Bab 19. Perlu refreshing

1662 Kata
Dua hari berlalu, tetapi Riyana baru saja endengar kabar dari mamanya kalau kakaknya sedang keluar kota. Terry menelepon Riyana untuk menanyakan kabar putrinya itu, tetapi kemudian obrolan mereka berlanjut sehingga Terry sempat memberitahu keberangkatan Ryan ke Timika. Mendadak Riyana jadi ingin mengajak Renata berbelanja sekalian juga mengajak Rafa jalan - jalan dimall. Setelah dipikir - pikir, sudah lama juga dia tidak mengajak keponakannya refreshing. Untung hari ini hanya ada satu mata kuliah sehingga dia bisa pulang cepat dari kampus. Riyana memberitahu Gita bahwa tentang rencananya dan berjanji pada sahabatnya itu dia akan kembali ke rumahnya pada malam hari. Jam masih menunjukan pukul 11 siang ketika Renata tiba di rumah Ryan. “Renata dimana bi?” tanya Riyana sesaat setelah pintu rumah dibuka oleh bi Marni.   “Ada di ruang keluarga bersama den Rafa dan nyonya Terry.”   “Ok. Aku kesana. Makasih bi.”   “Hay guys..." sapa Riyana. Renata dan Terry langsung menoleh ke arah sumber suara sementara Rafa cuek, asyik menonton TV. "Hai juga..." Renata balas menyapa. "Kenapa kamu disini jam segini?" tanya Terry. "Hari ini cuma satu mata kuliah, jadi aku pulang cepat." "Nggak ke rumah Gita?" tanya Terry lagi. "Nanti bentar malam. Ini aku sengaja kesini karena mau ajakin Renata, Rafa juga mama ke mall." Riyana kemudian menghampiri Rafa. "Hai sayang. Cuek aja sama auntie. SIni Peluk dulu.” ucapnya sembari langsung memeluk anak itu.   “Auntie kangen Rafa. Rafa kangen nggak sama auntie?”   Rafa mengggeleng. “Lafa kangen sama papi.”   “Ya ampun. Baru dua hari ditinggal sudah kangen aja. Kasihan keponakan auntie. Cup.” Riyana mengecup pipi Rafa.   “Katanya papi pergi selama 5 hari, jadi papi belum bisa pulang.” Riyana menjelaskan. "Rafa yang sabar ya nungguin papi."   Bibir Rafa mulai mengerucut. “Jangan cemberut kayak gitu dong sayang. Gimana kalau kita pergi jalan – jalan ke mall ?”   Mendengar itu Rafa langsung sumeringah. “Benelan kita mau ke moll ?" Riyana mengangguk. "Iya sayang." "Yeeeeyyy..." Rafa meloncat kegirangan. Dasar bocah! "Lafa mau siap – siap dulu.” Anak itu kemudian langsung berlari ke lantai atas untuk berganti pakaian.   “Jangan lari – lari sayang, nanti jatuh.” ujar Renata setengah berteriak karena Rafa sudah mulai jauh dari pandangannya. "Kalian saja yang pergi. Mama mau di rumah saja." ucap Terry. "Loh, kenapa ma?" "Mama mau istirahat. Sepertinya mama belum bisa berjalan jauh, takut encoknya kambuh lagi." Sebenarnya wanita paruh baya itu sudah sembuh, hanya saja hari ini dia di landa mager alias malas gerak. "Oh ya sudah. Nggap apa - apa, kita bertiga aja yang pergi. Ren, kamu siap - siap sana. Biar Rafa aku yang urus." Riyana hendak berdiri untuk menyusul Rafa di lantai atas tapi suara Renata menghentikannya. "Tunggu sebentar Na. Kalau kita mau keluar ajakin Rafa, aku harus ijin dulu sama Pak Ryan." "Duh kamu sudah kayak istri aja, mau ijin sama suami. Ya sudah..." Renata memerah. Minta ijin bukan hanya tugas seorang istri, tapi tugas seorang bawahan juga bertanya pada bosnya. "Pak Ryan nyuruhnya kayak gitu." "Nyuruh kamu jadi istrinya?" Tiba - tiba Renata dilanda pusing. Aduh kok mikirnya begitu sih? Segera ia menggeleng. "Bukan... Maksudnya pak Ryan menyuruh aku untuk minta ijin ke dia kalau maukeluar bersama Rafa. Gitu..." jelas Renata. Riyana tersenyum lebar. "Oh, kirain... Padahal bagus juga kalau kalian jadi suami istri beneran. Iya kan ma?" Riyana melempar pertanyaan pada mamanya. Tepatnya dia ingin meminta tanggapan. Terry langsung tersenyum. "Iya. Tapi kakak kamu itu agak susah dibilanginnya." Renata makin pusing. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan ? Renata bertanya - tanya dalam hati. Bingung. Renata merasa kebingungan. "Ren, sekarang coba kamu hubungi Ryan dan kasih tahu kalau kalian mau ke mall." "Baik bu." ucap Renata lalu ia segera mengambil ponselnya dan menelepon Ryan. Renata menggeleng. "Nggak diangkat teleponnya." "Mungkin kakak lagi sibuk kerja." kata Riyana. "Aku coba kirim pesan, siapa tahu bisa dibaca dan di balas." Riyana mengangguk. Renata kemudian mengirim pesan ke Ryan.   [ Selamat siang pak. Ini adik bapak mengajak Rafa dan saya jalan – jalan ke mall. Boleh nggak pak? ]   " Sudah. Aku udah ngirim pesan tinggal nunggu dibalas." Tapi sepuluh menit berlalu, pesan Renata tak kunjung ada balasannya. Jangankan dibalas, di baca saja tidak. “Sudah dibalas belum pesannya?” tanya Riyana.   “Belum juga. Gimana dong?”   “Ya sudah. Ngga usah nunggin pesannya dibalas. Kalau balasnya nanti sore, mana bisa pergi lagi kita ?”   “Tapi aku ngga tenang kalau kayak gini. Soalnya harus dapat ijin dulu baru bisa keluar.”   Riyana mendesah frustasi. “Astaga. Kalau kayak gini bisa – bisa rencana jalan – jalannya batal. Rafa udah siap - siap lagi, nanti dia ngamuk kalau jalan – jalannya nggak jadi. Hufft...” Padahal Riyana sudah senang aja mau ajakin Renata sama Rafa jalan saat Ryan tidak ada, karena dia tahu kalau kakaknya ada, urusan bakal panjang dan ribet. Ternyata sama saja. Ryan ada atau tidak, tetap saja ribet. "Sudah, sana siap - siap Ren. Nggak apa - apa kok, kamu kan perginya sama Riyana." ujar Terry. "Ryan nggak bakal marah. Lagi pula, sesekali kamu juga perlu refreshing. Selama seminggu kamu disini, kamu selalu aja di dapur, ruang tengah sama dikamar Rafa. Ada baiknya kamu keluar bersama Riyana biar bisa berbelanja dan memanjakan diri." “Tapi...” ucap Renata masih ragu. Tetapi sebenarnya dalam hatinya setuju dengan perkataan Terry. Dia butuh refreshing. Semua orang membutuhkan itu.   “Aduh, jangan tapi – tapi deh. Sana siap – siap.” titah Riyana.   “Baiklah kalau begitu. Tapi kamu kirim pesan juga ya sama kakak kamu biar dia percaya aku keluarnya sama kamu.”   “Oke.” * Dua jam kemudian Renata, Riyana dan Rafa sudah sampai di mall. Perjalanan mereka memang cukup lama karena lalintas siang itu macet. Dan selama dalam perjalanan, Renata sempat - sempatnya mengirim beberapa pesan pada Ryan. Tapi sayang sekali, pesan itu sama sekali belum dibaca. Sebelum menjelajahi toko – toko, terlebih dahulu mereka mampir di restoran untuk makan siang. "Lafa mau makan esklim." rengek anak itu. "Iya, nanti kita beli." ucap Riyana. Setelah selesai makan, mereka langsung berjalan - jalan. Saat meilhat sebuah kedai yang menjual eskrim, mereka berhenti disitu untuk membelinya. "Lafa mau lasa coklat." "Iya." ucap Riyana. "Kalau kamu mau rasa apa Ren ?" tanyanya pada Renata. "Sama kayak Rafa." "Mba, pesan rasa coklat 3 ya." ucap Riyana pada si penjual toko sambil memberikan uang. Mereka duduk bentar di kursi didepan kedai untuk menimmati eskrim itu. Setelah selesai mereka langsung menjelajahi beberapa toko, mulai dari toko pakaian, sepatu dan tas sehingga kantong hasil belanja mereka perlahan tapi pasti terus bertambah. Tetapi semua kantong hasil belanja itu hanyalah milik Riyana.   “Kamu belum membeli apapun loh Ren." ucap Riyana pada Renata.   “Nggak apa – apa. Soalnya belum ada yang cocok.”   Belum cocok yang dimaksud oleh Renata adalah belum cocok harganya bukan belum cocok model atau warna dari barang – barang yang mereka lihat. Secara Riyana mengajak Renata berbelanja di toko – toko branded yang harga barang – barang disana tidaklah murah.   “Ya sudah, aku pilihin satu buat kamu.”   “Nggak usah. Aku juga ngga terlalu butuh pakaian, tas atau sepatu yang baru.”   “Jangan menolak. Anggap saja aku beliin sesuatu buat kamu itu sebagai hadiah karena kamu sudah baik sama aku dan juga sudah baik sama Rafa.”   “Astaga, Na. Ngga perlu kasih apa – apa ke aku. Bersikap baik kepada sesama itu sudah seharusnya dilakukan oleh setiap orang. Lagi pula, itu juga sudah tugas aku.”   “Sudah jangan banyak bicara. Pokoknya aku mau beliin sesuatu buat kamu." Riyana bersikukuh, setengah memaksa. "Aku harap kamu mau menerima dan memakainya. Jika seseorang mau memberi sesuatu seharusnya kamu jangan menolak. Apalagi aku kasihnya tulus dan ikhlas.”     Renata tersenyum. “Baiklah. Terimakasih Na.” ujar Renata tulus.   Riyana kemudian melihat beberapa gaun. Satu gaun panjang berwarna putih tanpa lengan menarik perhatian Riyana. Ia kemudian mengambil gaun itu. “Ren, coba kamu pakai ini. Ini pasti cocok buat kamu.”   Seorang pramuniaga membantu mengambil gaun itu dan menyerahkannya ke Renata.   Renata ternganga. Seumur – umur dia dia tidak pernah mengenakkan pakaian seksi dan mahal. Sekilas Renata melihat label harga gaun itu. Harganya fantastis, sama dengan gaji Renata untuk job merawat Rafa.   “Kayaknya ini nggak cocok di aku.” ucap Renata setengah berbisik.   “Cobain dulu biar aku bisa lihat penampilan kamu, cocok atau nggak.”   “Buluan auntie, Lafa sudah capek.” sungut Rafa.   “Iya sayang, sebentar ya. Duduk disitu dulu deh.” ucap Riyana pada Rafa sambil menunjuk sebuah kursi. “Nanti setelah ini auntie beliin mainan buat Rafa.” lanjutnya membujuk anak itu.   “Ren, cepetan cobain gaunnya.” Riyana sedikit mendorong Renata.   Akhirnya Renata mencoba gaun itu.   Saat Renata muncul dari balik kain kamar coba, mata Riyana terpana kagum. Gaun itu seolah dirancang khusus untuknya untuk menonjolkan lekuk tubuh Renata yang ramping.   “Bagaimana menurutmu?” tanya Renata.   “Oh Tuhan, Rena. Kamu terlihat sangat cantik, glamor, elegan dan seksi. Gaun ini benar – benar sangat – sangat cocok untuk kamu. Fix, kita beli itu.”   "Tapi ini apa nggak terlalu seksi?" "Enggak lah. Bagus kok di kamu. Cocok. Aku beli yang ini aja ya." Renata kemudian mengangguk. "Oke. Makasih ya, Na."   Ada rasa senang dihati Renata saat mendengar pendapat Riyana tentang dirinya saat mengenakan gaun itu. Tetapi entah mengapa dalam pikirannya muncul sebuah pertanyaan tentang bagaimana pendapat Ryan jika pria itu melihatnya mengenakan gaun itu. Apakah pendapat Ryan akan sama dengan pendapat Riyana? Renata bertanya - tanya dalam hati. Apakah Ryan akan memujinya, mengatakan bahwa dia cantik dan seksi ? Dan yang lebih penting adalah apakah Ryan akan menyukainya ?   “Aku memang akan membeli gaun itu, tapi apa kamu tidak akan membukanya?” celetuk Riyana.   “Oh iya, maaf. Tunggu sebentar.” Renata cepat - cepat kembali kedalam ruang ganti.   Disana dia beberapa kali menarik napas panjang untuk mengontrol hati dan pikirannya.  Tetapi tiba - tiba saja mulutnya bergumam, "Astaga.... kenapa aku jadi mikiran pak Ryan sih? Ada apa dengan diriku ?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN