Sesampainya dirumah, Renata langsung mengatur bahan – bahan makanan dilemari penyimpanan. Setelah itu dia langsung membuat cupcake. Selama hampir dua jam wanita itu berkutat dengan kegiatan membuat cupcakenya itu.
Sementara Ryan langsung menuju kamarnya.
Malam sudah menyambut ketika Renata selesai membuat cupcake itu. Riyana yang baru datang langsung menghampirinya didapur.
“Cupcake nya sudah jadi?” tanya Riyana.
“Kamu sudah pulang Na. Iya cupcakenya sudah jadi. Cobain deh.” pinta Renata.
Riyana kemudian langsung mengambil sepotong cupcake redvelvet lalu segera memakannya. “Mmm… benar – benar lezat.” Riyana berbicara sambil mengunyah.
“Syukurlah. Jadi cupcake ini mau langsung dibungkus atau gimana?”
“Iya tolong bungkusin ya. Aku cuma mau mandi lalu setelah itu langsung pergi.”
Riyana berencana pergi ke rumah Gita dan akan tinggal disana selama beberapa hari. Cupcake yang dipesannya pada Renata itu akan dibawanya ke rumah Gita karena sahabatnya suka sekali dengan cupcake redvelvet.
Riyana dan Gita sudah bersahabat sejak SMP karena mereka satu sekolah. Dan sekarang mereka kuliah di universitas yang sama. Bahkan fakultas yang diambil keduanya pun sama.
Hubungan mereka sudah seperti keluarga. Itu sebabnya Riyana sering tinggal dirumah sahabatnya itu. Selain karena Gita adalah anak tunggal dan butuh teman agar dirumah tidak sepi, Terry mamanya sering bepergian dan banyak kegiatan bersama teman - teman arisannya.
“Oke.” jawab Renata.
Riyana segera berlalu meninggalkan Renata lalu mampir dikamar Terry. Mengetuk beberapa kali sebelum masuk kesana.
“Ma, malam ini aku ijin mau nginap di rumah Gita ya.”
Terry mengangguk. “Iya boleh. Tapi jangan ngerepotin paman Beni dan tante Gledys ya. Ngomong – ngomong bagaimana kabar mereka?”
“Paman Beni, tante Gledys dan Gita kabar nya baik.”
“Sudah lama mama nggak ketemu mereka. Kalau ada waktu mama berkunjung kesana. Sekarang titip salam saja dulu ya.”
Riyana tersenyum. “Iya. Beres!”
Kemudian Riyana bergegas bersiap – siap. Setelah membersihkan diri dia langsung berganti pakaian. Lalu beberapa pakaiannya ditaruh dengan rapi didalam sebuah tas. Setelah itu gadis itu turun menuju ke dapur.
“Cupcakenya sudah dibungkus?” tanyanya pada Retana.
“Sudah. Ini.” Renata menunjuk bungkusan cantik yang diletakkannya diatas meja. “Kamu sudah mau pegi sekarang?”
“Iya.”
“Nggak nunggu makan malam dulu?”
“Nggak usah. Nanti aku makan malam di rumah Gita aja. Aku pergi sekarang ya. Bye…”
Riyana pun langsung melangkahkan kakinya, berlalu meninggalkan Renata.
*
Renata menyiapkan makanan diatas meja. Setelah selesai mengatur makanan, ia berjalan ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Mandi secepat kilat lalu setelah itu berganti pakaian casual. Langsung menuju kamar Rafa dan memanggil anak itu untuk makan malam. Renata juga memanggil Terry dikamarnya. Mengetuk pintu kamar wanita paruh baya itu beberapa kali, setelah ada sahutan dari dalam baru Renata masuk. Hanya berdiri diambang pintu, Renata langsung mengajak Terry turun untuk makan malam.
“Ren, tolong panggilin Ryan.” titah Terry. Sengaja menyuruh Renata agar dia bisa dekat – dekat dengan Ryan.
“Hah? Oh baik bu.” Renata kebingungan. Kenapa nyuruh aku panggilin pak Ryan? Kan aneh… ah sudahlah, tidak mungkin juga kan menolak.
“Pak Ryan ada dimana ya bu?” tanya Renata.
“Cob cek dikamarnya."
Renata berjalan menyusuri lorong menuju kamar Ryan. Sudah mengetuk beberapa kali tapi tidak ada sahutan dari dalam. Dia pun kembali lagi ke arah Terry.
"Kayanknya nggak ada dikamar. Saya sudah beberapa kali mengetuk pintu tapi nggak ada suara dari dalam."
"Kalau begitu coba kamu cek di ruang kerjanya.” ucap Terry sambil menunjuk sebuah ruangan yang berada di sudut.
"Baik bu."
*
Setelah mandi dan berganti pakaian, Ryan langung menuju ke ruang kerjanya. Disana dia memeriksa email dari laptopnya. Tiba – tiba ponselnya berdering. Ryan mengambil ponsel lalu melihat siapa yang meneleponnya. Ternyata yang meneleponnya adalah Maya.
“Halo May.” sapa Ryan.
“Hai, Yan. Selamat malam.”
“Malam. Ada apa menelepon?”
“Nggak ada apa - apa. Aku cuma mau tanya keadaan Rafa.”
“Rafa sudah baikan. Makasih ya.”
“Syukurlah. Terus kalau Renata gimana?”
“Gimana apanya?” tanya Ryan.
“Pekerjaan dia maksud aku.” Maya bermaksud ingin mencari tahu bagaimana kinerja Renata. Memang selama ini dia sudah tahu bahwa Renata selalu bekerja dengan baik. Tapi tetap saja dia ingin memastikan lagi.
“Oh. Dia kerjanya bagus. Renata bekerja dengan baik dan penuh tanggung jawad. Dia juga sangat perhatian pada Rafa. Makasih ya kamu sudah bantuin aku kasih nurse yang bagus.”
“Sama – sama Yan.”
“Oh ya… Aku bisa nanya nggak?”
“Boleh dong. Mau tanya apa?”
“Kalau menurut kamu Renata gimana?”
“Maksudnya ?” tanya Maya kebingungan.
“Maksud aku Renata orangnya gimana?”
Maya terkekeh. “Kenapa memangnya ? Jangan bilang kamu mulai suka sama dia. Deketin aja Yan. Renata jomblo kok. Dia nggak ada yang punya.”
“Kamu bisa aja May. Aku cuma ingin tahu orangnya kayak gimana, kenapa kamu menyimpulkan yang aneh – aneh?”
Apanya yang aneh ?
“Suka sama orang itu bukan hal aneh Yan. Wajar kok kalau kamu suka sama Renata. Dia orangnya baik, tulus dan cantik pula. Dia termasuk wanita idaman setiap pria.”
“Kalau kayak gitu terus kenapa dia masih jomblo?” tanya Ryan cepat.
Maya tertawa. “Masih jomblo bukan berarti nggak ada yang mau Yan. Nih aku kasih tahu kamu ya. Waktu dia kerja dirumah sakit, ada kok nurse cowok yang suka sama dia. Teman dokter aku juga ada suka sama dia. Tapi sayang Renata nggak punya perasaan yang sama seperti mereka. Kali aja sama kamu lain ceritanya. Kali aja sama kau dia bisa ada perasaan suka terus kalian bisa jadian.” Maya berkata antusias.
“Tahu ah. Omongan kamu ngaco.”
Maya tertawa semakin keras. “Ngaco dari mana ? Aku serius Yan. Coba deh kamu deketin Renata. Siapa tahu kalian bisa…”
Ucapan Maya menggantung karena tiba – tiba terdengar ketukan di pintu.
Tok... tok... tok...
“Sebentar May.” ucap Ryan pada Maya.
“Masuk.” seru Ryan ditujukan kepada orang yang mengetuk pintu.
Ternyata yang mengetuk pintu itu adalah Renata.
“Maaf pak, ini sudah jam makan malam. Bu Terry dan Rafa sudah menunggu bapak di meja makan.” kata Renata.
“Oke. Saya segera kesana.” ucap Ryan.
“Baik pak.”
Renata langsung keluar ruangan. Sementara Ryan melanjutkan obrolannya dengan Maya.
“Sudah dulu ya May.”
“Ciye… yang diajakin makan.” Ternyata Maya mendengar perkataan Renata walau hanya samar – samar.
Tanpa sadar sebuah senyuman tersungging di bibir Ryan. “Sudah ah. Aku tutup telpon nya sekarang. Bye.”
Ryan langsung memutus panggilan lalu segera keluar ruangan menuju meja makan.
*
“Dimana Nana, ma?” tanya Ryan pada Terry sebelum memulai kegiatan makan malam.
“Nana tadi minta ijin ke rumah Gita. Katanya mau nginap disana.”
“Oh. Betah banget ya dia disana.”
“Biar saja Nana tinggal disana biar ada temennya.” ucap Terry.
“Ya sudah.”
Mereka pun memulai kegiatan makan malam. Ryan dan Terry langsung makan sementara Renata menyuapi Rafa. Ryan diam – diam mengamati Renata.
“Rafa nggak usah disuapin. Kan udah besar.” kata Ryan.
“Nggak mau. Lafa mau disuapin kak Lenata.” ujar anak itu cemberut. Dia tidak ingin mengikuti titah papinya.
“Nggak apa – apa kok pak. Biar Rafa saya suapin.” Renata menimpali.
“Kenapa sih papi malah? Papi cembulu ya?” Entah dari mana datangnya pikiran itu. Tapi pertanyaan itu tiba- tiba saja terlontar dari mulut Rafa.
Renata yang mendengar ucapan Rafa langsung kaget. “Astaga sayang… Kok ngomongnya begitu?”
“Habisnya papi keliatan nggak suka kalau kak Lenata suapin Lafa.” kata Rafa masih dengan mulut mengerucut.
“Iya… papi cemburu.” kata Ryan cepat. Entah apa yang merasukinya sehingga dia mengucapkan kata – kata itu.
Renata salah tingkah. Wajahnya langsung memerah seperti kepiting rebus.
Ya Tuhan… Apa lagi ini ? Kenapa dia bicara seperti itu ?
Ternyata bukan Renata saja yang salah tingkah. Setelah mengucapkan kata - kata itu Ryan juga menjadi salah tingkah. Kini Keduaya terlihat canggung. Sementara Terry tersenyum sumeringah. Mulai ada aura ketertarikan nih, batin Terry.
“Sudah, jangan ngomong lagi. Lanjutkan makannya.” ujar Terry, mencoba menghentikan suasana yang canggung itu.
Mereka melanjutkan makan malam tanpa berbicara apapun lagi.
Selesai makan nasi, Rafa berkata, “Kak Lenata Lafa mau kue itu.” Rafa menunjuk cupcake redvelvet yang dibuat Renata yang diatur rapi diatas piring.
“Oke. Sebentar kakak ambilkan dulu. Tapi makannya nanti pelan - pelan ya biar nggak belepotan.” Renata pun segera memajukan tangannya untuk mengambil cupcake itu.
“Itu cupcake yang kamu buat ya?” tanya Ryan.
“Iya pak.” jawab Renata.
“Saya juga mau. Tolong ambilkan.” Ryan ingin dilayani juga oleh Renata.
Astaga... Jangan bilang Ryan benar - benar cemburu pada anaknya sendiri.
“Iya pak.” Renata mengambil cupcake redvelvet itu lalu menyerahkan pada Ryan.
“Ini pak.”
Ryan mengambil cupcake itu langsung dari tangan Renata.
Saat itu, entah sengaha atau tidak tangan mereka bersentuhan. Akibat sentuhan itu Ryan merasakan getaran menjalari tubuhnya. Sementara Renata langsung merasakan seperti kesetrum.
“Thanks.” ucap Ryan tulus.
“Sama – sama pak.” Wajah Renata terus saja memerah.
“Papi kue kak Lenata enak. Kalau papi makan pasti ketagihan.” ucap Rafa bersemangat.
Ryan pun langsung memakan cupcake itu. “Iya ya, kue ini enak sekali. Kamu benar – benar wanita idaman.” Tanpa sadar Ryan mengatakan hal itu. Ternyata perkataan Maya waktu waktu berteleponan dengannya langsung terbesit dalam pikiran Ryan.
Renata termasuk wanita idaman setiap pria karena dia cantik, baik dan tulus. Tambah lagi dia jago masak dan mengurus rumah. Benar – benar wanita idaman kan?
Pada saat mendengar itu, Renata ingin menenggelamkan dirinya di rawa – rawa karena wajahnya semakin memanas menahan malu. Bisa – bisanya Ryan berkata seperti itu didepan mamanya.
“Kalau memang Renata wanita idaman kenapa nggak kamu jadiin istri ?” ujar Terry cepat, mengambil kesempatan untuk melancarkan aksinya membuat Ryan dan Renata jadian.
Ryan terdiam. Sementara Renata semakin salah tingkah. Tidak berani berkata apapun, Renata hanya bisa menundukan kepalanya.