Lamaran Ekspress

1803 Kata
Memasuki Rumah Sakit tempat mama Rania di rawat, Tuan Ardi dan Arkan memaksa untuk ikut masuk meski Rania terlihat tidak suka. “Mama, gimana sekarang?” Rania setengah berlari menghampiri wanita yang masih terlihat cantik itu. “Rania, siapa mereka?” Andini menatap Tuan Ardi, tangan kiri mengusap kepala Rania yang tengah mencium tangan kanannya. Rania melirik tuan Ardi dan Arkan, ia enggan menjelaskan. Berharap salah satu dari mereka berinisiatif untuk berbicara. Tuan Ardi tampak tak nyaman karena ada dua pasien lain di ruangan itu. Mereka memang berada di ruang kelas tiga. Dua bed tampak tak berpenghuni. “Saya berniat melamar Rania untuk keponakan saya,” ujar Tuan Ardi, ia menunjuk Arkan yang berdiri tegak mengawasi sekitarnya. Suaranya tak terlalu keras tapi sukses membuat Andini terkejut, ia tak percaya anaknya dilamar oleh orang yang sama sekali tak mereka kenal. Ia melirik Rania yang masih terdiam di sampingnya. “Jika Rania bersedia, saya setuju.” Andini memutuskan dengan cepat. Hatinya merasa bahwa mereka orang yang baik. “Ma, Rania belum memutuskan,” bisik Rania. Ia masih sangat ragu mengingat awal mula melihat Arkan. “Kita pindah dulu ke ruang VIP sekarang. Banyak yang harus kita bicarakan.” Tuan Ardi melihat sekitar. “Tapi ...” Ardi melangkah keluar, memberi instruksi pada seorang anak buahnya untuk mengurus kepindahan Andini. Rania dan Arkan mengikuti langkah perawat yang mendorong tempat tidur Andini. “O my baby bear, kamu gak bisa nolak pernikahan karena saya cantik, kan?” bisik Rania setelah sekian lama diam. Ia masih tak habis pikir dengan isi kepala manusia setengah bule ini. Arkan memutar bola mata. Jengah dengan ucapan Rania, apalagi dipanggil seperti itu dengan gaya meledek. Ia menyugar rambut gondrongnya dan mempercepat langkah agar tak mendengar ucapan perempuan itu lagi. Rania berlari mengejar Arkan, ia agak kewalahan karena langkah Arkan panjang-panjang dan cepat. Ditambah ia membawa tas berisi baju ganti mamanya. Jika adiknya di sini, tentu ia takkan serepot ini. Mereka memasuki ruang VIP. Hawa sejuk langsung menyapa saat mereka melewati pintu. Arkan duduk di sofa berwarna coklat muda, diikuti Tuan Ardi. Sementara Rania mendekati mamanya dan berbicara dengan perawat yang mengantar. Mengucapkan terima kasih saat perawat itu berlalu. “Begini, Nyonya ... hmm ...” Tuan Ardi menatap Andini yang bersandar di tempat tidurnya. “Andini,” ujar Rania. “Nyonya Andini, apakah anda tahu penyebab meninggalnya suami anda?” Andini tampak terkejut mendengar pertanyaan tuan Ardi. Bibirnya gemetar dan matanya berkedip cepat. “Tolong jujur saja. Biar Rania tahu,” desak tuan Ardi. “Tuan tolong, mama saya masih sakit. Bagaimana kalau darahnya naik lagi dan dia stroke beneran?” Rania kesal melihat tuan Ardi yang tak mentolerir keadaan mamanya. “Ga papa, Ran. Memang sudah seharusnya kamu tahu.” Andini menghentikan ucapannya sejenak. Dihirupnya udara banyak-banyak, “papamu meninggal karena overdosis.” “Bukan serangan jantung?” Rania menyela cepat. Rania yang kuliah di Jakarta memang tak sempat melihat jasad papanya. Saat ia tiba, jenazah Subroto sudah dimakamkan. Informasinya, papanya terkena serangan jantung saat ia berada di kantor dan langsung meninggal. Andini menggeleng. “Seseorang mengirimi saya pesan, mengancam untuk tidak melakukan otopsi. Jika saya melakukannya, dia bilang kamu yang akan jadi korban,” lirih Andini menceritakan kejadian sebenarnya. Rania memeluk sang Mama yang terisak-isak. Pantas saja mama berubah menjadi sangat pendiam. Rupanya ada yang dia sembunyikan. “Mama kenal itu nomor siapa?” “Tidak. Bahkan saat mama meneleponnya, nomor itu sudah tidak aktif.” Andini mengusap air matanya. Bayangan wajah sang suami berkelebatan di kepalanya. “Nyonya masih menyimpan pesannya?” Tuan Ardi angkat suara. Ia tampak antusias saat Andini mengangguk dan mengambil ponselnya. Menunjukkan sebuah nomor pada Tuan Ardi. Ardi segera menulis nomor tersebut di ponselnya. “Jadi ini maksudnya apa? Papa saya overdosis apa?” Rania mengernyitkan dahi. “Kau tak mengerti? Papamu dibunuh, Nona! Dan pembunuhnya masih berkeliaran di rumah saya!” Arkan berkata sinis seakan Rania adalah perempuan terbodoh di dunia. “Kamu! Pembunuhnya pasti kamu, kan? Makanya kamu pura-pura gila biar gak dipenjara! Terus sekarang, kamu mau menikahi saya biar saya gak nuntut, kan?” Rania menatap nyalang ke arah Arkan. Dadanya bergemuruh hebat. Benci ia melihat wajah rupawan yang baru dia selamatkan. “Jangan sembarangan bicara, atau kuremukkan gigimu!” Arkan menggeram mendengar tuduhan yang sama ditujukan padanya. “Bagaimana kamu tahu kalau penjahatnya berkeliaran di rumah kamu hah?” Rania tak surut. Ia sakit hati karena tak ada di samping papanya saat meninggal, kali ini sakitnya bertambah saat tahu akhir hidup papanya tak semudah itu. Arkan mendengus, menahan amarah yang hampir ikut meledak. Tuan Ardi berdehem, “Rania! Jika Arkan pelakunya, buat apa saya memberitahu kamu? Bukankah lebih baik kamu tetap tidak tahu?” “Begini, apakah papa kamu tak pernah sekali pun membahas soal kegiatannya di kantor, atau hubungan dengan atasannya, atau ... Whatever lah, sesuatu yang mungkin bisa menjadi sebuah petunjuk?” Rania beranjak mengambil segelas air dari galon. Meneguknya hingga tandas. Ia memejamkan mata, berusaha tenang agar semua bisa terungkap. Sulit. Dadanya masih saja bergolak. Air mata meluncur deras membasahi pipi mulusnya. “Saya pernah mendapat email dari papa, persis enam jam sebelum papa meninggal,” Rania menarik napas berat. “Tapi memang belum saya buka. Mari kita lihat, siapa tahu ini penting.” Ia mengeluarkan ponselnya dan membuka kotak Email. [Baby bear dalam bahaya, Buaya siap menerkam mangsa] Rania membaca pesan itu berulang-ulang. “Beberapa orang, saya, Mas Bimo, dan Mas Subroto memanggil Arkan dengan sebutan baby bear karena ia besar sekali saat lahir. Padahal bayi beruang kecil ya. Itu artinya, Arkan dalam bahaya. Tapi buaya itu siapa? Mas Subroto pasti tahu sesuatu hingga hidupnya berakhir seperti ini.” Rania mengusap air matanya. Sekilas ia melihat Arkan menatapnya, "Pagi itu Pak Subroto menelepon saya, dia bilang jangan pake mobil yang biasa saya bawa. Pake yang lain saja, motor lebih baik," kata Arkan kemudian. "Waktu itu papa di mana?" “Di kantor. Saya di rumah. Kebetulan saya berniat pergi siang, jadi begitu Pak Subroto menelepon, saya langsung mengecek mobil. Montir yang mengecek bilang bahwa kabel rem telah terpotong. Saya cek CCTV, tak ada yang mendekati mobil saya sejak kemarin malam. So, ini masih belum terpecahkan." Arkan terdiam. Ia masih mengingat kejadian itu. Saat ia menelepon balik Pak Subroto tapi tak juga diangkat. Arkan merasa ada yang tak beres, melajukan motor besarnya dengan kecepatan penuh. Tiba di kantor, mendapati Pak Subroto telah tertelungkup di mejanya. Arkan yang panik mengambil gelas di tangan Pak Subroto, menciumnya sejenak dan langsung tahu bahwa itu kloroform dalam dosis besar. Arkan berjongkok, mencoba mengangkat tubuh pria itu ke punggungnya, ia akan membawanya ke Rumah Sakit karena ternyata nadinya masih berdenyut, meski sangat lemah. Arkan belum sempat memindahkan tubuh pria itu saat tiba-tiba pintu terbuka, Amira, sekretarisnya datang dan seketika berteriak kaget. Karyawan lain datang bergerombol, menatap CEO mereka dengan pandangan lain dari biasanya. Dokter datang, namun Pak Subroto sudah tiada. "Semua rekaman CCTV kantor hilang sejak jam sembilan hingga jam sepuluh. Aktif lagi saat saya datang dan langsung masuk ke ruangan pak Subroto." "Yang di ruang Pak Subroto juga, hanya menunjukkan gambar sejak saya mengecek nadinya lalu berjongkok di bawah dan selanjutnya. Kedatangan saya dan saat saya memeriksa gelas, tidak ada." Rania menggigit bibir. Ia paham kenapa Arkan menjadi tersangka. “Come on, Rania. Jika kamu menyayangi papamu, menikahlah dengan Arkan, kalian harus mengungkap pelakunya. Siapa pun dia, buaya akan lebih mudah ditangkap jika kita masuk ke sarangnya.” Tuan Ardi menyandarkan punggungnya. Dia pasti lelah, tak terlihat istirahat dari kemarin. “Dan jangan sekali pun berpikir, saya menikahi kamu karena kamu cantik,” desis Arkan seraya menghampiri kulkas kecil dipojok ruangan. *** Tuan Ardi menyiapkan semua kebutuhan untuk pernikahan Arkan dan Rania dengan cepat begitu Rania menyetujui rencananya. Tentu tak akan ada pesta, hanya akad nikah di sebuah hotel kecil dan di hadiri oleh beberapa orang. Status Arkan yang belum jelas membuat semua harus tersembunyi dari publik. Jika keluarga lain tahu Arkan tidak gila, si penjahat akan segera melaporkannya pada polisi, sedang jika publik mendengar Arkan terganggu jiwanya, maka akan berdampak pada perusahaan yang dibangun susah payah oleh Bimo dan Baskoro. “Pernikahan?” Suara Haykal di seberang telepon terdengar heran. “Siapa yang menikah, Paman?” lanjutnya. “Kau tahu kan kalau kemarin saya menjemput Arkan? Nah, besok dia akan menikah.” “Jangan bercanda, Arkan Is crazy, siapa yang mau nikah sama dia?” Haykal tertawa sumbang. “Datanglah jika tak percaya. Ajak keluarga lain juga, nanti saya kirim lokasinya. Ajak mamamu juga, jika dia masih menyayangi putranya. Harusnya saya menelepon dia untuk mengabari ini, but saya tak ingin berurusan dengannya. Kamu saja yang ajak. Oh iya, Mas Bas juga, ajak dia.” Tuan Ardi menutup panggilannya sebelum Haykal menjawab lagi. ** Hari pernikahan tiba, Rania memutar tubuhnya di hadapan sebuah cermin besar. Kebaya putih penuh manik-manik, kain batik dan selop bermotif batik senada, kerudung putih dan mahkota kecil menghiasi kepalanya. Ia merasa pangling melihat dirinya sendiri, padahal riasannya tak terlalu medok. “Udah, cantik ko.” Andini tersenyum melihat putrinya yang terus memandang cermin. “Mama.” Rania berbalik menatap wanita yang melahirkannya tersebut. “Ran takut, pernikahan ini tak normal. Niat kita menikah juga mungkin salah.” “Rania, pernikahan ini tak salah, kamu harus meyakinkan diri bahwa kamu siap menerima Arkan sebagai suami,” ucap Andini. Di usapnya punggung Rania. Nelangsa hatinya melihat sang putri menikah dengan cara yang tak biasa begini, berkorban demi keadilan buat papanya. Apalagi ia mengakui, selama ini tak pernah memiliki banyak waktu dengannya. Rania menunduk, sulit menerima apa yang mamanya ucapkan barusan. Seorang perempuan dengan dress panjang berwarna krem menghampiri Rania. Ia menatap Rania dari ujung kaki hingga kepala hingga membuat Rania risi. “Saya Ayyara, mama Arkan,” ujarnya pelan. “Oh, hai, eh ... saya Rania,” balas Rania dengan mengulurkan tangan. “Thanks kamu mau menikahi anak saya. Padahal dia tidak sehat, you nanti akan repot mengurus dia.” Ayyara berusaha berbasa-basi dengan calon menantunya. Rania tersenyum, “aku mencintai dia, Nyonya.” “Mari kita ke tempat akad, Arkan sudah menunggu,” lanjut Ayyara lagi. Ia menggandeng tangan kanan Rania. Wangi tubuh Ayyara membuat Rania merasa tak percaya diri. Ia yang masih muda bahkan tak tahu wangi parfum apa yang pantas untuknya. Sepertinya ia akan belajar dari mertuanya, nanti. Beberapa orang telah bersila mengelilingi Arkan yang duduk di hadapan seorang laki-laki berkopiah hitam. Rania langsung terfokus pada calon suaminya yang mengenakan jas hitam dan kopiah hitam. Rambut gondrongnya telah terpangkas rapi. Cemal Faruk! Batin Rania berteriak menyebut nama tokoh idolanya. Arkan menoleh, mata coklatnya menatap Rania beberapa detik, kemudian kembali menatap ke hadapannya nyaris tanpa ekspresi. “Rania?” Haykal menggumam pelan, tapi cukup keras untuk di dengar Baskoro yang duduk di sampingnya. “Kenal?” “Office girl di kantor kita, baru masuk bulan kemarin.” Haykal menatap Rania yang terlihat sangat bersinar. Tangannya terkepal hingga urat-uratnya bermunculan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN