Sore itu, langit bersinar dalam warna keemasan yang perlahan memudar, menghadirkan suasana tenang di tengah udara yang mulai terasa dingin. Cahaya lembutnya menembus celah-celah dedaunan pohon besar, menciptakan bayangan panjang yang bergerak pelan di atas jalan. Namun, di balik ketenangan itu, udara terasa berat, seolah menyimpan bisikan ketegangan yang merayap di setiap sudut. Matthew melangkah dengan cepat, napasnya memburu seiring gejolak yang tak henti menggema di dadanya, menuju kediaman Henry Flavio. Di bawah cahaya yang memudar itu, rumah megah yang berdiri kokoh di hadapannya terasa semakin mengintimidasinya. Awalnya, rumah itu memancarkan keanggunan dengan arsitektur megahnya. Namun kini, di bawah cahaya senja yang merayap perlahan, bangunan itu menjelma menjadi benteng kelam

