“Tidak, tidak jangan rambutku, ini rambut kesayanganku. Akan butuh waktu yang lama untuk memanjangkannya kembali” Raya memegang rambut panjangnya yang indah, tak rela bila harus di potong begitu saja.
“Bisa saja, asal kembalikan uang saya” tawar Adi.
“Huuh, potongnya satu helai satu helai ya Cin” Raya menghembuskan nafasnya secara perlahan untuk menyiapkan diri berpisah dari rambut panjang kesayangan.
“Jangan ngaco kamu Raya, potong saja! Jangan didengarkan” perintah Adi ke pemilik salon.
“Kejam!” kata Raya emosi.
“Yang bagus ya Cin! Aku tidak mau kelihatan seperti laki-laki” Raya pasrah rambut indahnya mulai di potong pendek seperti kemauan Adi.
“Tenang saja Cin, Eike akan rubah kamu menjadi Shella, gadis yang anggun dan ngegemesin” kata lelaki itu dengan gemulainya mencubit ke dua pipi Shella dari belakang.
Raya banyak bertanya tentang sosok Shella pada pemilik salon untuk bekal mendalami aktingnya nanti. Salon ini merupakan salon langganan Shella kala masih bernafas.
Setelah Adi mendatangi panti asuhan yang sudah membesarkan Raya serta bertemu langsung kepala yayasan dan yakin ia telah mengetahui latar belakang Raya. Adi membawa Raya ke salon ternama di Jakarta untuk mengubah penampilan Raya agar mirip Shella, semirip mungkin.
“Aku merindumu Shella, Entah kapan lagi kita bisa bersua” ucap Adi di dalam hati, hatinya nyeri melihat perubahan pada diri Raya mengingatkan akan seseorang, merobek kembali luka yang sempat mengering untuk sesaat, ia merasa seakan istrinya kini sedang bersembunyi di balik tubuh Raya.
“Bagaimana sudah seperti Shella belum? cantik kan aku? Nikah yuk! Lupakan Shella kan masih ada duplikatnya” goda Raya tersenyum ke Adi dengan menatap lekat ke dua mata Adi.
“Jangan mimpi!” kata Adi sebelum jalan lebih dulu ke arah parkiran.
“Tidak mirip ya?” tanya Raya seraya mengejar Adi.
“Ingat semua yang aku ajarkan ke kamu, jangan bikin aku kecewa atau aku potong bayaran kamu”
“Adi” Tiba-tiba Raya menghentikan langkahnya wajahnya tertunduk kaku. Mendengar namanya di panggil, Adi menoleh.
“Shella kangen Adi, Shella takut, Shella sendirian. Shella mau bersama Adi selamanya” ucapnya dengan mata berkaca-kaca menatap tajam, Adi seperti terhipnotis ia menatap sedih.
“Jangan tinggalkan Shella sendiri di kegelapan ini, Shella takut, Shella sayang Adi”
“Shella” Adi membalas pelukan dengan sangat erat, takut untuk terlepas kembali.
“uhuk uhuk, lepas! sesak nafas aku” Raya terbatuk-batuk kehabisan nafas karena terlalu kuat Adi memeluk.
“Cie cie main peluk, katanya tidak mau, tidak mau lepas ternyata hahaa”
Kini mereka telah sampai di tempat tujuan, Mang Karyo membuka pintu gerbang untuk Adi, Adi melewati gerbang dengan mendorong motor untuk masuk ke dalam, disusul Raya di belakangnya.
“Selamat malam den Adi” sapa mang Karyo.
“Met malam juga Mang” jawab Adi ramah.
“astaghfirullah hal adzim neng Shella ya Allah neng Shella” mang Karyo terkejut setelah mengetahui siapa yang mengikuti Adi. Mang Karyo memegang kedua tangan Raya, lalu di gesek gesekan ke dua tangan Raya dengan tangannya sebagai pelampiasan rasa rindu kepada anak angkatnya.
“Ayo mang masuk! Di dalam saja ya! Adi mau bertemu Mama Papa” di tariknya tangan Raya agar Raya mengikutinya. Mang Karyo tidak mau ketinggalan lantas menutup gerbang dengan tergesa-gesa lalu mengejar mereka berdua, di hapusnya air mata yang menganak di sudut matanya.
“Sini nak duduk” Bu Naya yang melihat kedatangan Adi mengajaknya duduk di ruang tamu tanpa menyadari kalau Adi tak datang sendiri.
“Ma, Pa ada yang mau ketemu” Raya yang bersembunyi di punggung Adi kini berdiri di samping Adi dengan senyuman khas Shella.
“Shella?” pak Burhan lantas berdiri ketika melihat anaknya yang dirindukan kini telah di depan mata.
Bu Naya menangis tak percaya melihat putrinya kembali. Raya tak tega, baru kali ini ia merasakan kasih sayang seorang ibu yang begitu besar, ia mendekat dan memeluk pangkuan bu Naya. Raya lepas kendali ia ingin merasakan kasih sayang seorang ibu, di resapi setiap detik kebersamaannya.
“Maafkan Papa nak, Papa terlalu egois tidak mau mendengar isi hati Shella. Papa menyesal ampuni Papa!” ucap pak Burhan lirih, mencium rambut kedua wanita yang ia sayangi.
“Mama tidak sedang bermimpi kan Pa? Ini benar Shella anak kita kan Pa? Shella, Mama kangen Nak.., jangan pergi lagi Nak! Mama tak sanggup” ditangkupnya wajah Raya oleh bu Naya untuk meyakinkan diri, gadis di depannya adalah anaknya. Raya terbawa emosi, Air mata Raya meleleh bahagia, akhirnya kini ia bisa merasakan kasih sayang dari seorang Ayah dan Ibu yang sejak kecil ia impikan.
“Mama.., Raya akhirnya bisa merasakan kasih sayang seorang Mama, izinkan Raya memeluk lebih lama. Raya haus kasih sayang orang tua yang tidak pernah Raya rasakan sejak bayi. Peluk lagi Raya Ma” Raya menangis dalam pelukan bu Naya dengan posisi masih duduk di lantai.
Bu Naya setelah mendengar perkataan Raya ia tersadar di hadapannya ternyata bukan anaknya tapi orang lain yang wajahnya sangat mirip dengan Shella. Di pandanginya Adi untuk minta penjelasan, Adi hanya menimpali dengan senyuman. Tak tega melihat gadis itu menangis di pangkuannya, di balas pelukan itu. Pak Burhan pun ikut memeluk ke duanya untuk menumpahkan rasa rindu orang tua akan anaknya yang telah tiada.
“Ini Den minumnya, astaghfirullah hal adzim neng Shella putri Bibik” bik Surti terkejut dengan apa yang ia lihat, gelas yang di nampan jatuh berhamburan.
Adi memapah bik Surti untuk menjauh dari pecahan gelas, bik Surti melemas duduk di lantai dan terdengar tangisan kebahagiaan.
“Alhamdulillah Shella putriku telah kembali” Tangis bik Surti menjadi-jadi, mang Karyo mencoba menenangkan emosi kebahagiaan istrinya.
“Ada apa ini berisik sekali, Shella?” Beni menghampiri Raya yang telah berdiri karena mendengar suara keras Beni. Beni berjalan melewati bik Surti dan juga mang Karyo untuk sampai di depan Raya. Beni memeluk erat Raya, Beni tak sanggup membendung air matanya lagi hingga air mata itu terjun bebas di pipi.
“Akhirnya kamu kembali dek, Abang kangen sekali sama Shella. Sudah Abang bilang jangan pernah tinggalkan Abang, kenapa kamu begitu bandel tak mendengarkan ucapan Abang. Tak akan Abang biarkan Shella meninggalkan Abang untuk keseksian kalinya” di ciuminya bekali-kali dahi Raya.
“Bang!” Raya keceplosan memanggil Beni dengan logatnya.
“Ups sori” ucap Raya bersalah, matanya melirik Adi khawatir kalau bosnya marah.
Karena kecerobohan Raya, Beni melepas pelukan. Ditatapnya lekat wajah Raya, Ia sungguh kecewa ternyata dia bukanlah Shella.
“Berhasil kamu Di” ucap Beni dengan tangan membersihkan air mata yang membasahi wajah tampannya dan berjalan meninggalkan mereka semua.
“Ma Adi pulang dulu ya, ini sudah malam” Adi mendekat ke bu Naya dan pak Burhan, ia duduk di lantai dengan kaki melipat ke belakang di hadapan mertuanya.
“Nak tidurlah di sini, izinkan kami melepaskan rindu” bu Naya memegang pundak Adi meminta pengertiannya untuk mengizinkan beliau lebih lama lagi bersama kembaran anaknya yang telah mendahuluinya menghadap sang Khaliq.