Aletta saat ini tengah berada di sebuah bar yang gelap, dengan suara obrolan pengunjung yang ramai seperti dengungan lebah.
Di depannya terdapat botol wine dan segelas cocktail, yang ia pesan meskipun sebelumnya tidak pernah meminumnya. Minuman itu ia harap dapat menghapus masalah yang menghantui pikirannya, tetapi setelah meneguknya, tenggorokannya terbakar dan ia terbatuk.
"Menghilang lebih baik, kenapa kau kembali muncul Matthew ...," lirih Aletta, mengenang Matthew.
Sementara itu, seorang pria tua berkemeja motif mendekatinya dengan tatapan penuh hasrat. Tangannya mendarat di bahu Aletta, berusaha mendekatkan diri dengan alasan menemani.
Aletta, yang merasa terganggu, berusaha menghindar, tetapi pria tersebut tidak berhenti. Ketika pria tua itu mulai meraba tubuh Aletta, ia semakin terpojok, berharap ada yang menolongnya, tetapi bar tersebut terasa seperti dunia tanpa aturan.
Bukan hanya pria tua itu saja, ke-empat pria lain pun menghampiri ke tempat keberadaan Aletta.
"Mendapatkan mangsa tapi kau ingin menikmatinya sendiri?" ucap salah satu dari keempat pria yang datang.
Pria tua itu terkekeh, "Aku yang melihatnya lebih dulu. Jadi ini bagianku."
"Bagianmu? Kita terbiasa berbagi dan kau ingin menikmatinya sendiri?" jawab mereka lagi yang ternyata adalah preman di bar itu dengan nada merendahkan.
Pria tua itu mengabaikan perkataan keempat preman itu dan kembali mencoba mendekati Aletta. Namun, dorongan dari arah lain membuat tubuhnya terhuyung dan jatuh ke lantai.
"Aletta ...," gumamnya saat mendekati Aletta yang tampak kehilangan kesadaran.
Tiba-tiba, Matthew muncul. Dengan kemarahan yang membara, ia mencengkeram pria tua itu, mengangkatnya dari lantai, dan menatapnya dengan tajam.
"b******k!" marah Matthew.
Kelima pria tersebut ketakutan. Mereka tahu bahwa mereka sedang berhadapan dengan Matthew, ketua mafia klan Gualtiero, yang sangat ditakuti. Peluh dan getaran tubuh mereka menunjukkan ketakutan, sementara Matthew siap untuk melindungi istrinya.
Keempat pria lainnya berhasil melarikan diri, tetapi pria tua itu tidak bisa menghindar.
Matthew mencengkeram kerah pria tua itu dengan penuh kekuatan, mengangkat tubuh renta itu sedikit.
"Apa yang kau lakukan pada istriku?" tanya Matthew dengan suara penuh amarah.
Pria tua itu terkejut, menyadari bahwa Aletta adalah istri Matthew. "I-istri?" gugupnya.
"A-aku ....”
Matthew menoleh ke arah Aletta yang terbatuk dan terpaksa melemparkan tubuh pria tua itu ke lantai.
Saat itu, semua mata tertuju pada mereka, mengetahui bahwa Matthew, ketua mafia klan Gualtiero, sedang ada di bar tersebut. Tidak ada yang berani mendekat.
Matthew beralih ke Aletta, menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantiknya. Aroma alkohol kuat tercium dari mulut istrinya, yang membuat Matthew yakin Aletta menenggak minuman itu.
"Letta ...."
Matthew menepuk pipi Aletta pelan, merasakan suhu panas yang luar biasa.
Matthew segera mengangkat tubuh Aletta dan bergegas meninggalkan bar yang berbahaya itu.
"Pria itu menyentuh.. bahuku ...," racau Aletta saat berada dalam dekapan Matthew.
Dengan kemarahan yang masih membara, Matthew menatap pria tua itu dengan tajam. Jika Aletta tidak dalam kondisi seperti ini, ia pasti sudah menghabisi pria itu.
Matthew segera keluar dari bar tersebut, menjaga istrinya agar terhindar dari bahaya.
Sial. Kalau Aletta tidak seperti ini mungkin pria tua itu akan langsung dirinya habisi.
Matthew pun segera bergegas meninggalkan bar sialan yang hampir membahayakan istrinya.
***
Matthew membantu Aletta duduk di mobil, memasang seatbelt, dan menutup pintu sebelum masuk ke kursi pengemudi. Sesekali, ia melirik Aletta yang memejamkan mata dan gelisah.
"Kenapa kau jahat padaku?" Aletta bertanya, amarah dan tangis terdengar.
"Aku berada di sana karenamu!"
"Kenapa kau kembali muncul—"
Matthew diam mendengarkan kata-kata Aletta yang penuh emosi, sementara ia berusaha menenangkan diri dan memahami kondisi Aletta yang mabuk. Namun, ia merasa ada yang tidak biasa dengan Aletta. Sesekali, ia melihat Aletta merenggangkan pakaian, tampak seperti melawan sesuatu yang tak terlihat.
"Panas ...," kata Aletta pelan, tubuhnya basah oleh keringat. Matthew menurunkan suhu pendingin, tapi tubuh Aletta tetap gelisah. Matthew mengingat malam ketika Aletta terpengaruh obat perangsang, khawatir kejadian itu bisa terulang.
Aletta perlahan mengangkat gaunnya, memperlihatkan kulit kakinya, dan Matthew merasa terkejut, berusaha fokus pada jalan. Ia teringat kejadian di bar, membayangkan Aletta terjebak dengan lima pria.
Ketegangan membuat Matthew memutuskan mengejar taksi yang membawa Aletta, dan dengan kecepatan tinggi, ia berhasil menghentikan taksi di sudut jalan. Namun, saat membuka pintu, Aletta sudah tidak ada, hanya tersisa kursi kosong.
"Katakan di mana wanita tadi?!" tanya Matthew kepada sopir taksi.
"Bar di ujung jalan," jawab sopir dengan gugup.
Shit! desis Matthew, mengetahui bar itu terkenal buruk. Ia segera menuju tempat itu.
Setibanya di bar, ia kembali menyadari Aletta semakin tidak terkendali dan mendekat padanya, mencari kenyamanan. "Aletta ...," kata Matthew, cemas melihat kondisi istrinya yang semakin lemah.
Matthew tidak ingin memanfaatkan kelemahan Aletta, hanya tidak ingin membuatnya semakin membenci dirinya.
***
Sesampainya di rumah besar pribadinya, Matthew segera membawa masuk Aletta. Ia membawa tubuh Aletta dengan hati-hati yang pasti tangan istrinya itu sama sekali tidak bisa diam dan terus bergerak menyentuh d**a bidangnya.
Rumahnya ini tidak banyak yang menjaga karena memang keinginannya untuk mendapatkan ketenangan. Jadi, saat ini di rumah besar ini hanya ada Aletta dan Matthew saja.
Matthew membuka pintu kamar miliknya dan ini untuk pertama kalinya Matthew membawa Aletta ke rumah barunya yang memang ia beli khusus untuk mereka tinggali jika dirinya menemukan Aletta kembali.
Matthew meletakkan Aletta ke atas ranjang dengan hati-hati dan berniat untuk bangkit setelahnya. Namun, Aletta justru menahan tangannya dan memandangnya dengan tatapan yang sepertinya penuh dengan hasrat yang tersembunyi.
Matthew meneguk salivanya sendiri melihat sosok yang sangat ia rindukan kini berada dalam jarak hanya lima sentimeter saja.
"Matthew ...," ucap Aletta dengan yang begitu lirih memanggil nama Matthew. Namun, panggilannya kali ini tidak seperti nada biasa yang Aletta selalu keluarkan untuknya.
Jantung Matthew terasa sangat berdebar-debar. Tatapan Aletta seolah
mengatakan bila ada sesuatu hal yang harus Matthew lakukan untuknya. Namun, Matthew ragu jika ia melakukan apa yang bisa ia baca dari tatapan Aletta justru akan memperparah keadaan.
Hal tidak terduga pun Aletta lakukan, ia membawa tangannya untuk menyentuh kedua rahang Matthew, kemudian menariknya lebih dekat lagi ke arahnya.
"Aku mohon, Matth... bantu aku," ucap Aletta memohon dengan suara pelan, hampir menyentuh bibir Matthew, membuatnya terperangkap dalam dilema yang membingungkan.
Namun dengan sekuat tenaga, Matthew membangun tembok dalam dirinya, berusaha menahan diri dan menekan hasrat agar tidak melangkah lebih jauh.
Semakin malam, tubuh Aletta yang memanas menarik Matthew lebih dekat, seperti magnet yang tak bisa dihindari. Tubuhnya merespon kebutuhan akan panas dari Aletta.
Pada akhirnya perasaan yang telah lama Matthew pendam selama bertahun-tahun tidak dapat ia bendung lagi.
Matthew mendekatkan wajahnya, menatap mata Aletta yang bergetar, melihat rasa rindu terpendam. Hatinya dipenuhi keraguan dan keberanian, seperti berdiri di tepi jurang.
Bibir Matthew akhirnya menyentuh bibir Aletta dengan lembut, menyampaikan perasaan yang tak terucapkan melalui ciuman yang hangat dan penuh kehati-hatian.
Matthew menarik diri sejenak, memberi ruang bagi Aletta untuk bernapas, lalu mengungkapkan kekhawatirannya, "Aku takut semuanya menjadi rumit jika kita melangkah terlalu jauh."
Namun sebelum Matthew selesai berbicara, Aletta meraih wajahnya, mendekat, dan membalas ciuman dengan kelembutan dan intensitas yang membuat Matthew terdiam.
Sentuhan mereka kini bukan lagi sekadar pertemuan dua bibir, melainkan sebuah pengakuan yang terpendam lama, dua hati yang akhirnya mengungkapkan perasaan yang telah lama tertahan, meskipun Aletta tengah terpengaruh sesuatu, kemungkinan besar obat perangsang yang membuat segalanya terasa lebih kabur.
Ketegangan di antara mereka terasa seperti badai yang tertahan, tenang tetapi penuh ancaman.
Matthew dengan gerakan perlahan melepaskan kancing kemejanya satu per satu.
Ia tidak pernah melepaskan pandangannya dari Aletta, seolah matanya bertanya, memastikan bahwa ini adalah apa yang benar-benar diinginkan keduanya.
Aletta mengulurkan tangan, jemarinya yang gemetar menyentuh kulit dadanya, merasakan degup jantung yang sama cepatnya dengan miliknya.
"Aku ingin ini, Matthew," bisiknya, nyaris tidak terdengar tetapi cukup kuat untuk menghentikan dunia di sekitar mereka.
Kata-kata Aletta menjadi jangkar bagi Matthew, yang semakin mendekat, merasakan setiap detil kehadiran Aletta.
Mereka membiarkan diri mereka larut, setiap sentuhan menjadi sebuah cerita, setiap gerakan mengukuhkan janji yang terucap tanpa kata oleh Matthew yang berjanji tidak akan membiarkan Aletta pergi dari sisinya lagi.
Matthew membelai wajah Aletta dengan lembut, matanya menatap dalam. "Aku hanya ingin memastikan," gumamnya dengan suara hampir tak terdengar, "Bahwa kau tidak akan menyesali ini"
Aletta menatap Matthew dengan sayup matanya melihat ke arahnya yang di pandangannya terlihat memudar.
"Matthew," katanya dengan suara yang nyaris terputus oleh debar jantungnya sendiri.
"Bersamamu, aku tidak akan pernah menyesal," lirih Aletta pelan.
Matthew mendekapnya erat, membiarkan keheningan menyelimuti mereka, hanya diisi oleh napas yang berirama dan detak jantung yang saling menyatu.
Di balik setiap gerakan, bukan hanya ada gairah yang membara, tetapi juga cinta yang dalam, saling memiliki yang mereka bangun malam itu, seolah mereka akhirnya menemukan rumah mereka dalam diri satu sama lain yang sempat menghilang.
***
Cahaya matahari membuat Aletta perlahan membuka matanya. Kepalanya berat, tubuh lelah, dan pikirannya kacau. Ia terkejut melihat Matthew tidur di sampingnya dan menyadari dirinya hanya dibalut selimut. "Ya Tuhan ...," bisiknya dengan napas tercekat.
Buru-buru, Aletta bangkit dari tempat tidur dan melihat potret pernikahannya di dinding kamar. "Ini... kamar Matthew?" pikirnya panik, mulai mengingat serpihan kejadian malam sebelumnya aroma alkohol, sentuhan panas, dan tatapan Matthew yang mendalam.
Ia melirik Matthew yang masih terlelap dan mulai mengumpulkan pakaiannya yang berserakan. Dengan hati-hati, ia mengenakan dress yang kusut dan menyisir rambutnya.
Setelah siap, Aletta melangkah menuju pintu, menoleh sejenak ke arah Matthew yang terbaring damai.
Hatinya bergetar melihat sosok yang dulu ia cintai, tetapi rasa takut dan bingung menguasai dirinya. Tanpa berpikir panjang, ia membuka pintu dan melangkah keluar, menyusuri lorong rumah besar yang terasa asing.