“Mama!” Shella teriak kencang setelah terbangun dari tidurnya yang menyeramkan.
“Uhuk uhuk uhuk” Shella terbatuk-batuk karena ia kesusahan untuk bernafas.
“Shella, ya Allah Shella” semua orang terbangun karena terkejut teriakan Shella, bu Naya mengeraskan laju oksigen karena Shella terbatuk-batuk kesulitan nafas. Beni berlari keluar namun sesampai di luar kamar sudah ada para suster yang berjalan cepat ke arahnya setelah mendengarkan teriakan.
“Apa yang terjadi dengan putri saya, suster?” tanya bu Naya panik.
“Sepertinya putri ibu tadi sempat berhenti bernafas” jelas salah satu perawat dengan tangan tetap melakukan perawatan untuk Shella. Kini Shella telah tertidur lagi dengan nafas kembali normal.
Shella terlihat murung sejak ia bangun tidur, entah apa yang sudah merasuki pikirannya, setiap kali ditanya ia hanya menggelengkan kepala, sulit baginya untuk menjawab. Shella juga sering melamun membuat kedua orang tua dan kakaknya merasa khawatir akan dirinya.
“Dek ada apa, kok Shella kelihatan sedih. Coba cerita sama Abang” Beni mencoba mendekatkan diri supaya Shella sudi untuk menceritakan masalah yang di hadapi kepada Beni seperti sebelum-sebelumnya.
“Shella tidak papa bang, Shella mengantuk, Shella mau tidur” Shella memunggungi Beni mencoba untuk menyembunyikan tangisan.
“Dek, apa sekarang adik sudah tidak percaya sama Abang? Abang tahu betul semua tentang Shella, Shella Adik Abang ini pasti lagi bersedih lagi tidak baik-baik saja, coba bagi kesedihan Shella bersama Abang” Shella terdengar terisak pelan tak mampu lagi menyembunyikan kekhawatiran serta ketakutan dari sang kakak.
“Dek,. ?” panggil Beni pelan.
“Shella takut” Akhirnya Shella mau bercerita.
“Takut sama siapa, siapa yang jahat sama Shella? Bilang sama Abang, apa mungkin Adi. Adi berani buat kamu menangis, terluka di belakang Abang” Shella kembali diam.
“Dek”
“Tadi malam Shella mimpi buruk, Shella takut. Mimpi Shella seperti nyata, Shella takut itu akan jadi kenyataan. Shella tidak mau itu terjadi” Shella membalikkan badan menghadap Beni dan mengungkapkan apa saja yang ada di isi hatinya saat ini.
“Shella bermimpi, Shella pergi, pergi yang sangat jauh. Shella sedih harus meninggalkan Abang, Mama, Papa, Shella takut kalau itu akan jadi nyata” Beni hanya terdiam mendengarkan curahan Shella, memberikan ruang Shella mengeluarkan isi hati.
“Shella juga lihat Adi sendirian memakai seragam pengantin, memegang setangkai bunga mawar berduri, tangan Adi berdarah. Shella tak kuat meninggalkan Adi sendiri seperti itu. Kenapa Shella harus meninggalkan kalian semua. Shella tidak mau pergi, Bang! Shella tidak mau pergi jauh dari mama papa, Shella sayang mama papa, Shella ingin terus bersama mama, papa, Abang” ucapnya bergetar.
“Semakin Shella pergi semakin susah Shella untuk bernafas, Shella takut, Shella, Shella tidak mau jauh dari Adi, Shella sayang sama Adi, Bang satukan Shella sama Adi Bang, Shella mohon! Shella tidak ingin Adi sendiri, hati Shella sakit lihat Adi sedih. Bang Shella mohon! Nanti setelah kita nikah Shella sama Adi janji akan minta terus restu mama papa sampai mama papa Ridho”
“Shella tidak mau pergi jauh dari Adi, satukan kami Bang! Shella mohon!” Adi tersenyum getir mendengar permintaan Adiknya.
“Ia, Abang akan nikahkan kalian berdua” ucapnya pelan namun penuh keyakinan kedua tangannya menangkup wajah Shella.
“Tapi apa arti mimpi Shella? Shella tidak mau pergi. Shella mau selalu di sisih mama papa terus” Shella memeluk Beni erat takut akan kehilangan kebersamaan.
“Jangan pikirkan itu, itu hanya bunga mimpi”
Setelah Shella tenang, Beni meminta izin ke kedua orang tuanya untuk pergi ke restoran pak Wira, tidak lupa ia menghubungi Adi untuk segera menemuinya di sana bersama bu Halimah.
Di sana mereka merembukkan mimpi buruk yang di alami Shella hingga membuat Shella kehilangan nafasnya sementara dan juga keinginan Shella untuk segera menikah dengan Adi. Akhirnya mereka memutuskan menikahkan mereka berdua dengan Beni sebagai walinya.
Pernikahan akan di gelar tiga hari lagi di restoran milik pak Wira saat pak Burhan ada jadwal rapat bertemu kliennya yang baru tiba dari luar negeri. Semua persiapan pernikahan akan disiapkan pak Wira, namun sayang ketika pak Wira akan berangkat mengontrol sampai mana persiapan pernikahan cucu, pak Wira terjatuh di kamar mandi yang berada di dalam kamarnya sehingga beliau harus di bawa dan di rawat di rumah sakit dekat rumah.
Di hari yang dinanti pun telah tiba, Shella meminta mamanya untuk membuatkan soto makanan favoritnya. Beni mencoba meminta kerja samanya dokter Hans dan juga orang kepercayaan pak Burhan agar mempermudah ia membawa Shella ke resepsi pernikahan tanpa sepengetahuan pak Burhan.
Rehan marah mendengar permohonan Beni untuk membohongi bosnya, namun tatapan Shella mampu meluluhkannya.
“Pak saya akan bawa Shella pergi, tolong jangan beri tahu mama papa” Beni mengutarakan keinginannya.
“Tidak bisa, neng Shella masih keadaan sakit harus tetap di sini” Bentak Reyhan orang suruhan sekaligus bodyguard pak Burhan.
“Tapi ini keadaannya genting pak karena Shella akan menikah, kami sudah meminta izin dokter Hans”
“Tetap tidak bisa, saya akan izinkan kalau itu permintaan dari pak Burhan langsung” ucapnya tegas tanpa ekspresi.
“Pak Reyhan Shella mohon, tolong Shella sebagai permintaan pertama dan terakhir Shella” kali ini Shella yang memohon.
”Shell kamu ini bicara apa? tidak boleh bicara seperti itu! tidak baik, Abang juga tidak suka” sela Beni karena tak suka dengan cara bicara Shella.
Reyhan menghembuskan nafasnya secara kasar, tatapan mata dinginnya menusuk ke dua manik mata Shella yang sedang duduk di kursi roda dan akhirnya Reyhan menyerah meski harus pekerjaan jadi taruhannya dan juga hatinya.
“Tenang pak kita hanya sebentar, dokter juga mengizinkan tidak lebih dari satu jam kita harus kembali lagi ke sini”.
Dokter Hans memperbolehkannya asal bila terjadi sesuatu bukan lagi tanggung jawabnya dan tanggung jawab rumah sakit serta Shella akan di dampingi satu suster, dan di beri waktu satu jam saja setelah prosesi ijab kabul selesai harus segera kembali karena kondisi Shella masih butuh pengawasan medis.
Wajah Shella di kasih make up tipis oleh perias yang telah di sediakan Beni saat mereka masih di dalam mobil.
“Bang Ben Shella sudah cantik belum?” tanya Shella.
“Adik Abang selalu cantik” pujinya tanpa menengok ke arah Shella, pandangan tetap ke depan untuk berkonsentrasi mengendarai mobil.
Semua persiapan telah siap sempurna, tamu undangan juga sudah hadir hanya menunggu pengantin perempuan dan keluarga.
Shella tak berhentinya tersenyum di hari spesialnya ini, kini mereka telah tiba di tempat resepsi. Shella tetap memakai pakaian yang di sediakan rumah sakit namun dengan make up tipisnya sudah mampu memancarkan aura kecantikan.
Pihak keluarga pengantin laki-laki telah menunggu mereka di halaman depan. Dan tak berselang lama pengantin perempuan yang di nanti kini telah tiba, Shella di bopong Beni untuk menuju meja di mana penghulu sudah menunggu.
“Calon istri Adi cantik sekali” Adi memuji kecantikan Shella.
“Akhirnya Shella bisa menjadi istri Adi, nanti kita punya anak yang banyak ya?” ucap antusias Shella yang hanya ditanggapi Adi dengan senyuman.
“Apa Shella masih kuat duduk di sini? Apa tidak sebaiknya Shella istirahat saja di kamar? Muka Shella masih terlihat pucat, Adi tidak tega”
“Shella mau tetap di sini selalu bersama Adi”
Ketika naib akan memulai acara, Adi meminta waktu sebentar untuk foto berdua dengan Shella. Dan tanpa pengetahuan siapa pun ia mengirimkan foto itu dan meminta restu kepada orang tua Shella dan berharap pak Burhan dan bu Naya bersedia menghadiri pesta pernikahan mereka.
“Mama, Papa maaf, maafkan Adi telah lancang menikahi Shella putri Papa tanpa seizin Mama Papa. Adi sangat menyayangi Shella, Adi tidak berjanji akan selalu memberikan kebahagiaan namun Adi akan berusaha sekuat Adi apa pun itu untuk kebaikan Shella sampai tuhan yang memisahkan. Adi akan terus berusaha memantaskan diri untuk menjadi suami yang layak bersanding dengan Shella, semoga Mama Papa memaafkan kami. Kami berharap Papa Mama berkenan hadir di pernikahan kami dan mendoakan pernikahan kami”
Pak Burhan murka membaca pesan yang adi kirim, kemudian di balasnya pesan itu dengan makian, hujatan dan juga ancaman karena telepon pak Burhan tidak dia angkat, Adi telah mensilent gawainya.
“Saya terima nikah dan kawinnya Shella Anastasya binti Burhan Baskoro dengan maskawin uang senilai seratus dua puluh juta dan seperangkat alat salat di bayar tunai”. Adi menggunakan hampir separo tabungannya untuk di jadikan maskawin yang sudah ia siapkan sejak pertama kali ia melihat Shella, ia sudah meniatkan hati kelak ingin bersanding berasama wanita pujaannya. Dengan izin orang tua, Adi sejak dulu telah bekerja di sebuah kantin sekolahan.