"Papa nggak ada buat kesalahan lagi, kan? Kalau sikap baik Papa ini hanya sekedar untuk meminta maaf bukan untuk selamanya, mending nggak usah sekalian, Pa." "Dika........" "Dika sedih lihat Mama nangis terus. Dika pengen lihat Mama bahagia lagi." Percayalah, saat mendengar harapan polos dari seorang putra yang sangat menyayangi ibunya, saat itulah Dwika merasa hidupnya benar-benar hancur tidak ada harganya lagi. Sungguh, Dwika benar-benar menyesal sudah pernah bersimpati pada keadaan sahabatnya yang kini mendekam dibalik jeruji besi, niatnya untuk membantu temannya tersebut yang sedang kesusahan nyatanya tidak lebih dari membantu ular berbisa yang akhirnya mematuk dirinya hingga kematian pun terasa lebih menyenangkan daripada diacuhkan oleh anak dan istrinya seperti ini. Seandainya sa

