“Sudah siap, mau nyicip?” Rania menyodorkan piring berisi nasi goreng, Arkan mengambil langsung dengan tangan. Sepertinya ia malas menggunakan sendok.
“Wow,” serunya.
“Suka?”
“Tentu saja. Mama harus mencoba ini.” Arkan merebut piring dari tangan Rania dan membawanya ke dalam, tepat saat Ayyara duduk di kursi makan. “Mama, coba ini,” ujarnya sambil menyuapi Ayyara.
Ayyara yang tak menyangka akan langsung di serobot seperti itu tak bisa mengelak, ia membuka mulutnya sedikit. “Ini nasi goreng?”
“Yes, Rania cooks."
“Really? Saya pernah makan nasi goreng, and saya tidak suka rasanya. Terlalu berminyak dan terlalu banyak penyedap. But ini ... Very delicious. Bisa beri saya sepiring?”
Haykal duduk tepat di samping mamanya. Ia menyuapi Ayyara dengan raut bahagia. Rania melihat perlakuan manis Haykal dengan iri. Ia ingin sekali melakukan itu pada mamanya, namun ia jarang sekali punya waktu, mamanya juga. Mereka sibuk dengan kesibukan masing-masing.
Rania ingat Arkan, jika Haykal dan Ayyara suka nasi goreng buatannya, Arkan juga pasti suka. Beruntung tadi ia memasak cukup banyak. Diambilnya sepiring besar nasi goreng untuknya dan Arkan. Akan lebih baik sepiring berdua, agar mama Ayya percaya bahwa dirinya dan Arkan memang semesra itu.
“Boleh saya sarapan di atas?” Rania yang telah membawa nampan berisi piring dan dua gelas besar teh manis meminta ijin pada mertuanya. Ayyara mengangkat jempolnya, ia tengah asyik makan sambil bercanda dengan Haykal. Hal yang jarang ia lakukan sebelumnya.
Haykal mengikuti Rania dengan ekor matanya. Ayyara nyaris tersedak melihat binar berbeda di mata anak bungsunya itu saat memandang Rania.
**
“A.” Rania menggoyang kaki Arkan perlahan. Kemudian mengulanginya saat Arkan cuma menggeliat dan membalik tubuh.
“Sarapan, yuk.” Duduk di samping Arkan, mengambil piring dan mendekatkannya ke wajah Arkan. Mengipasinya dengan tangannya, agar aroma wangi nasi masuk ke penciuman Arkan.
“Hmm, apa ini?”
“Let's have breakfast, Sir."
Arkan membuka mata, melihat Rania yang tampak segar dengan piring besar di tangan, membuat Arkan ingin menggodanya.
“I want something else to eat."
Rania tampak kecewa, ia turun dari ranjang dan menyimpan piringnya, “Akan saya ambilkan yang seperti biasanya.”
“No, Rania. I want to eat you."
“Heh?!” Rania berbalik dan mendelik.
“Stay here for a moment.” Arkan menarik tangan Rania hingga Rania terjatuh ke pelukannya. Arkan mengunci tubuh istrinya hingga Rania benar-benar tak bisa bergerak.
“Lepaskan saya, tolong.” Lirih Rania.
“Saya tak akan menyakitimu, saya janji.”
“Arkan. Ini menyakitiku.”
“Kenapa? Kita tidak berdosa, Rania. Kamu sudah jadi istri sah Arkan Wijaya.” Arkan tetap tak bergerak. Ia memejamkan mata. Menikmati aroma tubuh Rania yang baru dikenalnya.
Rania terdiam, dia membenarkan ucapan Arkan. Namun masih sulit dirinya menerima Arkan begitu saja, dia belum yakin bahwa nanti akan tetap bertahan di samping Arkan setelah semua terungkap. Dan jika memilih pergi dari Arkan, Rania berharap dirinya masih utuh. Tak kehilangan apa pun yang akan di sesalinya.
“Mama Ayya dan Haykal suka nasi goreng buatanku. Saya yakin kamu juga akan suka.” Mencoba mengalihkan perhatian Arkan, Rania bergerak sedikit.
“Oh ya? Kamu masak?”
“Of course. Tak percaya? Makanya lepaskan.”
“Oke, sini saya coba.” Arkan mengurai pelukannya dengan enggan. Menggeser punggungnya hingga bersandar ke badan ranjang.
Arkan mengambil sendok dan mencicipi masakan istrinya, diam beberapa saat kemudian melanjutkan kunyahannya. “Pantas mama suka.”
“Enak?”
Arkan mengangkat alis, menarik piring dari tangan Rania.
“Sudah pernah makan nasi goreng sebelumnya?”
Arkan menggeleng, koki di rumah ini tak pernah memasak yang seperti ini. Mereka lebih banyak mengikuti selera Ayyara. Masakan Turki, tentu saja. Simit menjadi menu utama sarapan mereka. Itu adalah roti bundar seperti donat yang ditaburi wijen di atasnya. Arkan suka toping keju, tak seperti Haykal yang lebih suka memakannya bersama sosis.
Rania memperhatikan cara Arkan makan. Nyaris tak berhenti menyuap hingga mulutnya terus mengunyah. Sungguh rasa laparnya hilang seketika melihat apa yang dilakukan suaminya itu. Diambilnya teh manis yang telah hangat kuku, membawanya ke balkon. Rania duduk di sebuah kursi rotan yang tersedia di sana. Menyeruputnya pelan.
Arkan menyusul istrinya. Ia bersandar di pagar, memandangi bebek yang tengah berenang di kolam kecil di bawah kamarnya.
“Penjahat itu bernama Sofyan. Kamu kenal?” Arkan bergumam, “ia terlihat seperti mengenal kamu.”
Mencoba mengingat siapa kenalannya yang bernama Sofyan, tapi otak Rania buntu. Wajah ketiga penjahat kemarin terasa asing baginya.
“Saya rasa tidak.”
“Ah ya, Saya belum menghubungi Sofyan,” ujar Arkan. Ia kembali ke kamar dan mengambil ponselnya. Tak sulit menemukan nomor Sofyan karena daftar kontak di ponselnya baru beberapa saja.
Suara ketukan di pintu membuat Arkan segera menyembunyikan ponsel. Ia memberi isyarat pada Rania agar membukanya. Ia sendiri berbaring di kasur, pura-pura tidur lagi.
“Rania, Arkan masih tidur?” Ayyara melongok sedikit ke dalam, melihat putranya tertidur pulas.
“Itu, tadi habis makan, tidur lagi, Ma.”
“Sudah minum obat?” Ayyara tampak gelisah, ia menatap ponsel di tangannya berkali-kali.
“Ada apa, Ma? Perlu bantuan?” Rania melihat gelagat tak beres pada mertuanya.
“Boleh saya masuk?”
Rania membuka pintu lebih lebar, membimbing mamanya ke tempat tidur. Ia merutuki Arkan yang tak mau membawa sofa barang sebiji ke kamarnya yang seluas ini. Membawa mama ke kursi di balkon rasanya tak pas untuk saat ini. Ayyara mengelus kepala putranya lembut. Setitik air mata jatuh ke pipinya yang belum tersentuh penuaan.
“Mama bisa cerita ke saya. Saya siap mendengar, membantu juga, andai saya bisa.” Rania menggenggam jari Ayyara, berusaha membuat wanita itu nyaman dan percaya padanya.
“Saya tak tahan lagi menyimpan ini sendiri.” Ayyara tersedu, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Tell me, what's the matter, Ma?"
“Saya menyesal, saya benar-benar menyesal telah mengkhianati Bimo. Jangan sampai kau berbuat bodoh seperti saya, Rania. Jangan!”
Mengusap punggung mertuanya, hanya itu yang bisa Rania lakukan.
“Saya terlena dengan perhatiannya, sedangkan Bimo nyaris tak punya waktu buat saya. You know saya sendiri di negara ini, saya kesepian. Sekali waktu saya pikir dia mencintai saya, mungkin tak salah jika saya lepaskan Bimo dan menikahi Bas, lain waktu saya berpikir bahwa saya masih mencintai Bimo, tak ingin meninggalkan dia. Lalu saya terjebak dalam dark relationships.” Isakan Ayya terdengar lebih memilukan. Ini adalah pertama kali ia mengungkap perasaannya.
“Haykal anak paman Bas?” rania membersihkan diri bertanya.
“I dont know. Hati saya bilang dia anak Bimo. But Bas begitu yakin Haykal anak dia.”
“Selama bersama Bas, dia banyak memberi saya intruksi. Harus merayu Bimo untuk memberikan dua perusahaan miliknya buat Haykal. Saya menurut, saya pikir memang itu baik, buat masa depan dia. Padahal saya yakin Haykal belum mampu memegang kendali perusahaan sekecil apa pun. Selanjutnya kedua perusahaan itu, entah bagaimana caranya, telah berpindah tangan kepada Bas. Dan sekarang dia meminta saya mendapatkan tanda tangan Bimo, atau Arkan.” Ayyara menyeka air matanya. Ia melirik Arkan yang masih terpejam.
“Untuk?”
“Dia ingin memiliki perusahaan ini juga, sepertinya. Ini yang terbesar yang dimiliki Bimo, telah memiliki cabang di setiap kota seindonesia . Telah Bimo niatkan untuk diserahkan pada Arkan.”
“Yang bergerak dibidang jual beli besi baja?”
“Iya.”
“Bukankah paman Bas dan papa Bimo merintis ini bersama? Harusnya dia pun telah memiliki saham di sini.”
Ayyara mengangkat bahu.
“Urusan harta memang segila itu, Rania. Dan akhir-akhir ini saya baru menyadari, Bas tidak pernah mencintai saya, dia hanya butuh saya untuk merebut semua milik Bimo,” ujarnya lagi, menepuk dadanya perlahan agar sesak yang mendera bisa sedikit terurai.
“Boleh saya tanya sesuatu?” Rania mengerjap cepat. Ia merasa ini waktu yang tepat untuk mengorek informasi.
“Ya?”
“Mama yakin Arkan yang membunuh seorang karyawan Papa Bimo?” mata Ayyara melebar mendengar pertanyaan menantunya. Kemudian menggeleng.
“Arkan bukan orang seperti itu. Tapi CCTV menunjukkan hanya dia yang datang ke ruangan Subroto sebelum dia meninggal. Wait, Your name Is Rania Anggraini Subroto? You are subroto's daughter?” Ayyara menutup mulut, ia menggeser duduknya sedikit menjauh dari Rania, membuat Rania sedikit percaya bahwa mama Ayya adalah penjahat sebenarnya.
“Jangan sakiti Arkan, Rania. Saya yakin bukan Arkan pembunuh sebenarnya.” Ayyara memelas, ia memeluk kepala anaknya. Ketakutan jelas tergambar di pelupuk matanya.
“Menurut mama, siapa?” Rania berusaha mendorong mama mengungkap semua yang dia tahu.
“Yang punya kepentingan dengan Arkan, yang saya tahu cuma Baskoro. Dia yang ingin Arkan tiada, selain itu, saya tidak tahu.”
“Orang yang ingin Arkan tiada, melenyapkan papa saya, apa hubungannya?” Rania pura-pura tak paham. Ia hanya ingin terus mengamati ekspresi Ayyara, apakah terlihat berbohong atau menyembunyikan sesuatu.
“Mungkin, Subroto tahu sesuatu, atau semacam itu. Entahlah... tapi Rania, jangan sakiti Arkan, please.” Ayyara meluruh, ia bersujud di kaki Rania sambil tersedu. “Saya tidak punya siapa pun jika terjadi sesuatu dengan Arkan.”
Rania terdiam. Ia mencoba menghubungkan cerita Arkan dan Ayyara. Sepertinya Ayyara memang bukan pembunuh, tapi kenapa Sofyan bilang suara si penelepon adalah perempuan dengan logat aneh, itu mengarah pada mama Ayya.
“Boleh saya merekam suara mama?” Rania memutuskan. Ayyara yang masih bersujud di kaki Rania masih belum menjawab. Ia masih sibuk dengan ketakutannya. Ia yakin Rania menikahi Arkan untuk membuat hidup Arkan menderita, atau bahkan membunuhnya perlahan.
“Ma?” Rania meraih bahu Ayyara lembut. “Saya hanya minta ini saja. Apa mama lihat Arkan saya siksa? Bukankah sekarang Arkan terlihat lebih baik?” Ayyara bangkit, melirik putranya yang memang terlihat baik-baik saja.
Ayyara menghela napas, mengusap lagi air matanya agak kasar. “Baiklah, silakan.”
“Ulangi apa yang saya ucapkan, Bunuh dia sekarang, dengan Rania pun tak apa jika dia menghalangi!” Rania menghidupkan perekam suara di ponsel Arkan, menyodorkan ke arah Ayyara yang mendelik kaget. Rania mengangguk.
Ayyara mengulang ucapan menantunya dengan gemetar. Ia belum paham apa yang Rania inginkan.
Mengirimkan rekaman suara kepada Sofyan, membuat Rania sedikit tak sabar karena Sofyan tak juga membalas.
“Saya tidak paham ... Ini apa maksudnya?” Ayyara lelah, tak sabar menanti jawaban Rania yang tak juga membuka suara. Perempuan muda itu terus menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut-kerut.
“Rania!”
“Shhhh, sebentar, Mama.” Mata Rania berbinar begitu mendapat notif jawaban dari Sofyan.
[Tidak, bukan seperti itu logatnya. Suaranya juga berbeda]
“Alhamdulillah,” bisik Rania seraya memeluk Ayyara erat. Ayyara masih kebingungan dengan perlakuan Rania.
“A, wake up. Saya bilang juga apa, bukan mama Ayya.” Rania menepuk kaki Arkan pelan. Wajah Ayyara makin menunjukkan raut kebingungan. “Maafkan saya, Mama,” lanjut Rania.
Arkan membuka mata yang sejatinya sudah pegal karena berpura-pura tidur nyenyak. Ia bangkit dan memeluk Ayyara erat. “I'm not crazy, I'm not depressed, not am I stressed, Mama. I am healthy."
Ayyara mengerjap, “Maksud kamu apa?”
“Saya hanya berpura-pura, saya ingin menemukan penjahatnya, dan maaf, kecurigaan pertama justru jatuh pada mama. Tepatnya, penjahat itu ingin saya mencurigai mama.” Arkan masih memeluk Ayyara, Ayyara menggeleng tak percaya.
“Jadi siapa?”
“Kami belum tahu, tapi kami ingin mama membantu kami menemukan dia.” Arkan mengurai pelukannya.
“Akan mama bantu, Kan. Pasti. Tapi ... Bukankah akan lebih mudah jika menyewa detektif?”
“No, Mama. Saya ingin melakukan ini sendiri.”
“Haykal tahu ini?” Ayyara menyentuh pipi Arkan, seperti memastikan anaknya tidak sedang mengigau.
“Tidak boleh ada yang tahu, biarkan Haykal belajar menjadi pria dewasa dulu. Mungkin dia akan belajar banyak selama memegang jabatan saya.”
Ayyara membuang napas, “Haykal sudah dewasa, Kan.” Sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa Arkan jangan terlalu membiarkan Rania dekat dengan adiknya, akan ada masalah baru jika dibiarkan. Kedekatan yang intens, perhatian yang lebih, dan persaingan tersembunyi membuat semua dosa bisa saja terjadi. Seperti dirinya dengan Baskoro, dulu.