" Derrel "
Derrel melihat kearah lorong dan langsung berdiri.
"Halo Tante" sapa Derrel sambil mengangguk sopan.
"Gimana Nick, belum selesai operasinya? Kenapa Nick bisa kecelakaan? Nick ga pa-pa kan?" berondong Tante Laura.
"Tanteee... tenang dulu. Nick baik-baik aja, om juga ada didalam, om ikut operasi Nick. Jadi tante ga usah khawatir. Sekarang Tante duduk dulu yaa... kita tunggu operasinya selesai. Nanti aku ceritain kejadiannya." jawab Derrel berusaha menenangkan Mama Nick.
Giana diam memperhatikan interaksi Derrel dengan Mama Nick. Dia tidak berani bersuara ketika tiba-tiba Mama Nick melihat kearah Giana dan memperhatikan Giana.
"Siapa Rel ?" tanya Tante Laura sambil memegang bahu Giana.
"Saya Giana, Tante..." jawab Giana sambil membungkuk sopan.
"Gi-a-na?? Giana... Gianaaa Reeellll ???" tanya Tante Laura terkejut.
"Iya Tan, Giana." jawab Derrel mengedipkan mata karena mengerti maksud pertanyaan Mama Nick.
"Ya Tuhan... akhirnya Giana. Kemana aja kamu ?? Syukurlah Nick ketemu kamu lagi." ucap Tante Laura sambil memeluk Giana dengan sayang.
"Tan-te." Giana kikuk.
Dia tidak menyangka Mama Nick tau namanya dan menyambutnya hangat.
Ceklek
Pintu ruang operasi dibuka dan dr. Ken keluar dari dalam ruang operasi.
"Waahh... boleh ikut dong pelukan. " goda dr. Ken kepada Tante Laura istrinya.
"Gimana Nick Pah? Nick ga parah kan, Nick baik-baik aja kan?" berondong Mama Nick.
Semua pertanyaan yang ingin ditanyakan Giana sudah diberondong Tante Laura. Dokter Ken tersenyum sambil memeluk istrinya.
"Nick baik-baik aja mah. Dia anak yang kuat. Sebentar lagi dipindah ke kamar, biar dia istirahat dulu ya."
"Kenapa operasinya lama Pah ? Mama kan khawatir." oceh Tante Laura.
"Iya sudah maaf, Papa kan memastikan semua baik-baik saja. O ya siapa ini Mah ?" Tante Laura tersenyum kemudian merangkul Giana.
"Saya Giana, Dokter." jawab Giana.
"Gi-a-na ?" reaksi yang sama terkejutnya dengan Tante Laura.
Tante Laura pun tersenyum melihat suaminya terkejut juga mendengar nama Giana.
"Halo Giana, saya papanya Nick. Panggil saja Om Ken seperti Derrel."
"Iya Om." jawab Giana sambil membungkuk sopan.
"Nick baik-baik saja, jadi sudah jangan nangis lagi ya. Kamu pulang saja dulu, besok pagi Nick sudah bisa dijenguk."
"Kalau boleh Giana mau jagain Nick di kamar rawat boleh Om? Saya ditemani Derrel menjaga Nick." jawab Giana meminta ijin.
"Nick sudah ada suster yang menjaga, baiknya kamu istirahat. Kamu pasti belum makan malam kan? Ajak Giana makan Rel." jawab Tante Laura.
"Heheheee... daritadi Giana ga mau makan Tan, susah diajak makan. Nangis terus nungguin Nick." jawab Derrel sambil meledek Giana.
"Ya sudah. Kalau Giana mau jagain Nick malam ini, kamu harus makan dulu ya. Kalau kamu sudah makan, kamu kompres dulu mata kamu ya supaya ga terlalu bengkak. Baru kamu boleh jagain Nick. Rel, pastiin Giana makan ya. Kalau ga makan ga boleh jagain Nick ya." titah dr. Ken panjang lebar sambil tersenyum.
"Siap Om." jawab Derrel dengan tangan memberi gerakan hormat.
"Terima kasih Om, Tante udah dibolehin jaga Nick. Giana pasti makan." jawab Giana semangat.
"Oke Tante tinggal dulu ya. Nanti kita ketemu di kamar rawat Nick ya." pamit Tante Laura sambil menggandeng tangan suaminya.
Giana tersenyum lega diperbolehkan menjaga Nick.
Derrel mengajak Giana ke kantin rumah sakit. Kantin rumah sakit sudah tidak terlalu ramai karena sudah lewat jam makan malam. Giana sebenarnya ingin buru-buru menemui Nick, namun Om Ken bilang Nick juga belum sadar dari pengaruh obat biusnya.
Sambil menunggu makanan datang, Giana memutuskan menelpon mamanya.
"Maahh... Giana udah ketemu Nick."
"Yaa Naa... oowwyaaa??? Dimana??? Kok suara kamu lemes sayang? Kenapa?" suara Mama
Liana terkejut sekaligus panik.
"Nick kecelakaan Maahh... Giana dirumah sakit sama Derrel."
"Terus... Nick gimana? Nick baik-baik aja kan Naaa???"
"Nick ga pa-pa Maahh, operasinya sudah selesai. Giana boleh ya Mah jagain Nick malam ini. Giana ditemenin Derrel kok Mah, boleh ya Maahh??" jawab Giana sambil merajuk.
"Kamu udah makan sayang? Kamu ga cape? Ya sudah kamu boleh jaga Nick malam ini, besok pagi Mama sama Papa kesana sekalian bawain kamu baju ya. Kamu istirahat juga ya sayang, jangan sampe sakit."
"Iya Maaahh... aku lagi dikantin sama Derrel. Abis makan baru ke kamar Nick. Nick masih belum sadar, doain Nick cepet sembuh ya Maahh..."
"Iya sayang... dah kamu makan dulu. Jangan lupa istirahat juga ya. Sampe besok ya."
Derrel datang sambil membawa makanan mereka.
"Tante Liana? Udah ijin Kak?" tanya Derrel
"Iya... udah. Besok pagi mama kesini bawain baju."
"Ya dah kita makan dulu, abis ini baru ke kamar Kak Nick."
"Iyaa."
Giana langsung melahap makanannya, bukan karena lapar tapi lebih karena tidak sabar ingin melihat Nick.
Derrel yang melihat Giana makan dengan lahapnya pun buru-buru melahap makanannya juga. Diam-diam Derrel tersenyum melihat Giana yang begitu khawatir dan tidak sabar bertemu Nick.
•••
Sampai dikamar rawat Nick, sudah ada Papa Mama Nick dan dr. Ferdi. Derrel dan Giana membungkuk sopan sebelum menutup pintu kamar Nick. Otomatis perbincangan mereka terhenti saat Giana dan Derrel masuk ke kamar rawat Nick.
"Nah... ini yang ditunggu sudah datang. Kalau begitu saya pamit Pak Kendrick, Ibu Laura. Kalau ada perlu silahkan panggil saya. Cepet sembuh ya Nick, besok saya visit kesini lagi. Permisi." ucap dr Ferdi sambil berpamitan.
Giana berpikir Nick belum sadar, ternyata Nick sudah sadar dan menunggunya. Jantung Giana langsung berdebar kencang saat matanya tidak sengaja melihat kearah Nick yang juga memperhatikannya.
"Naaa..." panggil Nick dengan suaranya yang masih lemah dan serak.
"Y-yaa... Nick." jawab Giana gugup.
Melihat kecanggungan Giana dan Nick, Mama Laura langsung merangkul Giana dan menuntunnya kearah ranjang Nick.
"Dah... silahkan ngobrol kangen-kangenan yaa. Tapi inget harus tidur ya Nick jangan begadang, supaya cepet pulih." ledek Mama Laura.
"Mamaaa..." ucap Nick grogi.
"Ayo Paahh... kita pulang aja. Ada Giana yang jaga Nick malam ini. Kamu Rel... mau jadi obat nyamuk malam ini ?"
Mama Papa Nick tertawa melihat muka Derrel yang memelas. Kemudian mereka pamit pulang untuk beristirahat.
Tinggal Giana didalam kamar Nick. Derrel memutuskan duduk di ruang tamu depan kamar Nick karena ga mau membuat Nick dan Giana semakin canggung. Derrel juga memilih menyibukkan diri dengan laptopnya.
"Ni-ick... ka-mu apa kabar ?" tanya Giana yang sibuk meredakan debaran di dadanya.
"Naaa... maaf." bukan menjawab pertanyaan Giana, Nick justru meminta maaf.
"Kena-pa?"
"Aku pergi ga kasih kabar ke kamu. Aku ga pamitan ke kamu. Aku tau dari Derrel kalau kamu cari aku. Maaf. Dan kita ketemu lagi justru dalam keadaan seperti ini. "
"ssstttthhh... ga apa Nick. Semua udah masa lalu, mungkin dulu aku juga salah paham sama kamu. Tapi Derrel juga udah cerita penyebab kamu pergi, maaf aku ga tau. Yang penting sekarang kamu baik-baik aja."
"Makasih ya Naa, kamu dan pacar kamu dah tolongin aku. Sampein terima kasih aku buat pacar kamu yaa."
"Aa-kuu udah putus sama Steve."
"Naaa... maaf kalau kamu sama Steve jadi salah paham karena aku. Aku bantu kamu jelasin sama Steve yaa."
"Ga perlu Nick. Aku sebenernya juga ga cinta sama Steve. Biar aku selesaiin sendiri masalah aku sama Steve. Kamu istirahat yaa, besok kita ngobrol lagi."
"Terima kasih ya Naa, kamu nungguin sampe aku sadar. Kamu juga istirahat Naa, tadi papa udah minta bersihin kamar khusus tamu. Kamu istirahat aja dikamar, biar Derrel di sofa. God Night Naa."
"Night Nick." ucap Giana sambil menutup pintu kamar Nick.
Giana keluar dari kamar Nick dan melihat Derrel duduk di sofa yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Rel, lu ga mandi?"
"Dah wangi gini masih ditanyain ga mandi." komplen Derrel sambil menepuk jidatnya.
"Emang lu dah mandi? Perasaan tetep kucel aja lu."
"Astaga Kak... gw kucel bukan karena ga mandi tapi gara-gara skripsi sama kerjaan nih. Mana Pak bos gw sakit lagi." oceh Derrel sambil menggaruk kepalanya.
"Ya namanya musibah Rel. Ya dah gw mandi dulu ya, titip liat-liat Nick bentar."
"Siaaap Bu bos." jawab Derrel dengan mata yang tetap melihat laptopnya dengan tangan yang sibuk mengetik.
Giana hanya menggelengkan kepalanya melihat Derrel yang begitu fokus tapi masih bisa menjawabnya.
"Kak, tadi Tante Laura titip paper bag buat lu. Ada dikamar katanya."
"Paper Bag?"
"Baju ganti kayanya Kak, tadi juga paper bag gw isi baju ganti. Nih bajunya dah gw pake makanya gw dah wangi."
"O iya ya tadi lu masih pake kemeja yah. Sekarang lu dah ganti kaos."
"Nah... lu ga perhatian sih sama gw Kak. Mentang-mentang dah ketemu pujaan hatinya, gw langsung dilupakan." Derrel langsung pura-pura cemberut.
"Hahaaa... ya ga gitu Rel. Gw kan daritadi panik, otak gw langsung blank."
"Ya dah buruan mandi terus ganti baju. Biar seger, baju lu kan ada darahnya."
"Haah... dimana? Owyaaa... astaga gw ga sadar daritadi."
"Makanya Tante Laura beliin baju ganti buat lu ama gw karena baju kita kotor. Dah sana buruan, bau banget luu...!" ucap Derrel sambil mengejek Giana.
"Astaga... iya bawel." ucap Giana sambil bergegas masuk kekamar tamu untuk mandi.
Selesai mandi, Giana menghampiri Derrel.
"Rel, lu tidur kamar aja. Gw tidur sofa kamar rawat Nick aja. Gw takut dia ada perlu apa-apa kalo malem kebangun."
"Ciyeee... ehhh-hmmm... eehhh-hmm hmm... tenggorokan gw jadi mendadak gatel ya?!"
"Rese emang lu." ucap Giana sambil memukul lengan Derrel.
"Iya dah sana temenin. Gw tidur sini aja, masih beresin kerjaan bentar. Kalo ada perlu bangunin aja gw ya Kak."
"Ya dah... istirahat. Gw kedalem dulu ya."
Giana memeriksa kening serta infus Nick. Setelahnya dia merebahkan diri di sofa. Giana merasa lebih tenang menjaga Nick dari dekat.