Hari-hari menegangkan

1264 Kata
Hari ini pekerjaan di bagian keuangan menjadi lebih sibuk karena ada audit dadakan. Pagi-pagi saat jam kantor baru dimulai, ruangan finance sudah didatangi segerombolan auditor. Bu Yuli seperti kebakaran jenggot, dia berteriak kesana kesini. Setiap kali ada audit biasanya Bu Yuli yang menjadwalkan sehingga semua seperti sudah tertata rapi. Hari ini Bu Yuli memaki-maki semua orang karena dia tidak menjadwalkan adanya audit dan sekarang disaat jam kantor baru dimulai ruangannya sudah dipenuhi auditor yang langsung memeriksa masing-masing meja staff finance. Giana dan teman-temannya merapikan semua berkas dan pekerjaan mereka yang akan di audit. Bu Yuli terus berteriak-teriak karena dia tidak mau mejanya diperiksa. Dia beralasan ada data penting perusahaan yang tidak boleh diketahui orang luar seperti auditor. Tetapi auditor tetap tidak menggubris teriakan Bu Yuli, mereka tetap dengan sopan memeriksa semua berkas yang ada di laptop maupun meja Bu Yuli. Dan yang lebih membuat Bu Yuli marah adalah tidak ada staff finance yang boleh keluar ruangan. Bu Yuli berjalan kearah meja Ayu membawa beberapa berkas dalam map. Bu Yuli meminta Ayu menyembunyikan berkas tersebut dengan alasan rahasia perusahaan. Karena kebetulan Ayu baru saja masuk ruangan karena terlambat. Ayu yang bingung menerima berkas sambil bengong dan membuat Ayu mendapat cubitan di pinggang dari Bu Yuli. Ayu pun berteriak dengan sangat keras karena cubitan Bu Yuli yang lumayan keras. Yang membuat semua orang jadi menoleh kearah Ayu. "Aduh Ayu kalau jalan yang benar dong, jadi keinjek kan. Maaf ya." ucap Bu Yuli kencang untuk menutupinya. Bu Yuli berpura-pura mengusap Ayu sambil memberikan kode untuk menyembunyikan berkas yang dibawa. Ayu akhirnya menurut saja dan menyimpan dalam lacinya. Bu Yuli yang sudah panik tidak memikirkan lagi dimana Ayu menyimpannya. Kehebohan benar-benar terjadi di ruangan finance, Bu Yuli sibuk mondar mandir tidak karuan. Giana dan teman-temannya bingung melihat kelakuan Bu Yuli yang sibuk sendiri karena tidak diperbolehkan keluar ruangan. Giana dan teman-temannya memilih fokus pada kerjaan mereka dan sesekali menjawab pertanyaan dari auditor atau mencari file yang diminta auditor. Suara caci maki masih terdengar di ruangan Bu Yuli. Karena setiap auditor meminta data, Bu Yuli pasti mengelak dan mencari alasan walaupun sudah didesak. Dan hasilnya terjadi keributan-keributan tidak jelas di dalam ruangan Bu Yuli. Bahkan auditor yang bertugas di ruangan Bu Yuli ada 3 orang dengan alasan supaya cepat selesai. Pada saat jam makan siang pun ruangan finance tetap terkunci dan ada OB yang mengantarkan nasi kotak dari kantin. Mereka benar-benar tidak diperbolehkan keluar ruangan. Untungnya ruangan finance memiliki toilet tersendiri, entah atas dasar apa awalnya toilet dibangun di ruangan finance. Walaupun cuma ada 1 toilet yang letaknya di sebelah ruangan Bu Yuli tapi staff finance tetap bersyukur mereka tidak harus menahan diri untuk ke toilet. Giana dan teman-temannya bersama auditor memilih beristirahat sebentar untuk makan siang. Dan tadi Giana meminta tolong OB untuk membelikan jajanan di sudut jajan beserta aneka minuman fresh juice yang sudah dikemas dalam botol untuk dibagikan kepada teman-temannya untuk cemilan sore nanti. Sedangkan di ruangan Bu Yuli suasana masih berjalan alot dan sepertinya mereka akan menunda makan siang. Ketika mereka sedang asik makan siang tiba-tiba dari luar ruangan terdengar juga suara cacian. Dan itu berasal dari ruang Pak Darma yang merasa tidak terima juga dirinya dilarang keluar ruangan sampai sore nanti. Suasana di kantor sedang panas dan Giana berusaha menenangkan Ayu yang ketakutan karena menyimpan dokumen yang katanya rahasia perusahaan. Waktu 30 menit mereka gunakan untuk makan siang dan ke toilet, setelah itu mereka kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Data-data yang mencurigakan atau yang tidak disertakan dokumen pelengkap dipisahkan untuk diperiksa lebih dalam lagi. Ketika selesai jam kantor, pekerjaan mereka pun belum selesai. Semua berkas sudah selesai diperiksa dan ada beberapa yang akan dipisahkan untuk diperiksa keesokan hari, semua dikumpulkan dan dimasukkan kedalam 1 lemari dan dikunci. Termasuk berkas yang diberikan Bu Yuli pada Ayu. Ayu sudah menunjukkan wajah ketakutannya dan hampir menangis. Giana yang sebenarnya sudah sedikit tau situasinya pun berusaha menenangkan Ayu. Pukul 7 semua sudah bersiap untuk pulang dan Bu Yuli tetap ingin tinggal dengan alasan akan merapikan dokumen yang diobrak abrik. Tepat sebelum keributan kembali terjadi, asisten dokter Ken datang menjelaskan untuk mengosongkan ruangan dan tidak ada yang boleh lembur, semua diselesaikan esok hari. Bu Yuli tetap ngotot dengan membawa pulang beberapa berkas dengan alasan akan dikerjakan dirumah. Setelah perdebatan alot akhirnya Bu Yuli meninggalkan semua berkas serta laptop nya di kantor dan hanya membawa tas nya saja dan semua tas pun diperiksa isinya. Semua berjalan kearah lift bersamaan dan sepanjang jalan Bu Yuli mengoceh tidak jelas. Sampai didalam lift, Bu Yuli langsung menegur Ayu. "Ayu, dokumen tadi sudah kamu simpan baik-baik kan? Kamu simpan ditempat aman kan?" Ayu hanya menunduk ketakutan. Aku yang berdiri disebelah Ayu menggenggam tangan Ayu dan meminta Ayu menjawab iya saja pada Bu Yuli. "I-iyaa Bu." jawab Ayu gugup "Awas saja kalau dokumen itu tidak aman! Saya pecat kamu nanti!!" Ayu hanya diam dan menahan tangisnya, karena sedari pagi dia datang terlambat dan belum mengerti ada apa di dalam ruangannya langsung dititip dokumen yang menurut Bu Yuli rahasia perusahaan. Sekarang dia merasa benar-benar akan dipecat karena tadi dokumennya sudah diambil auditor. Setelah Bu Yuli keluar lift, mereka semua tanpa dikomando berjalan kearah berlawanan dengan Bu Yuli. Mereka semua langsung menenangkan Ayu dengan memeluk dan mengusap punggung Ayu. Mereka semua tau kalau Ayu adalah tulang punggung keluarga dan harus membiayai adiknya yang masih SMA. Selama bekerja Ayu juga tidak pernah aneh-aneh, dia bekerja sangat rajin dan tidak perhitungan. "Sabar ya Yuu..." ucap Tiara pada Ayu "Kita pasti bantu kok Yuu... kamu tenang aja." Dona pun ikut menenangkan Ayu. "Sebenernya ada apa sih... kok tiba-tiba ada audit. Biasanya kan kalau ada audit kita dikasih tau dulu dan siap-siap dulu. Kok ini pagi-pagi udah kacau begitu." tanya Ayu pada teman-temannya. "Kita juga ga tau Yuu... tadi pagi masih tenang-tenang, begitu jam kantor dimulai tiba-tiba segerombolan auditor masuk ruangan kita dan bilang ga boleh ada yang keluar ruangan." jelas Jefri. "Tadi gw denger teriakan Pak Darma. Dia teriak-teriak gini... "Kalian pikir saya koruptor, main tahan-tahan, main sidak-sidak. Apa-apaan ini, kalian ga bisa seenaknya, ruangan saya banyak sekali rahasia perusahaan." gitu sih kurang lebih yang gw denger tadi. Sisanya ga denger lagi, gw juga dah sibuk sama auditor." jelas Nathan. "Apa jangan-jangan ada yang korupsi ya??? Makanya disidak begini." celetuk Nita "Udah guys... mending kita pulang aja istirahat, besok kita juga pasti masih sibuk. Yang penting kita kerja bener aja, biarlah itu jadi urusan atasan aja. Besok jangan sampe pada ga masuk yaa, biar cepet kelar auditnya. Istirahat yang cukup biar besok udah fresh lagi karena seharian bakal sibuk lagi." "Males banget deh pulang, besok mesti pagi-pagi ngejer bus lagi biar ga telat. Lu pasti ketinggalan bus ya tadi pagi Yuu?" sahut Tiara sambil bertanya pada Ayu. "Ya gitulah, lu tau kan bus dari rumah gw penuh terus." jawab Ayu lemas. "Kalian mau nginep aja di mess gw selama ada audit?" Giana menawarkan pada temannya. "Gw pulang guys. Mau jalan dulu." sahut Dona sambil tersenyum dan menggandeng tangan Jefri. "Gw juga pulang. Ada yang mau nebeng?" ucap Nathan. "Gw ikuuttt..." ucap Nita yang memang rumahnya dekat dengan Nathan. "Okelah, gw numpang ya Gii... kita bareng aja nginep mess Giana." ajak Tiara sambil merangkul Ayu. "Gw kan ga bawa ganti. Gimana caranya besok ke kantor." sahut Ayu "Pake baju gw ga apa Yuu." "Beneran ga apa?" "Iya santai aja, baju gw di mess banyak. Dah ayo ah... bye guys." Mereka membubarkan diri, Giana beserta Ayu dan Tiara berjalan ke mess sedangkan Nathan dan Nita berjalan ke parkiran motor. Dona dan Jefri sudah menghilang daritadi. Sejak kehadiran Giana di divisi finance, mereka semua menjadi lebih kompak dan saling support satu sama lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN