Adi mengintai kamar Shella dari balik pos ronda tepat berada di depan rumah Sella, namun sudah tiga hari lampu kamar Shella dan Beni yang menghadap jalan raya tampak tak ada cahaya yang menerangi, tidak cuma itu, rumah Shella terlihat sepi dari biasanya.
Meski Adi sering mengintai kamar Shella yang berada di lantai dua namun tak ada rasa curiga di antara warga sebab mereka sudah terbiasa akan kehadirannya, sebagian dari mereka yang ikut meronda merupakan rekan kerja Adi. Penduduk sekitar mengira Adi cuma ikut meronda atau hanya sekedar nongkrong. Saat melancarkan aksinya ia selalu memakai jaket dan juga topi supaya keluarga Shella tidak ada yang mengenalinya.
Kali ini hanya ada Adi sendiri yang berada di pos ronda karena hujan lumayan lebat mengguyur jalanan membuat para warga enggan keluar rumah, tak berselang lama dia menerima telepon dari nomor tak di kenal tapi setelah mendengar suara itu ia bisa menebak siapa pemilik suara.
“lampu kamar Shella tidak akan menyala, cepat ke Rumah Sakit Pelita! Shella rindu, aku tidak tahan mendengar rengekan Shela”.
“Siapa yang sakit? Shella baik-baik saja kan bang?” ia kaget mendengar kata rumah sakit.
“Kondisi Shella drop, kemarin dari taman langsung ke rumah sakit, dokter bilang Shella harus dirawat. Papa marah atas kejadian kemarin, papa menyita gawai Shella”
Adi langsung mematikan gawainya dan menerobos hujan menuju rumah sakit yang di sebutkan Beni dengan motornya.
“Adi mau ketemu Shella bang”
“Tidak bisa, Papa mama lagi di sana kalau kamu mau lihat Shella kamu pergi ke bangunan itu naik ke lantai tiga, tepat di depan ruang kamar kelas dua. Di situ kamu bisa melihat Shella dia ada di lantai dua lurus dengan ruangan itu”.
“Terima kasih bang, ini tolong kasih Shella!”
“Bunganya tidak usah! papa sampai curiga, bisa gawat”
Sesampainya di tempat yang Beni bilang, dari kejauhan terlihat Shella duduk tersenyum menghadapnya, hati Adi lega setelah melihat Shella lebih segar dari terakhir ia lihat.
“♥️ Adi” Shella menulis di jendela kaca di depannya yang habis di guyur hujan. Hujan di rumah sakit tidak terlalu deras hanya gerimis tidak seperti di rumah Shella, sekarang pun gerimis sudah tak tampak lagi.
“Dek boleh pinjam helikopternya?” Adi meminjam mainan pesawat helikopter remot pada anak kecil yang sedang ikut orang tuannya mengunjungi sanak keluarga untuk menerbangkan setangkai mawar yang ia bawa untuk Shella. Shella sangat senang menerima bunga mawar tersebut tak hentinya ia tersenyum bahagia. Pak Burhan yang sibuk dengan laptopnya tidak terlalu memperhatikan tingkah anaknya meski satu ruangan.
Sudah dua hari ini Adi menunggu Shella di rumah sakit, ia akan datang pukul 08:00 pagi, 22:00 malam Adi harus sudah pulang karena bu Halimah sendiri di rumah. Adi juga meminta izin beberapa hari tidak masuk kerja.
Kadang ia hanya duduk atau pun pura-pura tidur dengan koran menutupi wajahnya. Masker, kaca mata hitam, jaket dan juga topi mampu mengamuflase untuk mengelabui orang tua Shella ketika ia ingin lebih dekat dengan bunga hati.
“Nak Mama pulang dulu ya, besok pagi Mama ke sini lagi. Shella mau di bawakan apa?” tanya ramah bu Naya.
“Soto ayam saja. Kangen masakan Mama” jawabnya manja ke bu Naya.
“Kalau kamu Ben” Beni hanya menggeleng mendengar tawaran mamanya.
“Kamu tidak papa Mama Papa tinggal?” tanya pak Burhan khawatir.
“Kan ada pak Reyhan yang menemani Beni”
“Kalau butuh apa-apa telepon Papa!”
Jarak satu jam kepergian bu Naya dan pak Burhan, Beni meminta tolong utusan papanya membelikan mie ayam serta camilan untuk mereka bertiga.
“Adi” senyum Shella mengembang setelah orang yang dinanti kini telah tiba di depan mata.
Adi mendekat dan menahan tangannya yang hendak menyentuh pipi Shella ia begitu teriris hatinya melihat orang di cintai sedang tak baik-baik saja. Di berikannya coklat serta setangkai bunga mawar yang ia bawa khusus untuk Shella.
“Mau Adi buka coklatnya?” Shella lantas mengangguk setelah mendengar tawaran Adi.
“Suapi boleh?”
“Jangan manja!” bentak Beni, Shella melirik abangnya sekilas lalu tersenyum manis ke arah Adi.
Shella menggigit sedikit demi sedikit coklat pemberian Adi, Beni yang tak sabar melihat cara makan Adiknya menegur.
“Makan coklat segitunya, kapan selesai. Sini abang ajari!” Beni hendak bangkit menghampiri adiknya.
“gak, nanti coklat Shella cepat habis”
Mata Adi mulai berkaca-kaca melihat infus dan oksigen menancap di tubuh Shella, ia memalingkan muka tanpa sengaja tertangkap tatapan Beni, Beni menatap sendu Adi dengan mata berkaca-kaca seakan menumpahkan kesedihan serta kekhawatirannya terhadap Shella.
“Tes” dengan cepat Adi mengusap pelan air mata yang jatuh hendak mengenai pipi dengan jempol tangan. Beni tersenyum bangga karena berhasil mengerjai Adi, yang berusaha sok tegar di depan adiknya.
“Bang Ben foto in Shella sama Adi!” Shella melepas serta menaruh sembarangan selang oksigen agar tak merusak kecantikannya ketika di foto dan merapikan rambut yang acak-acak kan karena seharian di buatnya berbaring. Beni mendekat membetulkan poni rambut Shella. Adi berdiri kaku di samping Shella tangan saling menggenggam di belakang tubuh supaya tidak refleks memeluk Shella.
“Cekrek” Adi salah tingkah menatap ke bawah ke arah Shella karena Shella menyandarkan kepalanya di pinggang Adi, getaran hebat tiba-tiba ia rasakan.
“Satu lagi, bang Ben” Shella menarik tangan Adi ke bawah supaya wajah mereka sejajar secara refleks mereka bertatap mata. Shella menatap Adi dengan senyuman manja membuat Adi terjerat tatapan lembut Shella.
“Cekrek” Adi mendekatkan wajahnya seakan ada magnet di wajah Shella, dekat, dekat dan semakin dekat.
“Sudah pandang-pandangannya Abang tidak mau jadi setan di antara kalian, pulang sana Di! Sebentar lagi orang suruhan papa datang” hampir saja Adi khilaf mencium bibir ranum Shella, Shella sama sekali tak menyadari gejolak hebat di d**a Adi.
Tanpa pamit Adi keluar tergesa-gesa, Adi tak berani menatap Beni, ia malu atas kekhilafannya hendak mencium bibir adiknya di hadapan Beni.
“Bang Shella ingin menikah dengan Adi, Shella tak sanggup jauh dengan Adi. Shella, Shella...,” Shella tiba-tiba memeluk Beni yang berada di sampingnya dan menangis sesenggukan sampai tak mampu meneruskan ucapannya setelah melihat fotonya dengan Adi. Adi menghentikan langkah mendengar permintaan Shella kepada abangnya, membuat tubuhnya kelu tak mampu bergerak air mata menganak di mata, dengan langkah terburu-buru ia meninggalkan mereka berdua.
****
“Dek bangun yuk! Kita sarapan, tidak biasanya lo dek kamu bangun kesiangan. Shella masih mengantuk? Adik bangun dulu ya minum sebentar, abang suapi pakai sendok habis itu tidur lagi ya! Kok tidak bangun si dek.. jangan bikin abang khawatir, bangun dek. Ayo..,” pikiran Beni mulai semrawut karena tidak seperti biasanya adiknya susah di bangunkan, apalagi Shella tidak memberikan respons sama sekali membuat Beni semakin panik.
“Shel Shella, hei, bangun sebentar ya, bentar lagi dokter Hans datang, makanannya belum di habiskan lo. Ayo makan! sedikit saja, nanti Shella tidur lagi tidak papa, ayo dek bangun abang suapi. Bangun dek, Dek... “ rayu Beni pelan agar adiknya membuka mata. Namun usahanya tak kunjung berhasil.
Gawai Beni berdering, tampak nama Adi tertera di layar. Beni menatap jendela yang berada di samping Shella, ia menggeleng sedih campur bingung karena sejak tadi malam setelah capek menangis, Shella pamit tidur namun sampai sekarang belum juga bangun padahal selama di rumah sakit meski Shella sering tidur tapi tidurnya tidak selama ini.
“Bang, Shella belum bangun juga? dia juga belum sarapan bang?”
“Abang sudah bangunkan dari tadi tapi sepertinya Shella enggan membuka matanya setelah lelah menangis tadi malam. Bentar, abang panggil suster”
Tak berapa lama Adi melihat dari kejauhan rombongan suster dan juga seorang dokter seperti tergesa-gesa memeriksa keadaan Shella yang masih tertidur lelap. Terlihat pula di mata Adi, Beni khawatir tak tenang melihat kondisi Adiknya. Seketika Adi panik, apa yang terjadi dengan Shella? kenapa Shella tak kunjung bangun? Kenapa dokter dan perawat begitu panik melihat kondisi Shella? Apa yang sedang terjadi? Banyak sekali pertanyaan yang melintas di pikirannya.
Tak ada yang menyadari kalau Shella kritis, mereka mengira Shella sedang tertidur seperti biasa padahal Shella sedang tak sadarkan diri. Tak ada yang aneh dengan kondisi Shella, tadi tengah malam waktu dokter memeriksa Shella, keadaannya masih baik-baik saja, Shella hanya terlihat tidur nyenyak dokter cuma mengingatkan untuk menjaga kestabilan emosi Shella setelah melihat mata Shella bengkak akibat terlalu lama menangis.
Shella tidak boleh terlalu over mengungkapkan perasaannya. Terlalu senang ataupun terlalu sedih juga tidak boleh itu akan mempengaruhi keadaan Shella apalagi melihat kondisi penyakit Shella yang di deritanya sejak kecil saat ini sedang aktif-aktifnya menyerang tubuh Shella.
“Sus adik saya mau di bawa ke mana? Apa yang sedang terjadi pada adik saya” tanya Beni panik.
“Sebaiknya Anda ikut saya, pasien sedang kritis harus di pindahkan ke ruang ICU” ucap salah satu perawat yang lari tergopoh mengikuti rombongan Shella.
“Kritis? astaghfirullah hal adzim Shella.. sejak kapan? Apa yang sedang terjadi Shell? Kamu kenapa dek? astaghfirullah hal adzim Shell”
Beni terlihat panik, sejak tadi malam dia tidak menyadari apa yang sedang terjadi dengan Shella, ia hanya tahu adiknya tertidur pulas. Beni langsung menghubungi papanya memberitahu keadaan Shella.
“Shella kritis” itulah pesan yang dikirim Beni untuk Adi sebelum memasukkan gawainya ke saku celana. Adi yang membaca pesan itu seketika terduduk lemas.
“Shell..” Kekhawatiran memuncak di pikirannya, bu Halimah tanggap ekspresi anaknya lantas membaca pesan singkat itu.
“istighfar nak, istighfar, doakan yang baik-baik untuk nak Shella, saat ini yang nak Shella butuhkah doa dan dukunganmu nak”
“Bagaimana Ben keadaan Shella?” tanya pak Burhan khawatir.
“Shella kritis Pa”
“Ya Allah Shella putriku, maafkan mama” bu Naya yang tak mampu menahan kekhawatirannya hanya bisa menumpahkan tangisan di pelukan sang anak. Ia menyesali telah meninggalkan putrinya tadi malam.
Beni yang meminta agar orang tuannya beristirahat sejenak di rumah ia tak tega melihat mama papanya kurang tidur apalagi pak Burhan setelah pulang dari kantor langsung menuju rumah sakit dan pergi lagi ke kantor tanpa mampir rumah. Untuk masalah kebutuhan mereka ada mang Karyo yang setia mengantarkan.
Bu Halimah menemani dan menenangkan putranya di depan kamar ruangan kelas dua. Tadi pagi bu Halimah ikut Adi datang ke rumah sakit karena ingin melihat secara langsung keadaan Shella. Bu Halimah tidak berani menjenguk gadis yang di cintai anaknya langsung ke kamar di mana Shella dirawat, beliau bisa melihat Shella dari kejauhan saja bu Halimah sudah merasa lega.
“Ibu di sini dulu! Adi mau lihat kondisi Shella” tanpa menunggu jawaban ibunya Adi berlari untuk menemui Shella.