksi, paling apa lagi ya ? Pokoknya yang paling semua hal yang baik – baik deh.”
“Hmmm… Kamu kuliahnya yang rajin ya. Awas saja kalau malas.”
“Ih teteh… Aku tuh nggak pernah males. Pokoknya aku nggak bakalan kecewain teteh. Aku pasti bisa sukses jadi fotografer handal dan professional.”
Ya, sekarang Harley tengah kuliah dan mengambil jurusan fotografer.
“Amin.”
Setelah selesai berbicara ditelepon, Renata langsung berbaring ditempat tidur dan matanya terbuka memandangi langit – langit kamar.
Rasa lega menyelimutinya saat ia tahu bahwa adiknya akan tetap mendukung apapun keputusannya dalam urusan pribadi. Memang siapapun yang tengah menjalin hubungan dengan Renata, adiknya itu tidak pernah protes berlebihan dan tidak pernah ikut campur. Sepenuhnya adiknya itu percaya pada Renata.
Lega untuk hal itu. Tetapi begitu memikirkan biaya membeli kamera untuk adiknya itu yang harganya tidak murah, Renata mendesah frustasi lalu bergumam, “Ya ampun, ludes lagi tabunganku. Hikz…”