“Permisi pak, pasien yang menempati kamar ini ke mana ya? Kok sudah kosong, apa pasiennya sudah pulang?” Tanya Adi kepada salah satu penunggu pasien yang sedang duduk di sekitar ruangan kamar yang tadi di tempati Shella.
“Oh itu mas sepertinya pasien di bawa ke ICU, kelihatannya pasien kritis” jelas lelaki paruh baya yang sedang menunggu istrinya opname di rumah sakit ini.
“iya pak terima kasih” balas Adi sambil membetulkan letak topi yang menutupi kepala.
Kaki Adi gemetar setiap langkahnya menapaki koridor rumah sakit menuju ICU. Rasa takut telah berhasil menguasai dirinya takut akan tidak mampu mendengar kabar buruk tentang orang yang disayangi. Sesampainya ia di sana, Adi kalah cepat dengan keluarga Shella, ia hanya mampu berdiri mematung agak jauh dari mereka.
“Dok, bagaimana keadaan putri saya?” tanya pak Burhan ketika Dokter Hans setelah keluar dari ruang ICU.
“Pasien belum sadarkan diri, doakan saja yang terbaik buat anak bapak supaya ia kuat menjalani masa kritisnya. Nanti kalau ada yang mau di tanyakan lebih lanjut ke suster saja ya pak karena saya mau menemui pasien yang lain” jelas dokter Hans yang selama ini menangani penyakit Shella sejak kecil.
“Dok pasien sudah menunggu” Kata salah satu perawat yang baru saja tiba.
“Dok saya mohon selamatkan putri saya, saya tidak ingin anak saya kenapa-napa” pak Burhan berharap penuh kepada dokter Hans.
“Pasti pak, kita akan memberikan perawatan yang terbaik buat putri bapak” Jawab dokter Hans sebelum meninggalkan tempat.
“Ya Allah Pa, Shella Pa” ucap bu Naya tak kuat mendengar penuturan dokter.
“Ia Ma sabar Ma, Shella anak kita pasti kuat, Papa yakin anak Papa akan segera pulih” tutur pak Burhan seraya membelai rambut panjang istrinya.
“Shell..,” Adi menghapus air mata yang sembunyi di balik kaca mata hitam sesudah melihat pemandangan yang memilukan ini.
“Adi yakin Shella kuat menjalin ini semua, berjuanglah Shell untuk mereka! Keluargamu” ucapnya pelan.
Dua hari sudah Shella mengalami koma, keluarganya silih berganti menunggu Shella karena di berlakukan hanya satu orang yang boleh menjenguk. Kini giliran Beni yang menemani Shella. Adi ingin sekali menemui Shella namun apa daya dunia seakan enggan memihaknya saat ini. Sejak kejadian Shella kritis orang tua Shella selalu stand by menjaga Shella di rumah sakit. Pak Burhan tidak akan ke kantor kalau tidak ada masalah serius, semuanya cukup di handle di rumah sakit.
Setiap kali Beni yang menemani Shella, Adi selalu meminta supaya Beni bersedia menghubunginya meski hanya sebentar agar rindu dan kekhawatirannya terobati.
“Di, tangan Shella Di, tangan Shella bergerak. Dek kamu menangis, iya abang panggil dokter, Adik sabar dulu, abang segera kembali. Shella adik abang yang kuat! Tunggu ya” Beni mencium kening Shella sebelum pergi menyampaikan kabar gembira ke dokter dan keluarganya.
“Ma Pa Shella, tangan Shella bergerak” ucapnya antusias.
“Biar Papa panggil suster”
“Nak sayang, Shella bisa dengar Mama, ini Mama sayang” Mama dan juga Beni kembali masuk ruang ICU.
“Pintar anak Mama, jangan takut.. Mama akan temani Shella, Mama, Papa, Bang Ben sayang Shella” bu Naya mencoba menenangkan Shella karena genggaman Shella tiba-tiba menegang kuat sekali, hingga bu Naya meringis kesakitan.
Tak berselang lama dokter datang dengan senyuman ditemani dua susternya. Beni mundur memberikan tempat untuk mereka supaya mereka dapat memeriksa keadaan Shella dengan leluasa.
“Bentar ya sayang dokternya sudah datang, Shella sebentar lagi sembuh” bu Naya mencoba melepaskan genggaman Shella karena tidak enak oleh dokter yang akan memeriksa.
“Dok tangan Shella tidak mau lepas, lepas dulu ya sayang, Mama di sini Mama tidak akan tinggali Shella” bujuk bu Naya di usap pelan tangan Shella.
“Iya tidak papa, Shella kangen ya sama Mama? Shella bisa dengar dokter tidak?” pertanyaan yang dilontarkan dokter untuk Shella yang masih saja terpejam.
“Iya pintar, Shella bisa tidak buka matanya? Kalau tidak bisa tidak Papa, nanti dokter kasih obat” kata dokter ramah.
“Bagus bu, Shella sudah ada perubahan. Semoga Shella lekas seperti semula, Shella mau ketemu Papa sama kakak Shella? Kakak Shella sayang sekali sama Shella, dia selalu temani Shella di sini.”
“Bu sebaiknya Shella jangan dulu di ajak mengobrol terlalu banyak karena Shella masih butuh waktu, cukup memberikan dukungan saja, saya permisi dulu nanti saya ke sini lagi. Sus temani Shella! saya mau kembali ke ruangan saya dulu”
Waktu besuk telah habis, waktunya Shella untuk istirahat. Seluruh keluarga di anjurkan keluar ruangan tanpa kecuali.
“Shella Adik Abang yang kuat, istirahat dulu ya! Abang sayang sama Shella” di kecup kening adiknya untuk yang ke dua kali sebelum pergi meninggalkannya namun ketika beni hendak membuka pintu Shella sempat membuka matanya sedikit yang terasa berat sebelum terpejam kembali.
Kini Shella sudah di pindahkan ke kamar inap lagi. Kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya namun Shella masih kesulitan dalam hal berbicara.
“Pagi adik abang yang cantik, ih bau belum mandi. Kangen tidak sama abang?” Shella menggeleng lemah.
“Bohong hahaa”
“Nah gitu dong senyum, Shella abang suapi buah apel mau?” Beni yang melihat keranjang buah di nakas lantas ia menawari adiknya apel.
“Shella mencari siapa?” tanya Beni ketika melihat Shella tengak tengok seakan mencari seseorang.
“A.., A..,” Shella berusaha mengucapkan kata namun sangat berat, suaranya tak kunjung keluar.
“Eh jangan nangis ia ia, Shella cari Papa?” Shella menggeleng.
“Mama?” Shella tidak mencari ke kedua orang tuanya, kebetulan orang tuannya baru saja keluar untuk mencari makan mereka semua.
“A..,” Shella terus berusaha mengucapkan satu kata, namun sangat susah ia berucap.
“Adi?” kini Shella tersenyum karna Beni mengerti maksudnya.
“Iya Abang telefon ya, tapi Shella jangan sedih lagi! Pintar Adik Abang.”
“Shell.. kamu cantik sekali, Adi selalu menemani Shella di sini, Adi sayang Shella. Shella jangan menangis lagi ya, nanti cantiknya pindah ke Bang Ben. Shella tidak mau kan?” Beni melotot akan marah namun diurungkannya karena senyum Shella mengembang.
“A..di..” ucapnya terbata-bata tanpa suara.
“Iya Shella, Adi di sini selalu temani Shella. Kita semua di sini, ini juga ada ibu menemani Shella. Semua sayang Shella” ujar Adi lembut.
“Sudah ya nanti lagi, Abang juga kangen sama Shella bukan Adi saja, Abang suapi lagi ya apelnya?” Beni menatap adiknya lekat ia tak tega melihat kondisi Shella yang susah berbicara. biasanya dia sering mendengar rengekan-rengekan Shella, rengekan manja seorang adik ke abang. Meski di sudut hati ia sangat bersyukur masih di beri kesempatan untuk bersama dan melihat adiknya kembali. Beni memalingkan wajah untuk menyembunyikan kesedihan.
“A...bang” ucap kesusahan Shella tanpa suara, kepalanya menggeleng agar kakaknya jangan menangis karena ia sudah berusaha untuk tetap tegar demi orang-orang yang dia cintai, di hapus air mata beni dengan tangan putihnya.
Beni tak kuat menahan diri di ciumi pipi dahi adiknya dengan kucuran air mata. Di peluknya erat takut adiknya akan meninggalkannya lagi.
“Jangan coba tinggalkan abang lagi dek! abang tak sanggup, kamu harus janji sama abang selalu dekat abang! Hati abang rapuh melihat adik seperti ini”
Shella membersihkan semua air mata Beni yang membasi pipi, Beni menangkap tangan Shella dengan tangan besarnya lalu di ciumi tangan itu.
Orang tua Shella telah kembali, bu Naya menghentikan langkahnya tidak kuat melihat kesedihan kedua anaknya.
“A....bang Pa...pa”
“Iya nak, Abang biar ditenangkan Mama dulu, kami semua sayang Shella. Shella sama Papa saja” pak Burhan duduk di samping kepala Shella, Shella langsung memeluk papanya tidur dalam belaian pak Burhan.