Setelah pertemuan yang sangat tegang di ruang kepala sekolah, hati Matthew dipenuhi dengan kekhawatiran yang terus menggelayutinya.
Pandangan kosong Arthur, tatapan yang tak pernah ia lihat sebelumnya, meninggalkan rasa bersalah yang mendalam. Ia tak tahu harus mulai dari mana dalam membangun kembali hubungan yang telah lama hancur.
Keputusan untuk mengantar Arthur pulang adalah satu-satunya jalan yang ia lihat. Ia sadar, meskipun perjalanan ini terasa canggung dan penuh dengan ketegangan, ia harus melakukannya.
Bertahun-tahun waktu yang hilang memang tidak bisa diputar kembali, tapi ini adalah langkah awal untuk memperbaiki kekacauan yang sudah lama mengikat mereka.
Seringkali, kenangan masa lalu menarik Matthew kembali ke hari-hari ketika ia dan Aletta masih bersama, saat segalanya terasa utuh dan sempurna. Namun, seperti gelombang yang tak dapat dihentikan, waktu dan takdir menulis kisah mereka dengan luka dan kehilangan.
Kini, ia berdiri di tepi kenyataan yang pahit, hubungan yang telah retak, dan seorang anak yang terasa begitu jauh dari jangkauannya.
Di dalam mobil, suasana begitu hening. Hanya suara mesin mobil yang sesekali bergema di antara keheningan itu.
Arthur duduk di kursi penumpang tepat di samping Matthew dengan posisi kaku, tangannya mengepal di atas lututnya.
Pandangannya terpaku ke jendela, tetapi jelas ada kegelisahan yang terpancar dari gerak tubuhnya.
Sesekali, matanya mencuri pandang ke arah Matthew, tetapi segera mengalihkan pandangan ketika Matthew menangkap tatapannya.
Suasana yang mencekam itu merayap perlahan, menyisakan perasaan yang sulit diungkapkan oleh Matthew.
Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, tetapi kata-kata itu terasa sesak, terperangkap di tenggorokannya. Ia terdiam, bingung, tak tahu harus memulai dari mana, seakan setiap kalimat yang muncul justru akan mengaburkan perasaannya lebih dalam.
Di balik kebingungannya, Arthur terperangkap dalam labirin pikirannya sendiri, seakan dunia di sekelilingnya perlahan menghilang, meninggalkan hanya pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.
Peristiwa di sekolah tadi masih segar di ingatannya. Ejekan Alex, teman sekelasnya, begitu menyakitkan.
Kata-kata itu menusuk hatinya, membuatnya merasa marah dan tidak berdaya. Namun, yang paling membekas adalah saat ia membela diri dengan mengatakan bahwa ia memiliki ayah. Kata-kata itu keluar begitu saja, seakan-akan ia ingin meyakinkan dirinya sendiri lebih dari orang lain.
"Berhenti, Alex. Apa yang kau katakan tadi keterlaluan," ucap Arthur yang masih berusaha bersikap tenang.
"Aku benar, Daddy mu tidak pernah hadir, aku tidak pernah melihatnya.."
"Kau pembohong Arthur," ejek Alex terus menerus, ia benar-benar menjadikan Arthur sebagai bahan ejekannya di tengah-tengah jam istirahat sedang berjalan.
Tanpa bisa menahan diri, Arthur akhirnya meluapkan kemarahan yang terpendam.
"Aku tidak berbohong! Aku memiliki Daddy ...!"
"Mommy mengatakan aku juga memilikinya ...!"
Alex justru tertawa terbahak-bahak, mempermalukan Arthur dengan mendorong kursinya hingga hampir terjatuh.
Saat itu, batas kesabarannya pun runtuh. Dengan mata elang birunya yang menyala penuh amarah, Arthur bangkit, menatap tajam ke arah Alex. Tangannya terkepal erat, lalu seketika itu juga, ia melepaskan pukulan yang penuh kekuatan.
Dalam sekejap, keributan pecah, mengguncang seluruh sekolah. Semua terkejut, tetapi Arthur tak lagi peduli dengan konsekuensinya.
Dalam pikirannya, hanya satu hal yang jelas, ia perlu membela dirinya dari hinaan yang tak bisa ia terima.
Kembali ke masa kini, di dalam mobil mewah yang melaju dengan kecepatan sedang, Matthew sesekali melirik Arthur yang berada di sampingnya.
Ada campuran emosi yang sulit diungkapkan.
Keinginan untuk lebih mengenal anaknya bertabrakan dengan ketakutan-nya akan penolakan.
Meski Arthur masih belum mengenalnya, Matthew merasa pertemuan ini adalah langkah pertama untuk membangun hubungan yang lama terabaikan. Ia berharap bahwa perasaan canggung ini bisa hilang seiring berjalannya waktu.
"Arthur," ucap Matthew yang akhirnya memutuskan untuk berbicara setelah beberapa saat terdiam.
"Jangan khawatir, Paman bukan orang jahat. Paman hanya ingin kau tahu, meskipun kita belum dekat, Paman di sini untukmu."
Arthur tetap diam. Namun, matanya tetap mengamati Matthew. Ia masih merasa asing dengan semua ini.
Saat mobil melaju lebih jauh, Arthur akhirnya menyadari bahwa ia sedang dibawa pergi oleh seseorang yang tidak ia kenal sepenuhnya. Ia menoleh dengan bingung dan melihat Matthew.
Sebuah tawa kecil terlepas dari mulut Matthew. Namun, bukan tawa yang menghibur, lebih kepada perasaan canggung yang mencair sedikit.
Sesekali Matthew menoleh ke arah Arthur dengan pandangan yang penuh harapan. Namun, di sisi lain, ia merasa cemas.
Arthur menatapnya dengan pandangan yang penuh tanda tanya, seolah mencari jawaban dalam heningnya keadaan. Wajahnya, dengan segala keraguan dan kebingungan yang terlukis jelas, mengingatkan Matthew pada masa kecilnya sendiri.
Ada kesamaan yang tak terbantahkan antara mereka, terutama pada mata Arthur yang berkilau biru penuh kebingungan itu.
Bola mata yang sama, seolah mencerminkan bayangannya. Namun, ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lebih dalam, bibir Arthur, yang sangat mirip dengan bibir Aletta. Sebuah kenangan yang tak pernah bisa Matthew lupakan, seolah terukir di dalam hatinya selamanya.
"Paman tahu ini sulit, Arthur," Matthew berkata perlahan, mengingatkan anaknya bahwa pertemuan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.
"Tapi aku ingin kau tahu, aku di sini untuk mencoba memperbaiki semuanya." cicit Matthew pelan sembari menatap lurus ke jalanan yang ada di depannya.
Arthur tidak langsung menanggapi. Ia masih merasa cemas dan tidak tahu harus berkata apa.
Mobil melaju perlahan, mengitari jalanan. Suara mesin yang berdengung menjadi satu-satunya hal yang memecah kesunyian.
Di luar, pemandangan kota yang tak dikenalnya terus berganti, dan setiap detik yang berlalu seakan menambah ketegangan yang mengalir di dalam dirinya.
Tak lama kemudian, Matthew menghentikan mobil di depan sebuah rumah mewah yang tampak begitu asing baginya.
Rumah yang sejak lama ia cari keberadaannya, itu adalah rumah milik Aletta.
Benar, Matthew memberanikan diri dengan segala keyakinan yang ada dalam dirinya menginjakkan kakinya ke sini untuk mengantar Arthur.
Karena ia berpikir mungkin dengan mengantar Arthur ke rumah itu dapat membawa langkah awal dalam usahanya untuk kembali mendekatkan diri dengan anaknya, meskipun ia tahu bahwa ini bukan hal yang mudah.
Jantung Matthew berdetak kencang, dan seakan-akan setiap detik terasa lebih panjang daripada biasanya.
Ia mematikan mesin mobil dan melangkah keluar, membuka pintu untuk Arthur dengan hati yang berdebar.
"Benar ini rumahmu, Nak?" tanya Matthew mencoba memastikan jika alamat yang diberikan Robert tidak salah.
Arthur hanya mengangguk pelan, membenarkan jika rumah yang tengah mereka injakkan kakinya ini adalah rumahnya.
Matthew menggenggam tangan putranya dengan erat kemudian membawanya hingga ke depan pintu utama yang menjulang tinggi, dan Matthew dengan perlahan mengetuk pintu.
Detik-detik yang terasa lama, penuh ketegangan dan kecemasan. Meskipun ia tahu bahwa Aletta ada di dalam, ia tidak bisa menebak bagaimana reaksi wanita itu terhadap kehadirannya yang begitu tiba-tiba.
Pintu rumah terbuka dengan pelan, dan tatapan pertama yang mereka terima adalah tatapan terkejut dari Aletta.
Wajah wanita itu pucat, matanya terbelalak melihat Matthew dan Arthur berdiri di ambang pintu.
"Ar... Matthew?" ucap Aletta hanya bisa berbisik, suara terkejutnya hampir tidak terdengar. Tangan Aletta gemetar, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Matthew hanya terdiam, seolah tak mampu berkata apa-apa. Suara detakan jantung Matthew pun terdengar semakin keras.
Keheningan semakin terasa berat dan menegangkan, saat pintu perlahan terbuka lebih lebar.
Semua pertanyaan yang menggantung di benaknya tetap tak terjawab, seperti bayangan yang terus membayangi, menunggu jawaban yang tak pernah tiba.