The Crazy Husband!

1806 Kata
Akad nikah berlangsung khidmat. Arkan mengucap ijab kabul dengan lancar. Rania merasakan air matanya turun begitu saja saat teringat almarhum Papa. Harusnya dia yang menjadi wali pernikahannya, bukan wali hakim seperti ini. Rania yang lupa membawa tisu mengusap butiran bening itu dengan punggung tangan. Arkan melirik, merogoh saku jasnya. Memberikan sapu tangan merah pada Rania tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya. “Berfoto dulu, ya.” Seorang juru kamera menunjuk ke arah pelaminan sederhana, hanya di hiasi bunga-bunga putih dan sebuah kursi panjang, juga berwarna putih. “Saya rasa tidak per ...” Rania belum sempat menyelesaikan ucapannya saat tiba-tiba Arkan menarik tangannya dan melangkah ke pelaminan. Ayyara sempat berteriak kecil melihat perlakuan anaknya. Juru kamera mengarahkan gaya, dia meminta Rania menyentuh d**a suaminya seakan hendak memeluk, juga menyandarkan kepalanya di sana. Rania bingung, dia belum pernah menyentuh laki-laki hingga sedekat itu. Meski Arkan telah menjadi suaminya, ia tak yakin ingin menyentuh pria itu. Arkan tiba-tiba mengangkat tubuh ramping Rania ke pundaknya, membuat Rania menjerit ketakutan. Orang-orang yang hadir ternganga melihat tingkah Arkan. “Ayo foto!” Ujar Arkan ke arah juru kamera. Ia bergaya seakan hendak berlari kencang. Rania yang masih syok memukul-mukul punggung Arkan dan berteriak minta di turunkan. Kain yang membalut erat kakinya membuat Rania sulit bergerak, selopnya bahkan telah terjatuh. Fotografer sigap memotret dari berbagai sudut. Arkan menurunkan istrinya di atas sandaran kursi, kemudian ia berjongkok dan secepat kilat mengambil selop, memasangkannya ke kaki Rania yang masih belum bisa duduk dengan benar. “Turunkan, kau gila!” Bisik Rania tertahan, tubuhnya setengah membungkuk agar Arkan mendengar. Arkan menurut, ia memangku Rania dan berbalik ke arah kamera lagi. Berkedip kepada sang fotografer yang senang karena mendapat objek bagus. Perlahan Arkan mendudukkan istrinya di kursi pelaminan, dalam posisi yang benar. Tidak di atas sandaran seperti sebelumnya. Rania menarik napas lega. “Saya sudah terlanjur gila, bertingkah normal justru membuat semuanya kacau,” bisik Arkan. “Tapi jangan membuatku jantungan, Beruang kutub!” Rania sibuk memperbaiki kerudungnya yang agak berantakan. Seorang juru hias menghampiri, “biar saya rapikan,” ujarnya. Selanjutnya mereka berfoto bersama keluarga. Arkan lebih banyak diam kali ini. Ia berdiri tegak nyaris tanpa ekspresi, bahkan saat Ayyara meminta berfoto berdua saja dengannya, ia tetap diam. Haykal mendekat, mengulurkan tangan pada Rania. “Tak ingin tahu di mana keberadaan saudara saya, ternyata sekarang kau menjadi pengantinnya. Keren, Rania.” Rania salah tingkah, bagaimana harus ia menjelaskan bahwa saat itu dirinya memang tak peduli. “Maaf, Mister.” Hanya itu yang bisa dia ucapkan. “It’s oke. Sekarang kau kakakku. Right? Panggil saya Haykal. Just Haykal. Mari berfoto keluarga.” Haykal berdiri tepat di samping Rania. “Ingat saya pernah bilang ingin seperti Arkan? Sekarang juga saya merasa hal yang sama,” bisik Haykal. Membuat Rania menggeser tubuhnya ke arah Arkan. Arkan serta merta meraih pinggang istrinya seakan tahu perasaan Rania. Di foto itu cuma Haykal yang tersenyum lebar. Baskoro menghampiri Rania, tak mengucapkan sepatah kata pun, ia hanya menyalaminya dan tersenyum tipis. Memeluk Arkan dan menepuk bahu lelaki itu pelan. Mereka berfoto dengan Baskoro di dekat Arkan, sementara istrinya di samping Rania. Istri Baskoro menggunakan gamis berwarna gold dengan variasi brokat dan kerudung senada. Giliran Ardi mendekat. Ia berdiri di tengah-tengah pengantin dan merangkul pundak Arkan. “Perjuangan kalian dimulai dari sini. Saya memantau dari belakang. Beri tahu semua yang kalian temukan.” Ujarnya pelan. Wajahnya lurus menghadap kamera. “Paman tidak tinggal bersama kami saja?” Rania merasa cemas. “Tidak. Banyak yang harus saya urus di Surabaya. Jangan khawatir, akan saya utus seseorang untuk selalu bisa membantu kalian.” ** Mereka tiba di rumah Arkan. Ayyara tampak antusias sekali. Ia bahkan membuka pintu mobil yang membawa anaknya. Menggandeng tangan Arkan tanpa memedulikan Rania yang masih di dalam mobil. Rania mengikuti langkah mereka dari belakang, membiarkan seorang pelayan membawa kopernya. “Selamat datang di rumah kami,” kata Haykal. Ia membuka pintu lebih lebar untuk Rania. Rania mengangguk, ia tetap mengikuti langkah Arkan dan Ayyara, berusaha tidak terlihat betapa dia kagum dengan interior rumah ini. Ia tak ingin Haykal menyangka ia menikahi Arkan demi harta. “Mama,” panggil Haykal setengah berteriak karena panggilannya yang pertama tak di dengar Ayyara. Ayyara menoleh, mengangkat sebelah alisnya. “Mama lupa Arkan punya istri?” “Oh no, tentu tidak. Come Rania, saya antar ke kamar Arkan, ke kamar kalian tentu saja.” Ayyara tergagap, ia meraih tangan Rania cepat. Rania sempat melirik Haykal yang mematung di bawah tangga, menatapnya yang terus mengikuti langkah Ayyara. Kemudian melangkah ke arah sebaliknya dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku. “So, Rania. Ini kamar Arkan, masuklah. Bilang kalau ada yang kamu perlukan.” Ayyara menyentuh kedua pipi Arkan, “my baby, akhirnya kamu pulang. I miss you so much.” Ayyara terisak. Bahunya terguncang keras. Rania beringsut menjauh, membiarkan Ayyara melepas rindunya. “Kamu kurus sekali,” ujarnya saat memeluk Arkan yang masih saja mematung. “Papa kamu masih koma, kamu belum juga sembuh, ya Tuhan ...” Rania duduk di tepi tempat tidur berukuran King. Seprei abu muda dan bed cover berwarna abu-abu tua membuatnya tampak laki sekali. Andai boleh, Rania ingin menggantinya dengan yang berwarna biru cerah. Nakas putih tanpa ada hiasan lampu atau apa pun. Lemari baju yang cukup besar membuat Rania penasaran, baju seperti apa saja isinya. Kalau perempuan sih wajar. Laki? Dinding berwarna putih polos, hanya terdapat sebuah foto Arkan dalam ukuran cukup besar. Lelaki itu tengah duduk di atas moge berwarna hitam pekat. Dengan jaket kulit hitam, celana hitam dan kacamata hitam. Senyum miringnya membuat tampilan foto terlihat lebih sempurna. Rania memilih untuk pergi ke balkon. Persis di bawahnya tampak taman bunga dengan beberapa kursi minimalis. Seorang lelaki tampak sibuk memotong rumput di sana. “Nanti kamu tidur di mana?” Arkan mendekati istrinya dengan membawa segelas air putih. Rania mengangkat alis, dia bingung dengan pertanyaan itu. “Di tempat tidur, salah siapa di situ ga ada sofa kayak di kamar-kamar orang kaya lain.” “Ok. Nanti saya peluk.” Arkan meneguk isi gelasnya santai. Membiarkan Rania bersungut-sungut meninggalkan dirinya. Rania melihat sekeliling kamarnya, benar-benar merutuki selera Arkan yang menurutnya aneh. Kamar sebesar ini tak ada sofa, malah ada kursi dan meja kerja yang sangat rapi. Bukankah biasanya mereka mempunyai ruang kerja sendiri? Bukan di kamar seperti ini. Rania membuka lemari, ternganga melihat deretan jas di sana. Nyaris semua warna ada, bahkan satu warna bisa terdiri dari beberapa jas dengan model yang berbeda. Model yang sebenarnya sedikit sekali perbedaannya. Dasi-dasi tertata rapi, kemeja-kemeja juga terlipat simetris, membuat Rania membayangkan kerepotan mengurusnya. Rania membuka lemari yang masih tertutup, tersenyum senang saat menemukan apa yang dicarinya. Sebuah permadani putih berbulu tebal ditariknya keluar. Suara ketukan pintu membuat Rania menghentikan aksinya. Seorang pelayan mengantar kopernya dan meminta mereka turun untuk makan malam. Seluruh keluarga sudah menunggu, katanya. Mereka turun bersamaan, sementara Ayyara dan Haykal telah menunggu di meja makan. “Papa mana?” Tanya Arkan, berpura-pura tak ingat bahwa papanya koma. “Nanti datang, makanlah dulu.” Ayyara menunjuk kursi di sebelahnya. Kemudian mengisi piring Arkan dengan nasi dan lauk. Rania membiarkan Ayyara melakukannya, toh dia sendiri enggan melayani Arkan. Rania belum sempat mengambil piring saat Haykal menyodorkan piring berisi nasi dan lauk yang memang Rania suka. Rania tercengang, Haykal seperti tahu bahwa ia tak suka makan ikan hingga tak menambahkan ikan di piringnya. “Terima kasih, tapi tidak harus seperti ini, Mister,” ujar Rania risi. Ia melirik Ayyara yang tampak tak peduli, tapi hati Rania menciut saat melihat tatapan tajam Arkan. Secepat kilat Arkan merebut piring ditangan Haykal, membuat Haykal terkejut dan mengumpat panjang lebar. Ayyara tertawa melihat itu, ia malah bahagia, merasa melihat kembali kehebohan anak-anak saat memperebutkan sesuatu waktu mereka kecil dulu. "Papanya Arkan koma, dia di rawat di rumah agar saya bisa ikut mengurusnya. Dia di ruangan yang persis berada di samping kamar saya." Ayyara menjelaskan pada menantunya. "Jangan khawatir, kau hanya perlu bersama Arkan saja, tidak perlu mengurus Papa. Semoga Arkan lekas sehat kembali jika terus bersama kekasihnya," lanjut Ayyara. "Bolehkah sesekali saya dan Arkan menjenguk papa?” "Boleh, dua puluh empat jam kamar papa terbuka untuk kalian. Ada perawat yang senantiasa berjaga di sana. Dokter datang setiap hari Senin atau setiap kami panggil." "Apa penyebab papa koma?" Rania berusaha terlihat peduli. Namun ternyata itu membuat raut wajah Ayyara berubah. Menghentikan suapannya, mengangkat sebelah tangan kemudian berlalu meninggalkan meja makan. Arkan menelan nasi yang tiba-tiba terasa seperti kerikil. Ia teringat saat dirinya pulang, mendapati papanya tersungkur di depan pintu kamarnya sendiri, sementara Ayyara dan Baskoro berada di kamar dalam keadaan yang memalukan. Harga diri papanya pastilah sangat terluka saat itu. Rania bingung dengan perubahan sikap mertuanya. Sementara Arkan dan Haykal tetap menyantap makanan mereka seolah tak ada yang terjadi. Sebuah pesan masuk lewat aplikasi WA Rania. Dari Tuan Ardi, [Nomor yang mengancam mama kamu terdaftar atas nama Ayyara] Rania menatap layar ponselnya lama. Mencerna kalimat yang terpampang dengan cermat. “Saya sudah kenyang,” Rania tak menunggu jawaban. Ia melangkah meninggalkan Arkan dan Haykal yang masih terlihat tak peduli. “Nambah?” tanya Haykal saat melihat Arkan menatap kepergian istrinya. Arkan meletakkan sendoknya sebagai tanda penolakan atas tawaran Haykal. ** Rania menggelar karpet bulu yang tadi ditemukannya. Meringkuk di sana setelah melaksanakan shalat isya dengan mukena masih terpasang di kepala. Rania tak yakin Arkan akan memberikan selimut satu-satunya karena ruangan ini sangatlah dingin. Arkan menggeleng kepala melihat apa yang dilakukan Rania. Gadis itu benar-benar tak tertarik padanya meski tahu dirinya tidak gila. Sama sekali tak menggodanya meski status mereka telah sah sebagai suami istri, sementara banyak sekali perempuan yang menyerahkan diri padanya dengan sukarela, jika saja Arkan menginginkannya. Arkan mengangkat tubuh Rania dengan hati-hati agar tak membangunkannya. Memindahkannya ke kasur dan menyelimutinya. Arkan mencoba membuka mukena Rania agar perempuan itu tidur dengan nyaman. Namun itu justru membuat Rania membuka matanya. “Hei, ngapain?” Arkan yang terkejut justru malah menarik mukena Rania hingga terlepas. Rambut panjang Rania tergerai begitu saja. Beberapa anak rambut menutupi wajahnya. “Jangan macam-macam. Saya menikahi kamu bukan untuk ini,” dengus Rania, direbutnya mukena putih yang masih dalam genggaman Arkan. “Ingat, jangan pernah menyentuh saya!” Rania menunjuk dengan gaya mengancam ke arah Arkan yang masih memandanginya. “Oke, kita buat perjanjian,” ujar Arkan akhirnya. Rania menyipit. “Saya tidak akan menyentuh kamu sebelum ...” “Selamanya!” tegas Rania. “Kita suami istri,” “Di atas kepentingan.” “Tapi sah di mata hukum dan agama.” “tapi ...” “Jangan geer begitu, Nona. Kamu tidak semenarik itu.” Arkan melempar mukena Rania tepat di wajah perempuan itu. “Arkan,” panggil Rania. “Apa, sayang?” Arkan berbaring di sisi satunya, ukuran tempat tidur yang besar sangat menguntungkan disaat seperti ini. Rania mendelik kesal. “Lihat ini,” ketusnya sambil memperlihatkan pesan dari tuan Ardi. Arkan membacanya pelan. Terpejam sambil menggumamkan nama mamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN