Sampai dirumah sakit, Nick langsung dibawa kekamar operasi karena Steve sudah menelpon dokter Ferdi tentang kondisi Nick selama di ambulan. Dokter Ferdi sudah menyiapkan ruang operasi dan sudah mengatur dokter dan suster IGD untuk menunggu kedatangan ambulan yang membawa Nick agar langsung masuk ruang operasi.
Steve menunggu Derrel dan Giana didepan ruang operasi. Sampai Steve melihat dr. Ken dan dr. Ferdi berjalan kearah ruang operasi.
Steve sedikit heran ketika melihat dr. Ken dan dr. Ferdi buru-buru masuk ruangan operasi Nick. Sebelum masuk ruang operasi, dr. Ken sempat menanyakan cedera yang dialami Nick pada Steve kemudian mengucapkan terima kasih dan langsung masuk ruang operasi.
Dokter Ken adalah dokter senior dan pemilik rumah sakit ini, sedangkan dokter Ferdi adalah dokter senior dan direktur rumah sakit. Menurut Steve cedera yang dialami Nick tidak terlalu parah sampai harus melibatkan 2 dokter senior rumah sakit ini. Ditengah kebingungannya, Steve melihat Derrel datang bersama Giana sambil berlari.
"Gimana Nick, Steve?" tanya Giana masih dengan isakannya.
"Dia sudah ditangani dr. Ken dan dr. Ferdi. Tenanglah honey, Nick sudah ditangani 2 dokter hebat rumah sakit ini." jawab Steve menenangkan walaupun dia tidak suka Giana menangis untuk Nick.
"Dokter Ken? Dokter Kendrick sudah didalam?" tanya Derrel memastikan.
"Iya dr. Kendrick. Kenapa? Lu kenal dr. Ken?" jawab Steve heran.
"Syukurlah." Derrel tidak menjawab pertanyaan Steve malah menghembuskan nafasnya lega.
Steve terus menenangkan Giana yang tidak berhenti menangis. Dia sudah sangat kesal karena Giana bisa-bisanya menangisi pria lain yang bukan pacarnya.
"Honey... udah ya, ga usah nangis terus. Aku ga suka kamu nangisin Nick. Aku itu pacar kamu, tapi kamu malah sibuk nangisin cowok lain !!" ketus Steve.
Giana langsung terdiam, dia seolah baru tersadar statusnya sekarang. Dia pacar Steve, kenapa dia malah menangisi Nick. Orang yang dulu meninggalkannya tanpa kabar dan kejelasan. Tapi hatinya tidak tenang melihat Nick yang terluka didepan matanya. Orang yang selama ini dia tunggu dan harapkan kedatangannya. Hari ini akhirnya dia bertemu Nick lagi tapi didepan matanya justru Nick terluka.
Sejujurnya Giana merasa sangat bersalah karena pernyataan cinta Nick dulu tidak ia jawab dengan benar. Giana merasa Nick salah paham dan pergi tanpa ada kabar. Makanya walau hati Giana merasa kesal tapi Giana juga merasa bersalah pada Nick. Giana tidak menyangka kalau hatinya langsung goyah begitu melihat Nick, walaupun ada Steve disampingnya. Giana merasa hubungannya dengan Steve menjadi sia-sia, selama ini Giana sudah berusaha mengubur perasaannya pada Nick dan berusaha membalas cinta Steve. Mendengar perkataan Steve, Giana menjadi bimbang. Sekarang Steve adalah pacarnya, Nick hanyalah bagian masa lalunya. Tapi dia tidak bisa berhenti menangis karena belum tahu apakah Nick baik-baik saja didalam ruang operasi.
Steve menjadi kesal dan marah karena Giana masih terus menangis dan tidak mendengar perkataannya.
"Ayo pulang Gii, ada Derrel disini. Kamu ga usah khawatirin Nick." ajak Steve sambil menggandeng tangan Giana.
Giana menolak ajakan Steve. Steve memaksa sambil menarik tangan Giana.
"Udahlah Steve, nanti gw anter Giana pulang. Biar aja dia disini sampai Nick selesai operasi." lerai Derrel
"Ga usah ikut campur lu !" ketus Steve
"Ayo Gii pulang." Steve menarik paksa tangan Giana.
"Aku tunggu sampai selesai operasi ya Steve." mohon Giana.
"Gaa... ayo pulang. Nick sudah ditangani dokter senior, udah ada Derrel juga yang nunggu, bentar lagi keluarganya juga pasti dateng. Buat apalagi kamu nunggu disini. Aku itu pacar kamu Gi, kenapa sih kamu tetep ngotot nungguin Nick? Apa kamu selingkuh sama Nick? Sampe-sampe kamu lebih perhatian sama dia dibanding aku." suara Steve semakin meninggi.
"Kamu kok bisa-bisanya bilang aku selingkuh sama Nick? Aku aja baru ketemu lagi hari ini persis pada saat kecelakaan tadi, gimana aku selingkuh." jawab Giana ketus karena tidak suka dibilang selingkuhan Nick.
"Ketemu lagi ??? Berarti kamu pernah ketemu dan kenal Nick?" tanya Steve semakin emosi.
"Udah guys... ini rumah sakit. Berantemnya diluar aja. Pulang ya Kak... nanti gw kabarin lu kalo Kak Nick selesai operasi. Kak Nick pasti baik-baik aja." lerai Derrel sambil merayu Giana untuk pulang agar tidak terjadi pertengkaran.
Giana diam tidak mendengarkan Steve maupun Derrel. Dia tetap menunggu Nick.
"GIANA !! Lu pulang sama gw atau kita PUTUS !!!" ancam Steve.
"Putus." jawab Giana tanpa menoleh kearah Steve.
Steve membelalak tidak percaya begitupun Derrel. Giana benar-benar tidak bergeming, tatapannya tetap tertuju kearah pintu ruang operasi. Airmatanya masih terus menetes walau tidak sederas tadi.
•••
Steve benar-benar tidak percaya dengan keputusan Giana, pacarnya yang selama ini sangat baik dan penurut.
Selama berpacaran Giana tidak pernah membantah Steve, dia selalu menuruti kata-kata Steve. Perdebatan selalu ada tapi Giana selalu mengalah dan menuruti kata-kata Steve. Dan sekarang Giana tidak menuruti kata-katanya dan lebih memilih putus darinya. Steve terbawa emosi karena sebegitu khawatirnya Giana pada Nick, yang bukanlah siapa-siapa Giana. Karena emosinya, Steve mengeluarkan kata putus dan Giana mengiyakannya. Hati Steve semakin kesal dan marah, tapi dia berusaha membujuk Giana.
"Honey... maaf ya, aku emosi. Aku ga suka kamu lebih khawatirin cowok lain yang bukan siapa-siapa kamu. Aku kesal karena kamu lebih perhatiin Nick dibanding aku pacar kamu. Aku ga bermaksud putus sama kamu, itu cuma karena aku emosi aja. Sekarang kita pulang yaaa... besok kita kesini lagi." jelas Steve panjang lebar berharap Giana merubah keputusannya dan memaafkannya.
"Maaf Steve, kita cukup sampai disini. Kamu benar, ga seharusnya aku mengkhawatirkan cowok lain yang bukan pacarku. Ga seharusnya aku lebih perhatian sama Nick. Tapi aku ga bisa untuk ga peduli sama Nick. Maaf kalau selama ini hatiku ga sepenuhnya buat kamu, maaf kalau aku bukan pacar yang baik selama ini. Terima kasih untuk perhatian kamu selama ini. Dan terima kasih tadi kamu sudah memberikan pertolongan pertama pada Nick." jawab Giana tegas.
"Honey... maaf untuk kata-kataku. Aku ga mau kita putus, aku tadi kebawa emosi. A-aku..."
"Cukup Steve... kita putus." tegas Giana lagi.
"Mending lu pulang dulu bro. Besok lu juga dinas pagi kan. Nanti gw anter Giana pulang." Derrel menengahi ketika Steve kembali akan memaksa Giana.
Steve hanya bisa menatap Giana yang tetap menatap pintu ruang operasi. Steve akhirnya mengalah dan memilih pergi dari sana.
Setelah Steve pergi, Derrel duduk disebelah Giana. Dia merangkul Giana dan menepuk-nepuk lengan Giana. Dia tahu Giana tidak sekuat itu, hatinya pasti bimbang. Disaat hatinya goyah melihat Nick kembali dan Steve memilih putus dengannya. Bukan mempertahankannya tapi lebih mengutamakan emosinya dan mengeluarkan kata putus untuk Giana. Tapi Derrel menjadi lebih tenang karena Steve meminta putus pada Giana. Karena selama ini Steve tidak benar-benar memperjuangkan Giana, Steve bukanlah cowok setia. Derrel senang dengan keputusan Giana yang menjawab tegas kata-kata Steve. Walaupun selama berpacaran dengan Steve hati Giana pun belum bisa menerima, tapi Giana selalu baik dan tidak pernah membantah Steve.
Giana melihat Derrel kemudian airmatanya kembali menetes. Giana menangis kembali, hanya Derrel yang mengerti kenapa Giana begitu ngotot menunggu Nick. Selama ini hanya Derrel yang menjadi tempat Giana bercerita tentang rasa rindunya, sedihnya, kehilangannya pada Nick. Giana tidak menyangka kalau Derrel ternyata mengenal Nick.
"Rel... lu kenal Nick ?" tanya Giana sambil menyandarkan bahunya dipundak Derrel.
"Iya Kak, dia senior yang gw ceritain itu."
"Kok lu ga pernah cerita ke gw kalo senior lu itu Nick." tanya Giana lagi.
"Kalo gw tau orang yang lu ceritain itu Kak Nick, dari awal udah gw kasih tau lu Kak. Lu juga ga pernah bilang namanya Nick." protes Derrel.
"Iya juga yah, gw ga pernah bilang orang yang gw cari namanya Nick." jawab Giana sambil menghembuskan nafasnya.
"Kenapa operasinya lama ya Rel. Gw takut Nick kenapa-napa. Gw nyesel banget selama ini ga coba cari Nick. Hari ini akhirnya gw ketemu Nick justru dengan keadaan begini. Dan membuat Steve salah paham. Gw ga nyangka bisa-bisanya Steve bilang gw selingkuh sama Nick dan milih putus ama gw. Gw salah ya Rel, gw khawatirin Nick. Gw mau mastiin hati gw, tapi ternyata Steve malah nuduh kalau gw selingkuh. Tapi mungkin itu jalan terbaik buat gw ama Steve, biar kita ga saling nyakitin. Salah gw emang pacaran sama Steve disaat hati gw belum bisa sepenuhnya melupakan Nick. Salah ga sih gw masih nyimpen perasaan gw buat Nick ? Salah ya Rel? Gw jahat ya ?"
"Lu berhak mengikuti kata hati Lu Kak. Lu ga salah, lu ga jahat. Hati lu bimbang dan Steve cemburu. Lu bisa ngobrol sama Steve baik-baik setelah lu berdua tenang. Keputusan lu berdua tadi dilandasi emosi, nanti diobrolin baik-baik. Jadi lu berdua bisa selesaiin masalah kesalahpahaman kalian dengan benar." nasehat Derrel.
"Tapi gw udah yakin putus sama Steve. Hati gw ga bisa. Selama ini gw udah coba buat kasih hati gw buat Steve, tapi lu juga tau kan apa yang gw dapet. "
"Ya dah lu tenang dulu Kak, makan dulu yuk. Lu belum makan kan." ajak Derrel.
"Gw disini aja Rel, gw mau sampe Nick selesai operasi. Gw ga tenang."
"Oke oke. Tapi setelah tau Kak Nick baik-baik aja, kita makan ya. Kak Nick juga pasti ga mau lu sakit Kak." bujuk Derrel lagi.
"Hmmm..." Giana menjawab dengan lesu.