"Tumben kamu menelepon Papa?" Elara memutar bola matanya. Seperti biasa, sang ayah tak punya basa-basi. "Papa sehat?" "Eh, sehat. Sehat. Ya, Papa sehat." "Syukurlah." "Kamu kenapa? Ada apa?" "Ah, nggak apa-apa, Pa. Cuma ... " Mendadak tenggorokan Elara seperti tercekik batu besar. Pertanyaan ayahnya sedikit menyentil. Kapan terakhir kali ayahnya memperhatikan dirinya? Kamu kenapa, dia bilang? Elara melihat ponselnya, memastikan ia menelepon nomor yang benar. "Aku ... a–aku ... kapan ya, terakhir kalinya kita mengobrol tanpa bertengkar, Pa?" "Ah, itu ...." Sang ayah terdiam cukup lama. "Papa juga ... kapan?" Elara termenung. Air matanya membersit. Mengapa suasana hatinya mendadak melankolis begini? Padahal tadinya ia berniat mencak-mencak pada ayahnya. Namun, berkaca pada sikap suam

