Tiga Puluh Satu

2017 Kata

"Tumben kamu menelepon Papa?" Elara memutar bola matanya. Seperti biasa, sang ayah tak punya basa-basi. "Papa sehat?" "Eh, sehat. Sehat. Ya, Papa sehat." "Syukurlah." "Kamu kenapa? Ada apa?" "Ah, nggak apa-apa, Pa. Cuma ... " Mendadak tenggorokan Elara seperti tercekik batu besar. Pertanyaan ayahnya sedikit menyentil. Kapan terakhir kali ayahnya memperhatikan dirinya? Kamu kenapa, dia bilang? Elara melihat ponselnya, memastikan ia menelepon nomor yang benar. "Aku ... a–aku ... kapan ya, terakhir kalinya kita mengobrol tanpa bertengkar, Pa?" "Ah, itu ...." Sang ayah terdiam cukup lama. "Papa juga ... kapan?" Elara termenung. Air matanya membersit. Mengapa suasana hatinya mendadak melankolis begini? Padahal tadinya ia berniat mencak-mencak pada ayahnya. Namun, berkaca pada sikap suam

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN