Sudah seminggu Jansen pergi ke Singapore, dan jadwalnya pulang pagi ini. Saat matahari belum terbit dia sudah menelepon dan mengungkapkan keinginannya untuk bertemu sore nanti yang tentunya gue iyakan.
Bos ternyata tidak memecat gue setelah kejadian itu. Tapi sifat cueknya semakin parah saja. Gue seperti tidak ada di matanya, tidak dianggap. Yang sudah dijodohin memang beda ya.
Kalau tidak ada urusan yang benar-benar mendesak, bos tidak akan nemanggil gue. Tidak seperti kemarin yang dikit-dikit revisi, dikit-dikit revisi, seperti dosen pembimbing skripsi, gue sekarang jadi lebih tenang meski terkadang merasa sedikit aneh dengan sikapnya yang berubah drastis.
Untungnya bulan ini jadwal kami tidak begitu padat, dan tidak ada jadwal ke luar negeri. Kalau ke luar kota masih ada beberapa, tapi hanya perjalanan singkat dua atau tiga hari, dan untungnya gue mendapatkan kamar gue sendiri.
Suara telepon kantor berbunyi. "Ke ruangan saya," titahnya singkat. Gue sudah hapal kalau itu suara bos. Sebelum gue membalas kalimat singkatnya, sambungan telepon itu sudah dimatikan.
Gue cuma mengela napas dan bersiap untuk masuk ke dalam ruangan bos. "Permisi Bos, ada yang bisa saya bantu?"
"Nanti jam makan siang kita ketemu sama owner Adiwangsa Group. Masukin ke agenda." Gue pun mengiyakan perkatan bos, nanti akan gue catat. Gue masih diam, menunggu perintah selanjutnya.
"Apa lagi yang kamu tunggu?" cerca bos.
Gue mengerutkan alis gue bingung. Tidak mengerti dengan maksud perkataannya.
"Cepet pergi," titahnya ketus. Mendapat usiran seperti itu, gue memilih untuk segera angkat kaki dari sana. Setan mana lagi yang nempelin dia sekarang?
Bos udah kayak orang PMS seminggu ini, bahkan lebih parah malah, jadi gue harus sabar menghadapinya. Gue sebisa mungkin mencoba menyunggingkan senyum. Pacar sudah ada, kemungkinan untuk nikah semakin besar, jadi gue harus sabar-sabarin.
Sampai siang menjalang bos tidak ngomong apa-apa lagi dan tumben-tumbennya kali ini dia minta diantar oleh supir kantor untuk pergi ke sebuah meeting, hal itu membuat gue duduk di belakang bersamanya dengan keadaan yang luar biasa canggung. Bagi gue hal ini terasa seperti duduk di sebelah macan yang bisa mengamuk kapan saja.
Saat sampai di restoran, hati gue berdenyut nyeri saat melihat perempuan di samping owner Adiwangsa Group adalah perempuan yang dijodohkan dengan bos.
Setelah makan siang bersama, pertemuan itu dimulai. Pertemuan itu berjalan lancar dengan suasana tidak terlalu formal, ternyata Bos Idzra adalah teman bos gue saat ia kuliah dulu, mereka juga seumuran. Selama pertemuan itu gue hanya terfokus kepada catatan, mengabaikan ketiga orang di depan gue yang terlibat ke dalam percakapan. Gue takut kalau gue buka suara bos akan menjadikan hal itu sebagai bahan untuk menyalahkan gue.
"Kalian bukannya saudara?" tanya Idzra kepada bos dan perempuan itu setelah pembicaraan bisnis terselesaikan. Bos lalu menganggukan kepalanya.
Dia mau dijodohin sama saudaranya sendiri?! Gilaaaa!
"Tadinya juga mau dijodohin," sahut Jehan dengan cengirannya yang membuat bos berdecak.
Tadinya?! Maksudnya?
"Udah nggak usah di dengerin omongan dia Zra, lo tau dia agak-agak," ucap bos sambil menatap Jehan dengan risih. Sementara Jehan hanya mencebikkan bibirnya.
"Gue duluan ya Zra," pamit bos.
Keformalan saya anda yang tadi mereka gunakan hilang seketika. Seorang Laynata Yisakha memang sangat professional, bisa menempatkan urusan bisnis sama pertemanan dalam koridor yang berbeda. Tapi entah mengapa keprofesionalan yang dulu ia gadang akan dilakukan kepada gue seolah menguap.
"Ayo," ajak bos yang gue iyakan.
Gue berdiri seraya menundukkan kepala untuk pamit, dan sebuah gandengan tangan di tangan membuat gue cukup terkejut. Masalahnya si bos bukan hanya mengegandeng seperti biasa. Jemarinya ditautkan di antara jemari gue yang membuat tangan gue terasa penuh dan juga ... nyaman. Dengan kikuk gue hanya mengikuti langkah bos yang beranjak pergi.
"Lay?" panggil Jehan yang membuat langkah kami terhenti.
"Apa lagi?" tanya bos dengan decakan.
"Dia kan?" tanya Jehan.
Gue nggak tau siapa yang dimaksud ‘dia’ oleh Jehan siapa, karena Jehan hanya mengarahkan wajahnya ke bos.
Bos tidak menjawab pertanyaan Jehan, ia malah menarik dan membawa gue menjauh dari sana. Gue pun sedikit menundukan kepala untuk meminta maaf karena kelakuan bos gue yang kurang sopan ini.