“Apa yang bisa mama lakukan untuk membantu kalian?”
“Mama jangan menjauhi paman Bas.” Arkan berkata tegas. Ia meminta Rania setuju dengannya.
“Mama sudah muak, tak ingin dekat dengannya lagi. Sekarang kau minta mama jangan menjauhi dia? Ini akan sulit.”
“Bukan berarti tidak mungkin, Mam. Kita ikuti permainan paman.” Arkan berdiri, meregangkan ototnya yang terasa kaku seperti kawat. Ayyara menghela napas lagi. Ia sangat lelah, jiwa raganya lelah. Ingin berhenti dan mencari ketenangan. Tapi semua yang dia mulai harus diakhirinya juga.
**
“Ini malam minggu, Mama sudah menyiapkan banyak makanan untuk kita semua. Kita panggil Bas juga, kau yang telepon, Kal!” Ayyara menghampiri Haykal, langsung menugaskannya memanggil Baskoro tanpa bertanya apakah Haykal sibuk atau tidak.
“Mama masak?”
Ayyara duduk di tangan kursi persis di samping anaknya, “No, koki yang masak. Mama cuma menata meja seperti biasa.”
“Saya sudah kirim pesan. Semoga paman mau.” Haykal meletakkan kembali ponselnya dan kembali menatap layar televisi. Ayyara yakin Haykal tak sedang menikmati acara televisi, ia sedang memikirkan hal lain. Penampilan Sule biasanya membuat anak keduanya itu terpingkal-pingkal, sedangkan saat ini ia hanya terdiam, meski matanya lurus ke layar.
“Haykal, my son. Is something bothering you?” Diusapnya rambut Haykal pelan. Dia baru menyadari betapa jarangnya ia melakukan itu.
Haykal mendongak, menatap mata perempuan yang melahirkannya, “Yes, saya memikirkan bagaimana caranya supaya perempuan menyukai saya,” ucapnya, tertawa agak keras seolah itu lelucon yang sangat lucu. Namun Ayyara tidak merasa begitu.
Ayyara ikut tertawa, diacaknya rambut Haykal, lalu meninggalkannya di tempat semula. Ayyara yakin Haykal tengah memikirkan Rania.
Rania membantu mertuanya menata meja, mereka selalu ada yang kurang meski telah berulang kali menatanya. Mereka ingin makan malam ini tampak spesial. Lilin putih besar telah berdiri gagah di kanan kiri meja. Piring-piring putih polos dialasi serbet abu muda, di kanan kirinya tersedia garpu, pisau kecil dan sendok. Gelas berkaki panjang dan gelas pendek juga tertata rapi di setiap tempat. Tak lupa Ayyara menambahkan rangkaian bunga hidup di tengah-tengah itu semua. Hingga meja makan tampak lebih segar.
“Menu utamanya apa, Mam?”
“Kofte. Of course.”
Rania mengulang pengucapan kata tersebut. Ia pernah mendengar nama makanan itu, tapi tak pernah menyantapnya. Ayyara tertawa, “nanti kau akan jatuh cinta padanya,” sahutnya, dipandanginya meja makan sekali lagi, takut ada yang kurang.
“Dan saya harus pakai baju apa?”
“Apa saja, santailah, kita cuma makan malam,” tapi Ayyara sendiri tidak terlihat santai. Ia mondar-mandir ke dapur, melihat apakah makanan sudah siap, kemudian ia menggerutu saat melihat beberapa hal yang tak sesuai keinginannya.
“Mari bersiap, berdoalah semoga semua berjalan lancar,” digenggamnya jari Rania, meyakinkan perempuan muda itu bahwa dirinya siap.
Haykal bersandar di pintu, ia berdecak kagum melihat tatanan meja makan yang tak biasa. “Acara apa, Ma?”
“Menyambut Rania, sejak dia datang kemari mama tak pernah benar-benar menyambutnya. Semoga ini bisa membuatnya memaafkan mama yang terlihat tak peduli. Sorry, Rania.”
Rania mengangguk, “tidak apa-apa. Sebenarnya mama tak perlu melakukan ini.”
“Mama bersiap dulu, kau juga, siapkan Arkan sekalian. Haykal, kau tunggu sebentar. Oh ya, bagaimana paman Bas?”
“Dia akan datang bersama bibi.”
“perfect."
Ayyara melangkah cepat meninggalkan Rania dan Haykal. Masih banyak yang harus ia siapkan. Terutama mentalnya.
“Saya mandi dulu, bau asem,” pamit Rania.
“Buat saya kamu gak mandi pun tetap terlihat cantik.” Haykal bergumam, tapi terdengar jelas di telinga Rania. Rania risi, ia ingat tebakan Arkan. Bahwa Haykal menyukai dirinya.
“Akan ada wanita yang tersanjung mendengar itu.”
“Kamu sendiri?” tatapan Haykal membuat Rania salah tingkah. Ia ingin berlari, meninggalkan percakapan yang dia rasa tak baik jika dilanjutkan ini.
“Saya juga, tapi ...”
“Ya?”
“Arkan sering mengucapkan itu. Jadi geer saya sudah habis saat bersama dia.” Rania menggigit bibir. Ia merasa pipinya memerah. Haykal pasti menyangka ia tengah malu karena mengungkapkan keromantisan suaminya, padahal Rania malu karena tengah berbohong.
“Arkan bisa romantis? Luar biasa kamu, Ran. Dia orang paling kering yang saya kenal.” Kekehan Haykal membuat Rania merasa kebohongannya terbongkar. “But, saya percaya, pria mana yang tidak akan berubah romantis kalau punya istri seperti kamu.” Ia mengangkat alis sebelah. Mendekati meja makan dan kembali berdecak kagum.
Rania meninggalkan Haykal tanpa berkata-kata lagi. Ia semakin sering merasa salah tingkah saat bersama adik suaminya itu. Entah ia geer dengan setiap pujiannya, atau risi karena Haykal terlalu blak-blakan.
“A, pakai baju apa?” Rania menjatuhkan dirinya di kasur, ia baru pertama kali ikut acara seperti ini. Papanya dulu pernah mengajak ke acara makan malam di rumah kenalannya, tapi Rania tak ikut. Ia tak suka acara formal seperti itu.
“Pakai lingerie saja. Kamu pasti terlihat luar biasa.” Arkan tertawa kecil melihat Rania yang mencebik ke arahnya.
“Serius ih! Lingerie mah maunya kamu.”
“Tuh, mama udah kirim baju. Gatau baju apaan. Pakai saja lah.” Arkan menunjuk goodie bag di nakas. Ia sendiri menyisir rambutnya dengan jari.
Sebuah gaun berwarna hitam. Sedikit berkilat jika digerakkan. Dipadukan dengan hijab berwarna abu muda yang lembut. Kotak berisi kalung berlian juga terselip di dalam goodie bag itu.
Rania menempelkan gaun di badannya, berputar-putar, melirik Arkan yang tak acuh di sampingnya.
“Mandi dulu, baru di coba,” ujar Arkan tanpa menoleh. Rania melempar gamisnya dan berlalu ke kamar mandi dengan kesal. Padahal tadi ia mengatakan bahwa Arkan sering memujinya cantik walau belum mandi, nyatanya pria ini boro-boro memujinya, Huh!
Masih bersungut-sungut, Rania mengguyur seluruh tubuh beserta bajunya. Ia ingin menghilangkan kekesalannya dulu, mendinginkan kepala, baru membuka semua pakaiannya.
Selesai mandi, perempuan berambut panjang itu baru sadar, ia tak membawa handuk, baju ganti pun malah ia campakkan di tempat tidur. Bagaimana ini? Minta tolong Arkan sama saja memberi ayam pada buaya lapar, kalau tidak minta tolong dia, siapa lagi?
Rania membuka pintu kamar mandi sedikit, ia lihat Arkan berbaring di atas tempat tidur, dengan stelan jas lengkap. Ditariknya napas sekuat tenaga, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.
Rania memutuskan memakai pakaian basahnya dan mengambil sendiri handuk dan baju ganti. Berjingkat ke arah balkon, tempat handuknya berada.
Setelah mendapat handuk, Rania mengendap-endap ke arah tempat tidur. Berharap Arkan tidur dan tak menyadari kondisinya.
“Katanya belum siap, sekarang malah menggodaku seperti ini!” Arkan bangkit, menatap Rania yang mundur perlahan.
“Saya tidak menggoda, hanya lupa membawa handuk dan baju. Jangan geer deh.” Rania membuang muka, ia tak ingin menatap Arkan, masih teringat wangi napas pria itu kemarin. Hampir membuatnya lupa diri.
Arkan melirik baju dari Ayyara yang teronggok di sampingnya. “ini?” ia mengangkat baju itu tinggi. “pakailah di sini.”
“A, saya bukan wanita seperti itu.”
“Seperti apa?”
“Huh!” Rania menarik gamis dari tangan Arkan dan membawanya lari ke kamar mandi. Ia mendengar Arkan membuang napas kasar. Meninju ruang kosong saat Rania berpaling ke arahnya. Sejenak ia merasa bersalah. Dalam hal ini Arkan sama sekali tidak salah, situasi ini seharusnya mendekatkan hubungan mereka.
Keluar dengan mengenakan gamis, namun rambutnya yang masih basah tak bisa ia tutup begitu saja. Ia akan mengeringkannya terlebih dahulu.
“Biar saya,” ujar Arkan, meraih hairdryer dari tangan istrinya. Berdiri tepat di belakang Rania dan menyentuh rambut ikalnya yang kini basah kuyup.
“Makasih,” bisik Rania. Menunduk menatap kakinya yang telanjang.
“No problem, ini tidak sulit.”
“Bukan ini.”
“Lalu?”
“Terima kasih karena tidak memaksa saya melakukan apa yang tidak bisa saya lakukan. Terima kasih karena kamu sebaik ini.” Rania memberanikan diri menatap Arkan dari cermin di hadapannya. Lelaki itu tak menjawab, ia terus memainkan hairdryer dan mengusap rambutnya lembut.
“A?”
“Terima kasih sudah membiarkan saya melihat rambut kamu. It’s beautiful.” Pria itu mengedipkan sebelah mata dan mematikan pengering rambutnya. Mundur sedikit, tapi matanya tak lepas memandangi Rania.
Di bawah tatapan Arkan, Rania mengambil tali rambut dan ciputnya. Ia yang biasanya percaya diri, kini merasa sangat malu dan ingin masuk ke kolong ranjang. Hatinya berdebar melihat tatapan Arkan yang lebih mirip singa menatap kambing gemuk. Lapar.
“Jika suatu hari saya berhasil mencintai kamu, kamu bersedia bertahan?”
“Semoga, karena sejatinya saya pun tak menyukai perceraian.”
“Apa kamu mau berusaha untuk mencintai saya?”
Rania terdiam mendengar pertanyaan Arkan. Andai boleh jujur, sudah ada kuntum cinta di hatinya. Meski kecil dan belum tentu akan mekar. Ia mengangguk lambat, sekecil apa pun kuntumnya, semoga Arkan dapat menyiraminya hingga menjadi bunga yang mekar indah.
Mereka beriringan keluar kamar, menuju ruang makan dengan bergandengan tangan seakan mereka adalah pengantin yang sedang dimabuk cinta.
Ternyata paman Baskoro dan istrinya sudah datang. Ia asyik bercakap-cakap dengan Ayyara dan Haykal.
“Kamu cantik sekali, Rania.” Sambut Aliya. Istri paman Baskoro tersebut mengenakan gamis berwarna baby peach yang manis. Rania heran mengapa wanita itu tidak terlihat risi datang ke tempat ini, ataukah Aliya tidak mengetahui affair suaminya?
“Hai, Sayang. Ke mana kalungmu?” Ayyara membimbing Rania agar duduk di dekatnya dan Arkan duduk di kursi Bimo yang tak pernah diisi siapa pun.
“Ah, itu ...” Rania hendak berbalik ke kamar saat Arkan tiba-tiba menyentuh pundaknya lembut.
“Diamlah,” ujarnya. Ia mengeluarkan kalung berlian tadi dari sakunya. Memasangkannya kepada Rania. Hijab Rania yang dilipat rapi leher membuat kalung berjuntai indah. Arkan kemudian mengecup dahi istrinya itu.
“Jangan sampai polisi melihat ini, kau pasti akan langsung di gelandang ke penjara.” Baskoro menatap Arkan tak suka.
“Ayolah, Bas. Saya mengundang kalian makan di sini demi merayakan pernikahan Arkan, kedatangan Rania ternyata membuat Arkan terlihat jauh lebih sehat, dan tentu saja, sehatnya Arkan membawa kebaikan bagi kita semua. Jadi rasanya belum saatnya polisi melihat ini. Untuk saat ini.” Ayyara menatap Baskoro tajam seolah menekankan sesuatu. Mereka berpandangan penuh arti, sementara Aliya membuang muka, menyembunyikan sesuatu yang perih di dadanya.