“Shella masuk!” teriak pak Burhan yang baru saja keluar dari mobil.
“Papa?” Shella terkejut melihat papanya sudah ada di sana, dia lantas menuruti perintah papanya untuk segera masuk ke mobil.
“Papa mau ngapain?” kata Shella panik ketika pak Burhan mendekati Adi.
“Jangan pernah ganggu putriku” ancam pak Burhan untuk Adi.
“Bugh..” satu pukulan melayang ke arah wajah Adi.
“Papa!” teriak histeris Shella melihat Adi di pukul di depan matannya.
“Pah jangan pukul Adi Pah! sudah Pa! kasihan, sudah Pa!” mohon Shella agar papanya menyuruh berhenti orang suruhannya untuk tidak mengeroyok Adi lagi, Shella berusaha melepaskan cengkeraman tangan papanya untuk melindungi Adi, namun tenaganya tak kalah kuat dengan tenaga papanya.
“Sudah, lepaskan!” Shella di seret papanya ke arah mobil dan meninggal Adi yang tak berdaya begitu saja bersamaan dengan itu Beni datang dari arah kamar mandi. Beni yang melihat Adi tersungkur karena ulah orang suruhan papanya, langsung lari mendekat dan menolong Adi.
“Sakit?” tanya beni membungkuk menatap kedua manik mata Adi. Adi mengangguk mengiyakan rasa perih dan nyeri di seluruh badannya.
“Hahaa.. berani mencintai Shella harus kuat mental dan juga hati hahaa”
“Ayo aku obati lukamu, restoran kakek tidak jauh dari sini. Sebagai tanda maaf kakek, kakek akan mentraktir kita atas ulah papa” untuk saat itu merupakan pertama kali kakek bertemu dengan Adi dan respons pertama yang kakek berikan adalah terlihat beliau menyukai Adi karena di mata kakek sepertinya Adi anak yang baik. Selama ini kakek hanya mendengarkan nama Adi dari cucu cantiknya. Kedua cucunya sangat dekat dengannya jadi ia tahu segala sesuatu tentang mereka berdua.
“Abang lama banget sih tadi ke kamar mandinya? kasihan Adi di pukuli papa” Beni yang baru saja mengangkat telepon dari adiknya, menjauhkan gawai yang dekat dengan telinga karena tak tahan mendengar omelan Shella.
“Maaf tadi perut abang sakit tapi Shella tenang saja Adi baik-baik saja, sudah abang obati lukanya. Di sini juga ada kakek”.
“Adi..” tiba-tiba Shella datang langsung menghampiri Adi dan membelai wajah Adi, Adi yang kaku akan perlakuan Shella diturunkan tangan Shella dari wajahnya dengan senyuman lembut seakan ia memberitahu Shella dia baik-baik saja.
“Astaga Shella, kamu kok di sini. Kamu sama siapa? Mana mang Karyo?” tanya panik Beni.
“Shella naik taxi, kan mang Karyo lagi antar bibi belanja. Mama tadi lagi di kamar mandi Shella tidak berani bilang mama” terang Shella takut-takut.
“kamu itu ya dek sudah abang bilang in, jangan keluar sendiri. Lihat hidung kamu berdarah lagi. Kok akhir-akhir ini hidung kamu sering keluar darah sih dek?” ditarik tangan Shella supaya duduk di dekatnya agar bisa membersih hidung Shella dari bercak darah.
“Sakit” rintih Shella ketika Beni menekan agak keras.
“Biar, bandel”
“Kamu ini dek di kuliahi bukannya belajar yang benar pacaran melulu” keluh Beni.
“Shella sama Adi tidak pacaran. Nanti kalau Shella sudah nikah sama Adi Shella ingin kayak mama di rumah saja tunggu Adi pulang kerja jadi Shella tidak perlu sekolah tinggi-tinggi” ucap Shella sambil mendongakkan wajahnya agar darah berhenti keluar dari hidung.
“Uhuk” Adi tersedak air putih yang ia minum mendengar penuturan Shella.
“Adi nanti kalau kita sudah nikah kita punya anak banyak ya biar rame” ungkap Shella dengan senyumnya mengembang menatap harap Adi. Adi hanya kikuk menerima tatapan itu.
“Ni bocah badungnya, pantas saja papa marah. Ayo pulang, lihat itu darahnya keluar terus kita mampir ke Rumah Sakit”. Beni tak habis pikir akan kelakuan adiknya yang baru saja satu semester ia mengecap kuliahnya.
“Shella hanya tidak ingin menyesal, waktu Shella sedikit” ucapnya murung.
****
Shella meminta Adi menemuinya di taman setelah mendengar Adi di pukul pak Burhan lagi meski hanya satu tonjokan karena ketahuan mereka bersua yang pertama kalinya setelah insiden pengeroyokan.
Pak Burhan mengingatkan Adi untuk menjauhi putrinya dan memberikan lima ikat uang merah ke tangan Adi sebagai imbalan supaya ia pergi sejauh mungkin namun dia tolak, dikembalikan uang itu ke pak Burhan kemudian meninggalkannya tanpa kata. Adi mengusap darah yang keluar dari ujung bibir dengan jempolnya.
Kini Shella menumpahkan semua tangisannya di hadapan Adi, ia tidak tahu harus bagaimana lagi agar bisa bersama, entah kenapa rasanya seakan ia takut akan kehilangan dan jauh dari Adi. Pikirannya selalu gelisah serta tak tenang memikirkan itu semua. Apalagi ia menyadari kehadiran Adi di hatinya tidak mendapat restu orang tua.
“Adi, bawa Shella pergi! ayo kita nikah! Nanti bang Ben yang jadi wali nikah Shella. Shella tidak mau, Adi terus-terusan di pukul papa, Shella sayang Adi Shella tidak bisa jauh dari Adi” tangis Shella sesenggukan.
“Shella dengarkan Adi, nikah sembunyi-sembunyi bukan jalan terbaik. Kita harus tetap membutuhkan restu mama papa, doakan Adi agar bisa ambil hati mama papa. Shella ingin juga kan di hari sepesial kita ada mama papa di samping kita?”
“Tapi itu tidak mungkin..,” ucap lemas Shella.
“Tidak ada yang tidak mungkin, tolong kasih kesempatan Adi buat pantaskan diri menjadi menantu mama papa. Shella doa kan saja Adi, supaya waktu itu cepat datang.”
“Sudah ya Shella jangan menangis jangan sedih nanti darahnya keluar. Hati Adi sakit tidak kuat lihat Shella menangis apalagi darah ini”
“Siapalah aku ini
Untuk meminta buih
Yang memutih menjadi permaidani
Seperti mana yang tertulis dalam novel cinta” Beni mulai menyanyikan lagu “MENGINTAI DARI TIRAI KAMAR” dengan nada tinggi melihat percintaan Adiknya. Terlihat Adi membujuk Shella dan mengusap air mata serta darah yang hendak keluar dari hidungnya.
“Juga mustahil bagiku
Menggapai bintang di langit
Menjadikan hantaran, syarat untuk milikimu
Semua itu sungguh aku TAK TERMAMPU” Pengunjung taman yang mendengar suara nyanyian Beni langsung mendekat, siapa yang tidak kenal Beni vokalis THE SHELLA BAND, band rock terkenal yang sedang di gandrungi banyak fansnya. Salah satu penonton yang membawa gitar mendekat untuk mengiringi lagu Beni.
“Silap aku juga kerna jatuh cinta
Insan sepertimu, seanggun bidadari” di putarnya tubuh Shella menghadap Beni. Seakan Beni merasakan apa yang Adi rasakan memuja kecantikan Shella.
“Seharusnya aku cerminkan diriku
Sebelum tirai kamar aku buka
Untuk mengintaimu” Beni menepuk pundak Adi, tatapan serta senyuman Beni seakan memberitahu bahwa ia tahu kebiasaan Adi yang mengintai adiknya dari balik jendela kamar ketika malam hari sebelum menggendong Shella di punggung yang sudah terlihat pucat.
“Ha-ah, ha-ah, ha-ah-ah, ah-oh
Ho-oh, ho-oh, oh-oh
Ha-ah, ha-ah, ha-ah-ah, ha-ah
Ho-oh, ho-oh, wo-wo-oh” Beni melangkah pergi dan melambaikan tangan. Shella terlihat lemas di gendongan sang kakak.
“Beni..” teriak pengunjung, ada pula yang menangis terharu melihat dua sejoli yang beda kasta.