Giana dan Derrel masih mengobrol santai di bangku taman. Semua hal yang terjadi tidak ada yang bisa ditutupi lagi. Mereka saling sharing dalam banyak hal. Mereka sudah benar-benar seperti saudara kandung.
Derrel pernah berjanji akan selalu menjaga Giana seperti kakak kandungnya. Derrel menyayangi Giana layaknya adik pada kakaknya. Perasaan suka dan cintanya sudah berubah, itulah yang membuat Derrel tidak canggung pada Giana begitupun Giana.
"Honey..." sapa Steve tepat dibelakang Giana.
"Eh... haaii... udah selesai ?" jawab Giana
"Serius amat sih, lagi ngobrolin apa kalian." tanya Steve pada Giana dan Derrel.
"Biasalah Kak... sesi curhat gw." jawab Derrel asal.
"Curhat mulu lu... cari cewe sana, biar ga ganggu pacar gw mulu." omel Steve
"Yeee... pelit amat lu." sahut Derrel tidak mau kalah.
"Udah... udah... yuk ah jalan. Ntar kemaleman. Bye Der, gw jalan dulu yaa..." Giana melerai kemudian pamit pada Derrel.
Steve buru-buru merangkul Giana kemudian tersenyum meledek kepada Derrel.
"Iya dah tinggalin aja terus gw yang jomblo." teriak Derrel.
Setelah Giana dan Steve pergi, Derrel melirik kearah Nick duduk tadi. Ternyata Nick sudah tidak ada ditempatnya.
Derrel langsung mencari kemana Nick pergi. Derrel sudah tau kejadian terakhir yang membuat Nick pergi meninggalkan Giana. Derrel mengkhawatirkan Nick sekarang. Semua hal tentang Giana selalu membuat pikiran Nick berantakan. Derrel berlari kesekitar taman kampus tapi dia tidak melihat Nick disana, Derrel memutuskan mencari keluar kampus. Dia terus berlari dan matanya berkeliling mencari sosok Nick tapi Derrel kesulitan mencari ditengah ramainya mahasiswa yang ada didepan kampus. Derrel pun berusaha menelpon Nick, namun berkali-kali panggilannya tidak terjawab.
Giana berjalan bergandengan tangan bersama Steve kearah pedagang kaki lima sekitar kampus. Mereka memutuskan untuk jajan diarea sekitar kampus. Ketika akan masuk salah satu warung baso, Giana melihat Derrel yang terlihat panik sambil berlari dan seperti mencari sesuatu. Giana ikut memperhatikan kearah Derrel dan sekitarnya, sampai dia melihat sosok yang membuat jantungnya serasa berhenti. Giana membeku memperhatikan sosok yang ternyata masih mempunyai tempat istimewa dihatinya. Giana tidak menyangka jantungnya masih berdebar kencang melihatnya. Giana memalingkan wajahnya dan mencoba mengabaikannya, mengingat dia ditinggalkan tanpa kabar.
"Honey... " Steve memanggilnya sambil memegang bahunya.
"Eh ya... yuk masuk. Aku mau baso halus aja."
"Bang, basonya aja 2 mangkok ya. Baso halus semua. Minumnya es jeruk 2 ya Bang." pesan Steve pada abang baso setelah memasuki warung.
"Oke... duduk dulu mas. Nanti diantar." jawab abang baso.
Steve kemudian duduk disebelah Giana. Giana sudah duduk didekat pintu dan menghadap ke jalan.
" Ini basonya mas, 2 mangkok. Ini es jeruknya 2 juga. Silahkan." ucap abang baso saat mengantar pesanan Steve dan Giana.
"Honey... ayo makan."
"Iya." hanya itu yang keluar dari mulut Giana tapi Giana hanya mengambil es jeruk dan mengaduknya.
Giana meminum es jeruknya sambil terus memperhatikan kearah jalanan. Steve yang melihat Giana mendadak tidak fokus jadi ikut memperhatikan arah pandang Giana. Steve menegur Giana kembali sambil menyodorkan mangkok baso Giana. Giana hanya tersenyum dan menerima mangkok baso yang diberikan Steve.
Tapi Giana malah kembali memperhatikan kearah jalan. Steve merasa kesal tapi dia sendiri bingung dengan apa yang diperhatikan Giana. Steve melihat Giana memperhatikan kearah jalanan tapi tatapan mata Giana seolah kosong seperti orang melamun. Steve bingung dengan perubahan Giana yang tiba-tiba. Karena tadi saat keluar kampus, Giana masih terlihat ceria dan masih fokus. Sekarang Giana seperti hilang fokus dan melamun. Beberapa kali Steve memanggil pun Giana tidak bergeming.
Giana terus memperhatikan Nick dari tempat duduknya. Dia merasa kesal tapi hatinya seperti menyuruhnya untuk mendekat pada Nick. Hatinya menyuruhnya untuk bertanya alasan Nick menghilang. Disaat Giana masih bimbang, tiba-tiba Giana melihat ada motor yang hilang kendali melaju kearah Nick. Giana yang melihat Nick tidak bergeming dan tidak sadar ada bahaya yang menghampirinya langsung berlari keluar warung baso dan berteriak.
"Niiiiiiiiccccckkkkkk........!!!!!!!" teriak Giana berlari kencang kearah Nick.
Derrel yang mendengar teriakan memanggil nama Nick langsung menoleh dan diapun segera berlari kearah Nick.
bbbrrrrrraaaaaaaakkkkkkkkk..........
Terlambat
Nick terpental dan terpelanting keaspal. Giana terus berlari kearah Nick. Derrel pun berlari secepatnya kearah Nick yang sudah tergeletak diaspal.
"Kaaakk... " teriak Derrel ketika sudah ada didekat Nick.
"Nick... bangun Nick !!!" isak Giana.
"Steevveee... tolong Steevveee..." teriak Giana pada Steve.
Steve yang memang mengikuti Giana berlari sudah langsung menelpon ambulan sesaat setelah melihat kecelakaan terjadi kemudian Steve memberikan pertolongan pertama pada Nick.
"Nick... bangun Nick... jangan tinggalin aku lagi!!" Giana terus berbicara dalam tangisnya.
"Tenang Kak... tenang... Kak Nick pasti baik-baik aja."
"Bang-uuunnn... Niiicckk... hikksss hiiikkss." Giana terus memanggil Nick sambil menangis.
Steve yang melihat Giana mengenal korban kecelakaan dan menangis sambil terus memanggil-manggil namanya, merasa bingung pada awalnya. Steve tidak tahu ada hubungan apa Giana dengan korban kecelakaan tapi melihat Giana menangis sesenggukan dan berkata tidak ingin ditinggalkan lagi membuat Steve merasa cemburu.
Setelah ambulan datang Steve ikut didalam mobil ambulan. Steve melarang Giana ikut dalam ambulan, dia meminta Derrel mengantar Giana kerumah sakit. Selain karena alasan cemburu, Steve juga tidak ingin Giana menghambat petugas medis didalam ambulan.
•••
Nick melangkah lunglai meninggalkan taman kampus. Dia merasa sudah tidak memiliki harapan lagi untuk bersama Giana. Nick memperhatikan interaksi Giana dan Steve dan melihat Giana menggandeng tangan Steve menjauh dari taman kampus.
Nick benar-benar merasakan dadanya berdenyut luar biasa, dia tidak menyangka hatinya akan sesakit ini melihat Giana bahagia dengan yang lain. Nick pikir hatinya sudah baik-baik saja jika bertemu Giana lagi, nyatanya tidak seperti bayangan Nick.
Nick memutuskan pergi dari kampus, dia tidak ingin terlalu lama lagi melihat kemesraan Giana dan Steve. Dia memutuskan meninggalkan motornya dikampus, dia berjalan keluar kampus dan akan menunggu taksi didepan kampus. Dia tidak ingin kejadian terakhir terulang lagi.
Setelah sampai didepan kampus, Nick memilih berdiri disebelah tiang papan reklame besar untuk bersandar. Nick bersandar sambil menunggu taksi, dia merasa kepalanya pusing dan napasnya sesak. Sesekali Nick memejamkan matanya untuk menetralkan perasaanya. Nick ingin cepat sampai dirumah dan beristirahat.
Berkali-kali handphonenya berbunyi pun Nick tidak menyadarinya. Dia terlalu larut dalam kegalauannya yang membuat kepalanya pusing dan merasakan sesak nafas. Nick masih terus memejamkan matanya, hanya sesekali melihat kearah jalan untuk melihat ada tidaknya taksi yang melintas.
Haruskah Nick merelakan Giana, Nick ingin Giana bahagia. Ketika dia pergi meninggalkan Giana untuk pengobatan ke Singapore, dia berpikir Giana tidak menyukainya tidak mencintainya. Dia tidak menyangka kalau ternyata Giana menyukai dan mencintainya sama seperti dirinya. Sayangnya Nick baru mengetahui kenyataan Giana mencintainya setelah Giana bersama Steve. Nick merasa Giana sudah bahagia dengan Steve, dia tidak ingin merusak kebahagiaan Giana. Nick merasa sangat bersalah meninggalkan Giana tanpa kabar dan tidak berusaha menghubungi Giana selama ini. Ya itu semua kesalahannya yang tidak menanyakan dan memastikannya kepada Giana. Seandainya dulu Nick lebih berani dan lebih sabar untuk tetap didekat Giana.
Semua sudah terlambat, Giana sudah bersama Steve. Nick benar-benar tidak memiliki harapan. Pikirannya terus berputar-putar menyesali keputusannya dulu. Nick merasa kepalanya semakin pusing dan dadanya semakin sesak, sampai dia merasa mendengar suara Giana memanggilnya. Nick berusaha menyadarkan dirinya, dia berpikir sedang berhalusinasi saat mendengar teriakan Giana memanggilnya.
Teriakan Giana terasa begitu nyata ditelinga Nick, dia berusaha mengikuti arah suara Giana. Tiba-tiba dia merasakan tubuhnya melayang dan membentur aspal. Sayup-sayup Nick masih mendengar suara Giana, bahkan suara Giana semakin mendekatinya.
Giananya ada didekatnya, memanggil namanya, memegang tangannya dan menangis. Tidak, dia tidak ingin melihat Giana menangis. Bukan ini pertemuan yang dia harapkan. Nick ingin bertemu Giana dan melihat senyum bahagianya, bukan airmatanya. Nick ingin memeluk Giana, tersenyum dan mengucapkan kata cintanya untuk Giana. Tapi kini Nick tidak sanggup untuk sekedar memanggil nama Giana bahkan membuka matanya pun Nick sudah tidak sanggup. Kepalanya semakin berat dan semua menjadi gelap.
Sebelum tidak sadarkan diri, Nick masih sempat melihat Steve yang memberikan pertolongan pertama padanya. Setelah mendengar sirine ambulan Nick tidak ingat apa-apa lagi.
Suasana trotoar sekitar kampus semakin ramai, banyak yang memperhatikan kejadian tersebut. Pengendara motor yang menyerempet Nick pun dilarikan kerumah sakit.
Mahasiswa yang masih ada disekitaran kampus memperhatikan Steve yang memberikan pertolongan pertama pada Nick. Banyak yang berbisik-bisik karena Giana meneriakkan nama Nick dan menangisi Nick. Ada juga yang bertanya siapa Nick. Banyak juga yang berbisik-bisik tentang betapa kerennya Steve yang memberikan pertolongan pertama pada Nick dan pengendara motor yang menyerempet Nick.
Setelah ambulan membawa Nick, Derrel menggandeng tangan Giana pergi ke parkiran motor kampus untuk menyusul kerumah sakit. Sepanjang perjalanan Derrel masih mendengar isakan Giana. Derrel menyesali kenapa dia tidak lebih cepat menemukan Nick. Derrel pun menyayangkan kenapa pertemuan Giana dan Nick setelah berpisah lama harus seperti ini. Derrel segera memacu motornya untuk segera sampai rumah sakit, dia sangat mengkhawatirkan Nick. Giana pun masih terus menangis dan memanggil nama Nick.
Giana benar-benar tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Nick dengan cara yang tidak diduganya selama ini.