Ternyata Ryan juga tidak bisa tertidur. Wajah Renata selalu terbayang dalam benaknya. Semakin ia ingin menepis bayang wanita itu, sosoknya justru semakin jelas dalam pikiran Ryan. Perasaannya juga menjadi tidak menentu. Dia jadi teringat dengan perkataan Jimmy. Apa jangan – jangan kamu punya perasaan sama dia?
Ryan menggeleng. "Tidak mungkin... Tidak mungkin aku suka sama dia. Aku hanya senang dia ada disini mengurus Rafa dengan baik.” gumam Ryan, mengelak perasaan yang dirasakannya.
“Tapi kalau dipikir – pikir, Renata itu tipe wanita idamanku. Sudah cantik,baik dan tulus lagi. Nggak cuma bagus ngurusin Rafa, tapi dia juga ngurusin aku dengan baik.” Ryan terus bergumam sambil memikirkan kebaikan Renata yang mau mengurusnya sewaktu dia sakit. Juga sewaktu Renata melayaninya dimeja makan. Ryan senang bukan main.
“Aduh ada apa pikiran ini ? Hati ini juga...” Ryan memegang da danya. “Kenapa sih aneh begini? Apa jangan – jangan aku memang beneran mulai suka sama Renata?”
“Aduh pusing... Lama – lama kayak gini aku bisa jadi nggak waras. Mending tidur.” Ryan kemudian memejamkan matanya mencoba untuk tidur. Walau susah.
***
Keesokan harinya.
Hari masih lebih pagi dari kemarin saat Renata terbangun. Mengambil sebuah cangkir, Renata menaruh dua sendok teh gula pasir dan dua sendok teh kopi lalu ia mengisi cangkir itu dengan air panas. Kemudian dia mengaduk – ngaduk kopi tersebut.
Baru saja ia ingin menyeruput kopinya, sebuah suara familiar terdengar. “Pagi Ren.” sapa Riyana. Semalam gadis itu menginap dirumah Ryan.
“Selamat pagi Na.”
“Aku haus mau ambil air putih.”
“Oh. Sebentar aku ambilkan.” Renata meletakkan kopinya diatas meja.
“Nggak usah. Kamu lanjutin aja kerjaan kamu. Mau masak apa pagi ini ?” tanya Riyana.
“Ini rencana mau bikin nasi pecel.”
“Wah enak tuh…”
“Kira – kira pak Ryan, Rafa sama bu Terry mau nggak ya makan makanan ini?”
“Pasti maulah.”
“Ini persediaan bahan makanan sudah mulai kurang soalnya. Jadi sarapan ini aku buatnya nasi pecel aja. Ini aku baru mau goreng bakwannya.”
“Harus kasih tahu sama kak Ryan biar dia bisa langsung belanja bahan – bahan makanannya. Oh ya, ngomong – ngomong kalau bahan buat bikin cup cake semalam masih ada nggak ? Aku mau minta dibuatin. Bentar malam aku mau ke rumah paman Beni jadi mau bawa kue itu kesana.”
“Bahan kuenya juga sudah habis.” ucap Renata menyesal.
“Yaa… kalau gitu sekalian kasih tahu kak Ryan ya biar dibeli sekaligus.”
Setelah meneguk air putih, Riyana kembali ke kamarnya. Sementara Renata kembali melanjutkan kegiatan memasaknya.
*
Ryan terbangun karena merasa haus. Dia kemudian turun, berjalan menuju dapur hendak mengambil air minum. Dari kejauhan Ryan sudah melihat Renata.
“Sedang apa kamu pagi – pagi begini?” tanya Ryan. Dia mungkin lupa kalau Renata selalu bangun pagi untuk memasak.
Renata terperanjat saat mendengar suara itu. Dia kemudian membalikkan badannya menghadap Ryan. “Astaga, bapak bikin kaget saja. Bapak sudah bangun ?”
“Saya sudah disini berarti aku sudah bangun. Gimana sih ? Jawaban kamu itu juga nggak nyambung dengan pertanyaan saya.”
“Saya sedang masak pak. Mau bikin nase pecel.”
“Oh.”
Ryan melihat ada secangkir kopi diatas meja. Ia kemudian langsung mengambil cangkir itu dan meminum kopinya.
“Pak, itu kopi saya.” seru Renata. Tetapi terlambat, Ryan sudah meminumnya.
“Kopinya enak, persis kayak selera saya. Ini kamu yang buat?” tanya Ryan.
“Iya pak.” jawab Renata.
“Kalau begitu mulai besok dan seterusnya kamu buatkan kopi untuk saya.” titah Ryan.
“Hah?” Renata ternganga. “Oh itu, iya baik pak.” Seketika itu juga Renata setuju. Tidak mungkin kan dia menolak perintah dari bosnya.
Ryan duduk di kursi meja makan sambil menikmati kopi itu.
“Oh ya pak. Saya mau kasih tahu. Bahan – bahan makanan sudah mulai habis. Terus non Riyana juga tadi minta dibuatkan cup cake yang semalam. Jadi dia minta kalau bapak mau belanja bahan makanan, sekalian belikan dengan bahan membuat cup cake.”
“Cupcake semalam ? Saya nggak sempat cobain itu. Ya sudah, nanti kita belanja semua itu sebentar sore.”
Hah ? Apa maksudnya kita? Aku sama dia belanja sama – sama, gitu maksudnya?
Ternyata yang dipikirkan Renata benar.
Hari itu Ryan pulang cepat dari kantor. Pekerjaannya dikantor dilimpahkannya pada Jimmy. Ryan percaya asistennya itu dapat melakukan pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab.
Jam masih menunjukan pukul dua siang ketika pria itu tiba dirumah. Ryan langsung mengajak Renata ke supermarket. Rafa dititipkan kepada Terry. Wanita paruh bayah itu masih berada dirumah Ryan karena dia berencana akan tinggal disana selama beberapa hari. Sedangkan Riyana, gadis itu masih berada dikampus.
Ryan sudah menunggu Renata didalam mobil. Saat Renata datang, ia membuka pintu belakang mobil dan duduk disana. Renata sengaja menjaga jarak dengan Ryan. Ia merasa canggung jika duduk bersebelahan dengan pria itu.
Rupanya Ryan memandangi Renata dari kaca spion dengan tatapan kesal. Selama hampir lima menit mereka hanya duduk – duduk saja didalam mobil.
“Pak, kok kita nggak jalan – jalan sih?”
Ryan menghembuskan napas dengan keras. “Kamu pikir saya ini supir kamu ? Pindah ke depan.”
Renata tersenyum datar. “Oh.. baik pak, maaf.” Diapun bergegas pindah ke depan, duduk dengan manis disamping Ryan.
Perjalanan ke supermarket tidak memakan waktu lama. Hanya sekitar dua puluh menit. Selama dalam perjalanan baik Ryan maupun Renata tidak berbicara apapun. Keheningan menyelimuti mereka.
Renata lebih memilih memandangi jendela mobil. Dan Renata bersyukur, Ryan pun mmenyibukan diri dengan fokus mengemudi.
Masing - masing tidak ada yang bersuara dan memulai pembicaraaan. Tetapi begitu lebih baik.
Begitu tiba disupermarket, Renata segera mengambil troli. Tidak lupa dia mengeluarkan daftar bahan yang akan dibelinya. Daftar tersebut sudah ditulisnya pagi tadi setelah ia selesai memasak sarapan.
Ryan mengikuti Renata dari belakang.
“Biar saya yang dorong.” kata Ryan sambil menarik troli dari tangan Renata.
“Tidak perlu pak. Biar saya saja.” ucap Renata.
"Biar saja." Ryan menarik troli lebih keras.
"Saya saja pak." Terjadi tarik menarik troli antara Ryan dan Renata.
“Kenapa sih kamu suka sekali membantah?” Suara Ryan meninggi, mulai jengkel.
Renata berubah kaku, terkejut dengan suara Ryan yang meninggi itu. “Maaf, pak.” ucapnya cepat. “ Saya tidak bermaksud membantah setiap ucapan bapak. Saya hanya tidak mau merepotkan bapak saja.”
“Kata siapa saya repot? Saya tidak repot kok.”
“Baiklah, pak. Ini trolinya. Bapak saja yang dorong.” ujar Renata sambil memberikan troli itu kepada Ryan.
“Pak bapak, memangnya aku bapak kamu?” gerutu Ryan. Ternyata dia juga kesal karena terus mendengar panggilan pak bapak dari mulut Renata.
Terus mau dipanggil apa dong?
Dengan jengkel Ryan berjalan lebih dulu memasuki supermarket sementara Renata mengikutinya dari belakang.
Renata melihat daftar belanja, lalu mengambil beberapa bahan kue yang ia lihat dan menaruh bahan – bahan itu ke dalam troli, mulai dari mentega, terigu, coklat, gula pasir dan coklat. “Sekalian sama bahan makanan diambil.” titah Ryan.
Renata mengangguk.
Kemudian Renata dan Ryan pun secara perlahan – lahan berjalan menyusuri lorong demi lorong sembari melayangkan pandangan mata mereka ke kiri dan ke kanan rak untuk mencari bahan – bahan makanan.
Perlahan tapi pasti troli itu sudah terisi penuh dengan bahan makanan seperti daging, sayuran, buah dan bumbu dapur lainnya.
Setelah selesai berbelanja, mereka langsung menuju kasir. Di depan sana antrian kasir begitu panjang. Sebenarnya Ryan paling malas berbelanja bahan makanan seperti ini. Seumur hidupnya dia tidak pernah melakukan ini. Tapi entah apa yang merasukinya, tiba – tiba saja dia mengajak Renata belanja.
Hais... Jangan - jangan modus!
Berusaha dengan sabar mengikuti antrian, tidak terasa kini sudah giliran mereka. Petugas kasir menyapa mereka lalu mulai mengambil bahan – bahan yang ada di troli.
Setelah seluruh belanjaan mereka dihitung, Ryan menyerahkan sebuah kartu pada Renata. “Kamu bayarin.”
Renata menyerahkan kartu itu pada petugas kasir. Setelah transaksi selesai, Renata menjinjing satu kantong belanjaan sedangkan Ryan menjinjing empat kantong.
Saat tiba didalam mobil, Renata menyerahkan kartu milik Ryan itu. “Ini kartu bapak. Disimpan pak jangan sampai hilang.”
“Kamu pegang saja. Kamu bisa pakai buat belanja perlengkapan dirumah.” ucap Ryan.
“Tapi pak?”
“Membantah lagi. Capek saya ladenin kamu yang suka sekali membantah.”
“Maaf. Tapi bapak yakin mau serahin kartu ini sama saya ? Bapak nggak takut kartu ini saya pakai belanja barang pribadi saya?” tanya Renata. Niatnya ingin menakut - nakuti Ryan.
“Terserah kamu.”
Hah ? Terserah aku? Renata tercengang. “Saya hanya bercanda kok pak. Mana berani saya saya pakai ini untuk kebutuhan saya.”
“Terserah kamu.”
Duh kok terserah kamu terus sih ?
Renata menatap bingung pada Ryan, bertanya - tanya apa ada maksud terselubung dibalik ini ?
Menyadari tatapan Renata, Ryan buru – buru bersuara, seolah dia paham maksud tatapan wanita itu. “Kamu nggak usah takut atau bingung. Saya tidak ada maksud buruk sama kamu. Saya hanya ingin pekerjaan saya soal urusan rumah berkurang. Saya yakin kamu bisa bantu saya. Bolehkan ?”
“Oh begitu." Reneata menangguk paham. "Baik pak. Saya akan bantu bapak.”
Meski sudah mendengar penjelasan Ryan dan sudah bersedia membantu pria itu, tetapi ternyata masih ada keraguan dalam hatinya.
Semoga saja dia memang tidak ada maksud buruk sama aku, gumam Renata berharap dalam hati.