Aletta menatap lurus ke depan, matanya kosong, seolah tak sanggup melawan badai kenangan yang tiba-tiba menghantamnya. Kehadiran Matthew seperti pisau yang mengoyak luka lama, menyakitkan, meski sudah bertahun-tahun ia berusaha membalutnya dengan ketegaran.
Javier, yang berdiri di dekatnya, mengamati wajahnya yang tak mampu menyembunyikan kegelisahan. Ia tahu ada sesuatu yang berat yang sedang dipikul Aletta, tapi ia tidak tahu apa itu.
"Aletta," ucap Javier dengan suaralembut tapi tetap tegas, "kau baik-baik saja?"
Aletta tersentak dari lamunannya. Ia mengangguk pelan, mencoba meyakinkan Javier. "Aku baik-baik saja."
Tapi Javier tahu itu tidak benar. Ia duduk di samping Aletta, mencoba mendekatkan dirinya ke dunia yang Aletta sembunyikan darinya. "Pria tadi... kau mengenalnya?"
Aletta terdiam, senyum tipis yang tadi dipaksakan nya perlahan menghilang. Anggukan kecil keluar dari kepalanya, tapi itu cukup untuk Javier.
"Ya," ucapnya lirih.
"Apa kalian punya masalah sebelumnya?" desak Javier, tak mampu menahan rasa ingin tahunya.
"Ia terlihat sangat ingin bicara denganmu, seperti ada sesuatu yang penting."
"Maksudku, pria itu terlihat sekali berusaha untuk memberi penjelasan padamu."
Aletta mengatupkan bibirnya. Ia tak menjawab pertanyaan Javier.
Javier melirik kembali ke arah Aletta dan melihat raut wajah Aletta seperti menyimpan sesuatu. "Maaf, aku bertanya terlalu jauh. Lupakan saja Lett ...."
"Ia Ayah, Anakku."
Kata-kata itu seperti petir yang menghantam Javier.
"Apa?" pekiknya, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Javier terdiam, mencoba mencerna kenyataan yang baru saja diungkap kan. Ia tak pernah membayangkan bahwa pria yang tadi ia lihat adalah orang yang meninggalkan Aletta dan Arthur.
Itu artinya, pria itu adalah mantan suami dari Aletta? Pria yang telah meninggalkan wanita cantik seperti Aletta dan laki-laki kecil yang menggemaskan itu?
Aletta memahami bagaimana raut wajah bingung yang Javier perlihatkan.
Pasalnya Aletta tak pernah menjelaskan sedikit pun mengenai Matthew kepada Javier, karena ia memang benar-benar ingin menyembunyikannya sendiri.
"Ya, ia Ayah, dari anakku. Mantan suamiku yang selalu kau tanyakan bagaimana sosoknya," jelas Aletta pada akhirnya dan sedikit mengingat kilasan balik saat Javier dulu terus menanyakan sosok Matthew.
"Aku ingin tahu, Lett," ujar Javier sambil menggendong Arthur yang kala itu masih bayi.
"Bagaimana bisa pria yang meninggalkanmu ini bahkan tidak peduli pada anak semanis ini?"
Aletta hanya tertawa kecil, mencoba mengalihkan pertanyaan Javier. "Sudahlah, Javier. Itu masa lalu. Jangan memikirkannya."
Namun Javier tak berhenti mendesak. "Aku benar-benar penasaran," katanya, suaranya rendah tapi penuh rasa ingin tahu yang tajam, seperti bilah angin di malam sepi.
"Seperti apa rupa pria yang cukup bodoh untuk meninggalkanmu? Kau ini permata, Lett. Bagaimana mungkin ia sebuta itu?"
Namun Aletta hanya menjawab pertanyaan Javier kala itu dengan tawa kecilnya saja dan baru hari ini semua pertanyaan itu terjawab.
Javier masih terdiam dan mencerna semuanya.
"Tapi semua sudah berlalu, lupa kan saja, aku tidak ingin mengingatnya," jelas Aletta lagi tidak ingin Javier menanyakan lebih padanya.
Javier menoleh ke arah Aletta, ia jadi merasa bersalah telah membuka luka Aletta.
"Maafkan aku, aku tidak akan membahasnya lagi," sesal Javier dengan menyentuh bahunya.
Itu benar, untuk apa ia menanyakan pria yang telah menjadi masa lalu Aletta, toh seharusnya ia yang saat ini harus membuat Aletta melihat ke arahnya.
Ponsel milik Javier tiba-tiba berbunyi membuatnya menyingkir sejenak untuk mengangkat teleponnya.
Tak lama Javier kembali dan mengatakan harus bertemu dengan kliennya yang ternyata hadir di acara ini.
"Ayo Lett ...," ajak Javier yang merasa tidak tega jika harus meninggalkan Aletta sendirian disini.
"It's oke aku di sini saja."
Javier yang tidak ingin memaksa pun ia segera menuju ke tempat kliennya.
Selepas Javier pergi Aletta sejenak mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi asistennya, Jasmine untuk menanyakan perihal mengapa pria yang tidak seharusnya berada di acara tiba-tiba hadir.
"Jasmine ...."
"Ya Bu ...?"
"Berikan aku daftar perusahaan yang seharusnya hadir di malam ini."
"Baik Bu ...."
Tak menunggu waktu yang lama Aletta langsung mendapatkan daftar nama perusahaan yang dikirimkan oleh Jasmine.
Di dalamnya tertera nama perusahaan beserta pemiliknya, sebuah detail yang tampak biasa saja di permukaan. Namun, ada sesuatu yang mengusik pikirannya, sebuah kecurigaan halus yang menjalar perlahan seperti kabut di pagi hari. Perusahaan itu dimiliki oleh seseorang dengan inisial MG, dan jika kedua huruf itu digabungkan, ia membentuk sebuah nama yang tidak asing, Matthew Gualtiero.
"Classy Galore Corp?" ucap Aletta pelan.
Aletta mengingat jelas nama perusahaan tersebut yang ia setujui untuk di ajak kerjasama dengan perusahaanya.
Aletta memejamkan matanya, ia benar-benar syok. Ia pun kembali untuk menghubungi Jasmine kembali.
"Jasmine buatkan surat pembatalan kerjasama dengan Classy Galore Corp,"
"Classy Galore Corp, apa Ibu yakin?" tanya Jasmine mencoba memastikan.
"Dana investasi yang diberikan Classy Galore Corp sangat besar dan sebagian dana tersebut telah di gunakan, hal tersebut tidak memungkinkan--"
"Jasmine, kau harus melakukannya, kembali kan seluruh dana milik perusahaan itu," tegas Aletta, karena memang ia tidak ingin terhubung lagi dengan Matthew.
"Maaf Bu, tapi hal tersebut tidak memungkinkan untuk kita mengembalikannya, sebagian dari dana tersebut telah di belikan untuk kebutuhan perusahaan dan Classy Galore Corp menjadi salah satu investor terbesar yang Almeré Luxe miliki."
Aletta memejamkan matanya, ia cukup shock saat mengetahui bila ternyata Matthew merupakan salah satu orang yang menjadi investor terbesar di perusahaannya.
Aletta memejamkan matanya. Sebenarnya bukan tidak bisa untuk mengembalikan, hanya saja Aletta tidak bisa membuat ayahnya untuk terlibat dalam masalah ini, ia tahu ayahnya itu sangat tidak menyukainya.
Di saat dirinya tengah bercakap dengan orangnya, ia justru di kejutkan dengan suara Matthew yang tiba-tiba terdengar dari balik tubuhnya.
"Kau tidak perlu mengembalikannya Lett ...," ucap Matthew dengan senyuman yang bertengger di bibirnya.
Jelas Matthew melakukan semuanya agar perusahaan milik istrinya dapat berjalan dengan lancar dan tentu saja ia tidak menerima jika Aletta melakukan pengembalian dana kepadanya.
Aletta menoleh ke sisi belakangnya, dan ketika ia melihat Matthew ia langsung mematikan teleponnya.
Aletta mematikan sambungan telepon yang tengah ia lakukan tersebut, lalu ia menghadap kan tubuhnya kepada Matthew lalu menghunuskan tatapan tajam kepadanya.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan? Bukan kah aku sudah mengatakan bila semuanya telah berakhir?!"
"Aku dan kau tidak memiliki hubungan lagi. Jadi, kau tidak perlu melakukan apa pun termasuk mencoba untuk bergabung dengan perusahaanku!!" marah Aletta dengan apa yang Matthew lakukan.
Matthew sedari tadi mencerna apa yang Aletta katakan padanya.
"Apa yang kau katakan Lett.. Kau masih menjadi istriku--"
"Kau dan aku sudah berpisah dan aku tidak ingin memiliki ikatan lagi dengan seorang pembohong sepertimu!"
Matthew menggelengkan kepalanya. "Aku dan kau, kita masih menjadi suami istri yang sah Aletta," ucap Matthew mencoba menjelaskan kepadanya.
Karena memang tak ada perceraian ataupun surat perceraian yang sampai kepadanya, bagaimana Aletta bisa mengatakan hal tersebut.
"Dan pembohong, Aletta aku bisa menjelaskan semuanya, dengarkan aku sekali saja--"
Aletta benar-benar tidak menginginkan penjelasan apa pun dari Matthew, karena ia berpikir semua sudah berakhir jadi ia memilih untuk pergi dan meninggalkan Matthew, sekali pun Matthew berteriak memanggil namanya.
'Argh ...!' geram Matthew saat semua yang ia harapkan sempurna nyatanya hancur seketika.