"Kalau rindu bilang, Mbak! Jangan cuma dipandang dari kejauhan tapi segera hampiri dan peluk dia. Nggak cuma Mbak dan Mas Dwika yang kangen di sini. Jika Dika bisa mengungkapkan dia pun kangen sama Papanya." Ucapan yang terdengar dari belakang tubuhku membuatku berbalik, sosok tampan dan menawan di usianya yang masih begitu muda ini membuatku mau tidak mau tersenyum setiap kali mata kami bertemu tatap. Tidak heran banyak yang menyalahartikan kedekatan antara aku dan dokter Abra, termasuk salah satunya Bang Dwika sendiri, Ayah dari putraku sendiri yang kini ada di gendongan dokter Abra, tapi seolah tidak mengizinkan Dika mendengar apapun perbincangan dengan kami. Sebuah headphone kini bertengger di telinganya. Tidak tanggung-tanggung, headphone yang terkenal di kalangan gamers ini bukan m

