Pagi itu Ryan berjalan gontai memasuki gedung kantornya. Berbalut pakaian formal, Ryan tampak sangat tampan dan menarik. Kendati demikian, tidak ada satupun karyawan dan karyawati yang berani menegurnya walau hanya sekedar berbasa - basi. Sipapaun yang bertemu dirinya hanya bisa membungkukkan badan memberi hormat.
Padahal sebenarnya Ryan orangnya baik dan tidak pelit. Para karyawan - karyawati yang bekerja diperusahaannya mendapat upah yang lebih dari cukup untuk masing - masing posisi dan jabatan mereka. Tetapi rupanya Ryan dikenal dengan sikapnya yang tegas disertai mimik muka yang datar. Mungkin itulah yang membuat para bawahannya takut padanya.
Ryan masuk ke dalam sebuah lift khusus yang langsung membawanya ke lantai atas, tempat ruang kerjanya berada.
"Apa jadwalku hari ini?" tanya Ryan pada Jimmy begitu mereka berada diruang kerja.
"Jam 10 pagi ini kamu ada meeting dengan HC manager dan F & B manager terkait penerimaan chef baru."
ujar Jimmy. Ya, ada lowongan pekerjaan sebagai chef untuk dipekerjakan di hotelnya. "lalu siang nanti ada meeting dengan marketing manager." lanjut Jimmy.
"Oke."
"Oh ya aku mau kasih tahu kamu besok kita akan berangkat ke Timika untuk bertemu pemerintah disana. Dirga sudah mengatur janji temunya.”
Dirga adalah orang yang dipercayakan untuk mengurus segala sesuatu terkait pembangunan hotel baru Ryan di Timika.
“Cepat sekali kita berangkatnya.” kata Ryan.
Mendengar perkataan Ryan Jimmy jadi keheranan. “Ada apa sama kamu? Bukannya kamu sendiri yang bilang, untuk sesuatu hal yang baik lebih cepat dilakukan lebih baik. Kenapa sekarang malah berkata seperti itu?”
Ryang terdiam, tidak tahu harus menjawab apa karena dia juga heran pada dirinya sendiri. Kemudian setelah beberapa detik dia menganggukkan kepalanya pelan. “Ya sudah.” jawab Ryan singkat.
Waktu terasa cepat berlalu.
Pada malam harinya Ryan memberitahu Terry soal keberangkatannya. Setelah itu dia meminta mamanya itu untuk menjaga Rafa karena dia ingin berbicara dengan Renata.
Disinilah dia, duduk di sofa di ruang keluarga sementara menunggu Renata. Ketika terdengar suara ketukan dipintu, Ryan langsung berseru, “Masuk…”
Renata dengan senyum mengembang dibibirnya masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Ryan.
“Maaf pak, kata bu Terry pada panggil saya.”
“Iya. Duduk dulu.”
Renata menududukan bo kongnya di sofa yang terletak di depan Ryan.
“Saya mau kasih tahu kamu, besok jam 8 pagi saya mau ke luar kota karena ada urusan bisnis. Saya titip Rafa sama kamu.”
Renata mengangguk kecil. “Baik pak. Kalau boleh tahu berapa lama bapak diluar kota?”
“Masih belum tahu pasti karena baru tiket berangkatnya yang di booking. Tiket pulangnya belum. Tapi pkemungkinan 5 hari.” Ryan mengira - ngira.
“Ok pak. Bapak tenang saja. Saya akan menjaga Rafa dengan baik. Bapak nggak usah khawatir.” ujar Renata.
Ryan tersenyum malas pada Renata. Dia tidak khawatir tentang Rafa ataupun tentang wanita itu, tetapi dia mengkhawatirkan dirinya sendiri. Sanggupkah dia berjauhan dengan Renata ? Ryan bertanya - tanya dalam hati.
Semenjak Renata berada dirumahnya, dia merasa senang. Apalagi saat berdekataan dengan wanita itu. Ryan merasa hidup, nyaman dan bahagia. Dia tidak ingat kapan terakhir kali dia merasakan hal itu. Yang dia ingat hanyal sosok Renata, setiap hari selalu menghiasi pikirannya.
Memang ini bukanlah perjalanan bisnis yang pertama untuk Ryan. Tetapi ini adalah kali pertama dia merasa berat hati melakukan perjalanan ke luar kota. Dan penyebabnya adalah Renata.
“Besok saya akan bangungkan Rafa agar dia bisa anterin bapak ke bandara.” kata Renata lagi.
“Nggak usah. Nggak perlu anterin saya ke bandara.”
“Oh. Kalau begitu, anterin sampai ke depan rumah aja.”
Ryan menatap mata Renata. “Terserah kamu saja.”
*
Renata bangun pagi – pagi sekali. Dia langsung ke dapur memanggang roti dan membuat secangkir kopi untuk Ryan. Setelah meletakkan roti dan cangkir diatas meja makan, dia bergegas ke kamar Rafa untuk membangunkan anak itu.
Saat hendak ke lantai atas, Renata bertemu Ryan. “Saya mau bangunkan Rafa dulu pak. Saya sudah siapkan roti dan kopi dimeja untuk bapak.” ujar Renata sebelum berlalu.
Ryan melihat bi Marni sedang bersih – bersih. Dengan langkah gontai dia menghampiri bi Marni. “Bi, saya mau bicara sebentar.” kata Ryan.
“Iya tuan.”
“ Bi, hari ini saya berangkat ke luar kota. Paling lama sekitar 5 hari disana. Tolong bantu Renata jagain Rafa ya bi. Tapi bibi nggak usah lagi ngirim laporan aktifitas Renata karena dia sudah mengirimkannya langsung sama saya.”
Bi Marni mengangguk paham. “Baik tuan.”
Setelah selesai berbicara, Ryan langsung menuju ke meja makan.
*
Renata mengusap lembut pipi Rafa. “Sayang, ayo bangun…”
Dengan suara serak Rafa berkata, “Masih ngantuk.”
“Sayang ini sudah pagi. Ayo dong bangun. Apa kamu nggak mau lihat papimu pergi ?” Renata terus berusaha membangunkan Rafa.
Anak itu menggeliat dan perlahan mulai membuka matanya. “Memang papi mau kemana?”
“Hari ini papi mau berangkat ke luar kota soalnya ada urusan pekerjaan. Yuk bangun biar Rafa bisa lihat papi sebelum dia pergi.”
*
Ryan sementara menikmati kopi saat Rafa dan Renata berada di ruang makan. Mereka langsung menarik kursi dan duduk. Usai menyesap kopinya, Ryan berkata “Papi hari ini keluar kota. Perginya ke Papua selama 5 hari. Rafa jangan nakal ya saat papi nggak ada dirumah. Tante Renata akan melaporkannya pada papi kalau Rafa nakal. Mengerti?”
Rafa mengangguk – anggukkan kepalanya.
Renata dan Rafa mengantar Ryan sampai ke depan rumah. Disana ternyata Pak Udin sudah menunggu Ryan didalam mobil. Pak Udinlah yang akan mengantar Ryan ke bandara.
Sebelum masuk kedalam mobil, Ryan menatap ke arah Renata dan berkata sekali lagi padanya, “Aku titip Rafa ya…”
Sambil tersenyum tulus Renata mengangguk.
Pandangan Ryan beralih ke Rafa. “Papi pergi dulu ya. Sekali lagi papi kasih tahu, Rafa jangan nakal ya saat papi nggak ada.”
“Iya... Bye papi, hati – hati dijalan. Jangan lupa bawa oleh – oleh ya...”
“Beres!” ucap Ryan lalu ia mencium pipi Rafa.
Cup…
“Kok papi cuma cium aku ? Kak Lenata nya nggak dicium?” tanya Rafa tiba - tiba.
Ryan langsung memandangi Renata. Wajah wanita itu berubah merah bak kepiting rebus. Lucu!
Senyum nakal langsung mengembang diwajah Ryan.
Renata berubah canggung lalu waspada. Astaga anak ini… Jailnya kumat! Ya Tuhan tolong aku…
“Anda harus segera berangkat pak. Ini sudah hampir jam 7, nanti bapak ketinggalan pesawat.” kata Renata berusaha setenang mungkin walaupun sebenarnya dalam hatinya ia gelisah. Ditatap seperti itu oleh Ryan membuat Renata harap – harap cemas.
Senyum Ryan berubah menjadi tawa karena melihat tingkah Renata yang lucu dan menggemaskan. Dia tidak ingat pernah begitu senangnya berada bersama wanita, apalagi saat wanita itu merasa gugup dan gelisah karenanya.
“Iya, saya berangkat sekarang.” kata Ryan menenangkan hati Renata.
“Iya, pak. Pergilah.”
Heh ? Apa Renata mengusir Ryan ?
Tanpa berkata apalagi Ryan langsung membalikan tubuh, naik ke mobil dan pergi.
*
Jimmy sudah berada dibandara. Setelah dia selesai check – in, Jimmy berdiri di di lobi keberangkatan untuk menunggu Ryan.
Saat Ryan tiba, mereka tidak langsung masuk ke ruang tunggu karena Ryan mengajak Jimmy ke sebuah lounge, menunggu panggilan masuk disana.
“Gimana perasaan kamu?” tanya Jimmy sesaat setelah mereka duduk bersantai.
“Maksud kamu?”
“Apa kamu nggak ngerasa sedih gitu berpisah dengan Renata.”
“Biasa aja.” jawab Ryan, berusaha menampilkan sikap acuh tak acuh. “Kan kita juga perginya nggak lama. Paling hanya lima hari.” lanjutnya.
“Kata siapa hanya 5 hari? Kita disana selama 2 minggu loh Yan.”
Mulut Ryan ternganga. “Apa?”
Gelak tawa Jimmy meledak. “Hahahaa… Biasa aja dong mukanya Yan. Aku hanya becanda.”
“Sialan kamu!” Ryan mengumpat. “bawahan kurang ajar! Kamu mau dipecat?”
Jimmy mengangkat kedua tangannya ke atas lalu memasang ekspresi pura – pura takut. Segera ia menutup mulutnya menghentikan gelak tawa. “Sorry, aku kan hanya becanda. Jangan marahlah.”
Sudah menjadi kebiasan Jimmy menjahili Ryan. Dia tidak takut pada ancaman yang dikeluarkan bos sekaligus sahabatnya itu karena tentu saja itu hanya sampai di kata – kata saja. Ryan tidak pernah mempraktekan ancamannya pada Jimmy.
Lagi pula, selama ini dia tidak pernah melakukan kesalahan yang fatal. Paling – paling hanya sebatas meledek atau mengerjai Ryan. Itu pun masih dalam batas kewajaran. Hanya saja Ryan memang gampang emosian. Jadi tidak heran dia suka marah – marah.
“Becanda kamu nggak lucu!”
Iya, becandaku nggak lucu. Yang lucu itu muka kamu.. Hahaha…
Ryan menarik napas panjang untuk mengontrol emosinya. Itu memang berhasil, tapi hanya sebentar saja karena ketika kekesalannya hilang, rasa sedih justru membelit hatinya. Dia jadi teringat Renata.
Belum apa - apa dia sudah merindukan wanitu itu.