Angin sore itu berembus lembut, mengalirkan hawa dingin yang menyusup perlahan sepanjang jalan menuju kediaman pribadi Aletta. Setiap hembusan angin terasa seperti bisikan samar, membelai dan mengingatkan pada bayangan-bayangan yang enggan menghilang dari benak Matthew, seakan tak memberi ruang untuk melupakan apa yang telah terjadi. Matthew berdiri tegak di depan gerbang rumah yang menjulang tinggi, kedua tangannya terkepal dengan penuh keyakinan. Wajahnya tampak lelah, mata yang kemerahan mencerminkan perjalanan panjang yang telah dilalui, tetapi api tekadnya tetap menyala, tak sedikit pun redup. Ia sudah berulang kali datang, mengetuk pintu rumah itu dengan harapan, berharap bisa bertemu Aletta atau setidaknya seseorang yang bisa menyampaikan pesannya. Namun, seperti biasa, rumah i

