BAB 15

2314 Kata
Jansen menelepon gue, katanya dia sudah sampai bandara, dan dia ingin bertemu gue secepatnya, karena rindu. Mengangkat telepon di samping bos bawaannya merinding. Sepertinya dia benar-benar menyimak setiap bait kata yang gue keluarkan, dia menghentikan segala kegiatannya saat gue menerima telepon. Gue sebetulnya tidak mau mengangkat panggilan Jansen, tapi bos menyuruh gue untuk mengangkat teleponnya karena suara panggilan itu berisik dan mengganggunya. Di saat gue mendesah lega karena jam pulang kantor hampir tiba, bos merusak segalanya dengan menambah kerjaan gue, dan menyuruh gue lembur. KENAPA NGGAK DARI TADI SIANG AJA SIH NGASIHNYA?! Setelah pulang makan siang tadi gue cukup leha-leha karena pekerjaan yang tidak banyak. Tapi kalau ujung-ujungnya jadi lembur gini kan bete. Bos memang paling bisa menyiksa lahir batin gue. Gue pun memintaa maaf ke Jansen karena kemungkinan hari ini tidak bisa bertemu. Tapi Jansen bersikeras mau menunggu sampai malam. Saat jam delapan malam pekerjaan gue baru selesai, gue pun buru-buru memberikan semua file yang sudah selesai ke ruangan bos. Dan saat gue sampai parkiran, gue melihat mobil Jansen sudah ada. Kemungkinan ia menunggu sejak sore. Saat gue datang Jansen langsung keluar dari mobilnya dengan senyum sumringah dan memeluk gue. "Aku kangen," ucap Jansen yang gue balas dengan senyuman. Tapi tiba-tiba pelukan kami terlepas karena badan gue ditarik oleh seseorang, dan pelakunya adalah bos gue. Bos tiba-tiba memukul wajah Jansen yang membuat gue berteriak histeris. "Bos! Apa-apaan sih?!" Bos bergeming, dia tetap menonjok wajah Jansen dengan membabi-buta hingga bibir dan hidungnya mengeluarkan darah. Gue menarik bos untuk menjauh dari Jansen supaya dia tidak memukulnya lagi. Tapi tubuh bos tidak bergeser sedikitpun. "Lo apa-apaan hah?!" maki Jansen. "Berhenti ngedeketin asisten gue cuma buat nyari tau proyek perusahaan gue kedepannya, b******k!" Suara tajam bos membuat usaha gue yang mencoba menjauhkannya dari Jansen terhenti. "Cara lo rendahan tau nggak?!" maki bos sambil menarik kerah kemeja Jansen. Gue syok. Perkataan bos gue benar-benar membuat gue kehilangan akal. "Jansen, apa itu bener?" Jansen menggelengkan kepalanya. "Enggak Git," Tapi bos malah kembali menonjok wajah Jansen. "Kalau kamu nggak percaya, cek flashdisk kamu ada apa enggak," kata bos yang membuat gue langsung mengecek flashdisk gue di dalam tas yang ternyata memang tidak ada. Gue ingat terakhir memakai flashdisk itu seminggu yang lalu, hari di mana gue dengan Jansen memulai hubungan. Jadi Jansen membohongi gue selama ini? Dia cuma mau dapat data perusahaan dari gue? "Flashdisk kamu belum aku apa-apain Git! Oke aku akui aku salah awal ngedeketin kamu karena itu. Tapi sekarang enggak!" elak Jansen yang lagi-lagi membuat sebuah tonjokan mendarat di wajahnya. Padahal gue udah percaya sama lo, Jansen… Gue masih syok dengan fakta yang baru saja gue ketahui, kalau ternyata Jansen mendekati gue hanya untuk memanfaatkan, dan parahnya gue sama sekali tidak pernah berpikir ke arah sana. Bos langsung menarik tangan gue dan meninggalkan Jansen yang masih mendesis kesakitan begitu saja. Bos langsung menjalankan mobilnya tanpa banyak bicara. "Kamu itu polos atau bodoh?! Mau-maunya ditipu sama orang kayak dia," omel bos yang membuat gue mengkerut takut. Air mata yang gue tahan sejak tadi akhirnya keluar juga. Berapa kerugian yang sudah bos dapatkan karena kelalaian gue? Apa setelah ini gue akan dipecat? Wajar saja bila gue dipecat, tapi gue tidak mau dipecat sekarang. Bos mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya dan memberikannya ke gue yang langsung gue ambil. Daripada nanti bos melihat muka gue dengan air mata yang bleberan kemana-mana lebih baik dihapus dari sekarang. "Bos," "Apa?" sahut bos sedikit ketus. "Nanti sapu tangannya saya cuci ya," "Kalau udah kena ingus, buat kamu aja," timpalnya masih dengan nada ketus. Kok dia tau sih sapu tangannya udah kena ingus gue... Hueee... "Makasih Bos," jawab gue sambil membersihkan sisa-sisa cairan yang masih tersisa di hidung. Setelahnya suasana kembali hening sampai bos membelokkan mobilnya ke arah yang berlawanan dengan rumah gue. "Bos, rumah saya kan nggak lewat sini," tegur gue. "Kamu pikir saya mau pulangin kamu dengan keadaan kamu kayak gini? Yang ada saya dikira habis ngapa-ngapain kamu." Iya juga sih... tapi kan... Pada akhirnya gue memilih untuk tidak banyak protes karena gue tau kalau si bos lagi kesal dengan gue. Mungkin ini salah satu penyebab kenapa dia super jutek sama gue selama seminggu ini, dan dugaan gue sama sekali nggak meleset saat bos membawa gue ke apartemennya. Begitu masuk ke apartemen bos, dia tetap dengan kediamannya. Gue hanya dibiarkannya begitu saja, kayak anak hilang. Tidak disuruh masuk ke kamarnya untuk menyusul dia, atau pun duduk. Gue hanya bisa cengo doang. Gue tau kesalahan gue cukup fatal, dan gue bingung bagaimana caranya membalikkan mood si bos.  Akhirnya gue menanyakan ke satu-satunya yang gue yakini sampai saat ini serba tahu, yaitu mbah google. Gue pun mengetikkan keyword 'cara membuat mood cowok baik' dan hasil pencariannya adalah... Memperbaiki kondisi sang kekasih yang sedang buruk Kekasih anda bad mood? Beginilah cara menghadapinya Tips menghadapi kekasih yang sedang badmood Cara terbaik hadapi Bad Mood Pria TAPI KAN DIA BUKAN PACAR GUE?! Gue pun akhirnya mengganti keyword yang gue gunakan menjadi 'cara membuat mood bos baik', dan hasil pencariannya adalah... 10 cara membuat bos senang 5 cara jitu menghadapi bos yang arogan Dan gue pun mengklik artikel itu 1. Menerima dan menyadari bahwa dia tidak akan menjadi tim yang baik. Gue sama bos tim yang baik soal kerjaan sebenernya, apalagi kalau lagi ketemu klien... 2. Selalu siap untuk menghadapi perubahan konstan dan drastis di tempat kerja. Nah... ini nih... bos gue emang mood-nya gampang banget berubah, kayak bayi yang sebentar nangis terus sebentar ketawa. 3. Jangan takut untuk pindah kerja atau berhenti bekerja. Mana bisa... cuma bos gue yang bisa mutusin kontraknya 4. Mencari tau bagaimana cara membuat dia berkesan. Apa yang bisa membuat seorang playboy kayak bos gue ngerasa terkesan? Hmmm... 5. Hindari berdebat dengan dia karena itu justru merugikan. Oke gue akan baik-baikin bos gue untuk menghindari debat. Gue sedikit ragu untuk mencari cara membuat playboy terkesan di mesin pencarian karena takut yang keluar hal yang aneh-aneh. Oleh karenanya gue akan membuat bos terkesan dengan cara gue sendiri. Gue pun melihat sekeliling dan hanya menemukan kulkas yang kosong melompong tidak ada isi, hal itu membuat gue frustasi. Gue hanya menemukan beberapa kopi sachet di dalam laci yang langsung gue seduh dengan air galon panas dengan gelas couple unyu yang ada di dalem lemari dapur. "Kamu ngapain?" tanya bos yang membuat gue kaget setengah mati. Untung gue tidak sedang memegang gelas yang isinya air panas itu. Kalau iya, bisa-bisa gue siram ke mukanya. Ini orang kenapa muncul tiba-tiba sih?! Gue langsung mengambil gelas kopi itu dan memberikannya untuk bos. "Saya bikin ini buat Bos," kata gue dengan senyuman tidak enak. Bos hanya memandang gelas yang gue kasih. "Kopi sachet?"  "Abisnya nggak ada apa-apa lagi Bos," jawab gue jujur. "Tapi itu spesial kok Bos saya bikinnya," sambung gue yang membuat alisnya terangkat. "Saya bikinnya pakai doa biar bos nggak marah lagi sama saya," jelas gue gugup. Bos hanya diam dan tidak merespon, lalu ia mengambil gelas dari tangan gue dan masuk ke dalam kamarnya. Sepertinya cara gue tidak berhasil membuatnya terkesan, bos tetap marah. Padahal dia sudah mandi, kena air tidak mengurangi kadar kemarahannya apa? Tidak lama pintu kamar kembali terbuka dan bos melongokkan kepalanya. "Kamu mau tidur dikerubungin nyamuk?" Ucapan bos barusan gue anggap sebagai undangan tersirat, dan gue langsung beranjak masuk ke dalam kamarnya. Begitu masuk kamarnya bos tidak menyalakan TV, dia malah menyalakan radio yang tengah berlangsung sebuah acara malam. Gue juga sekarang lebih suka mendengar radio dibanding menonton TV. Radio saat ini menurut gue lebih berfaedah dibandingkan sinetron-sinetron tidak jelas di TV. Bos masih diam, hal itu membuat rasa bersalah gue semakin menjadi. "Saya minta maaf Bos," ucap gue setelah mengumpulkan keberanian pada akhirnya. Bos masih tidak acuh yang membuat gue merasa sakit hati. Gue tau gue salah, tapi tidak seperti ini juga. Dia di mobil masih mau bicara meskipun marah. Tapi ini tuh enggak. Gue tidak ada bedanya dengan pigura foto. Ada, tapi bukan objek untuk diajak bicara. Gue memilih untuk duduk di kasurnya guna menahan luapan emosi. "Bos, saya nggak tau berapa kerugian yang bos alamin karena kelalaian saya. Tapi saya akui saya benar-benar menyesal Bos," ucap gue dengan suara yang bergetar karena menahan isak tangis. Hal itu membuatnya menoleh. "Saya minta maaf... saya terima kalau bos mau putus kontraknya," lirih gue setelah menghela napas panjang. "Saya nggak akan mutus kontraknya, kamu tidur aja," ucap bos sambil menaruh gelas yang sedang diminumnya dan kini ikut duduk di samping gue. "Tapi saya masih ngerasa bersalah Bos," timpal gue dengan air mata yang berlinang. Tidak sanggup menahannya lagi. Gue merasa begitu bersalah dengan bos karena kebodohan yang sudah gue buat. Air mata gue semakin mendesak untuk keluar. Tapi setelahnya bos malah memeluk, dan mengelus rambut gue dengan lembut. Gue menyukai tubuh bos yang terasa begitu hangat, wangi segarnya juga. Semuanya membuat gue begitu nyaman. Setelah cukup lama dia pun melepaskan pelukannya. "Saya nggak marah sama kamu, jadi nggak usah nangis lagi," ucap bos sambil menghapus air mata yang ada di pipi. Gue bisa melihat kornea matanya yang berwarna hitam kecoklatan, yang sebelumnya tidak pernah gue sadari. Sebelumnya jika wajah kami berjarak sedekat ini gue akan memejamkan mata karena bibirnya akan memagut bibir gue setelahnya, tapi kali ini tidak. Kami hanya tenggelam melihat pantulan wajah di bola mata masing-masing dengan iringan lagu the way you look at me nya Christian Bautista dari radio yang disetel oleh bos. Oh God! Please stop the time right now! *** Setelah kejadian tatap-menatap tadi, bos mengakhirinya lebih dulu, lalu ia menyuruh gue untuk mandi dan ganti baju. Sekarang kami kembali duduk bersebelahan di ranjang. Gue memakai piyama yang kami beli di Paris. Kebetulan punya gue terselip di koper miliknya. Gue masih sibuk mengeringkan rambut dengan handuk kecil karena bos gue tidak punya hairdryer. Saat gue bertanya kepadanya dia langsung sewot dan ngomong, "emang saya perempuan. Rambut saya nggak cukup panjang untuk dipakein hairdryer." Salah lagi deh gue... "Kamu kalau ngeringinnya kayak gitu baru besok pagi keringnya," ucap bos sambil mengambil handuk dari tangan dan membantu mengeringkan rambut gue dengan cara yang sedikit lebih 'brutal'. Sesekali dia memijat kulit kepala yang membuat gue merasa nyaman dan juga mengantuk. "Bos?" tanya gue yang dijawab gumaman singkat olehnya. "Bos tau darimana kalau Jansen kayak gitu?"  "Kamu nggak perlu tau, yang jelas saya punya informan," timpalnya singkat. Membahas Jansen entah mengapa membuat gue merasa miris sendiri. Pantas saja dia terkesan menggebu saat mendekati gue selama ini. Ternyata ada udang di balik batu. Kalau udang di balik rempeyek kan enak. Gue tidak tau bagaimana nasib Jansen di parkiran kantor karena bos tidak membiarkan gue untuk menoleh ke arahnya sama sekali. Dan saat ponsel gue bunyi karena panggilan dari Jansen, bos langsung mencopot batere ponsel tanpa sempat membiarkan gue mengangkatnya. Gue bahkan izin 'lembur' sama orangtua gue memakai telepon kantor karena suruhannya. "Bos, boleh saya nyalain ponsel saya? Saya mau menghubungi Jansen untuk mengakhiri semuanya," ucap gue yang membuat gerakan tangan bos yang lagi mengeringkan rambut terhenti. "Kamu terlibat hubungan sama dia?" tanyanya yang gue jawab anggukan gugup. Kini atmosfer antara kami kembali terasa canggung. "Makanya saya ingin mengakhiri semuanya Bos," jawab gue. "Saya kira kamu nggak sejauh itu sama dia," Ya gue udah ciuman sama dia masa iya nggak ada hubungan apa-apa sih, lo juga kayaknya liat waktu itu. "Saya nggak mungkin melakukan skinship tanpa suatu hubungan Bos," ucap gue. "Tapi kita .... " ucapnya menggantung yang membuat gue terdiam. Iya, gue sama bos gue bahkan tidak terlibat hubungan apa pun. Tapi sudah begitu banyak skinship yang kami lakukan. Itu juga yang buat gue bingung. "Saya sebenarnya termasuk orang kolot yang melakukan suatu skinship atas dasar sebuah hubungan Bos. Untuk Bos mungkin itu nggak masalah karena pengalaman bos sebelumnya dengan banyak wanita di luar sana tanpa dilandaskan sebuah hub—" Gue tidak bisa melanjutkan kalimat karena bos membungkam bibir gue dengan bibirnya. Dia mulai memagut bibir gue lembut yang semakin lama semakin dalam. Tangannya bergerak ke tengkuk dan menahan kepala gue untuk melepaskan diri dari dia, sementara lengannya yang lain menyentuh pipi gue dan mengelusnya dengan lembut. Setelah memagut bibir gue cukup lama, yang tidak gue respon. Ia pun melepaskan pagutannya. Kenapa bos gue selalu hobi cium gue secara ngedadak sih? "Putusin Jansen. Kalau kamu butuh pacar, pacaran sama saya aja biar kejadian flashdisk kemarin nggak terulang." Ini bos nembak gue, nyuruh gue jadi pacarnya, apa gimana sih? Nggak ada love confession sama sekali. Lebih kayak perintah. Gue jadi b******k banget dong kalau baru putus sama Jansen langsung jadian sama bos? Lagian bos gue kenapa tiba-tiba jadi gini sih? Bikin gue serba salah dan pusing. Setelahnya bos tidak ngomong lebih lanjut dan dia membaringkan diri sambil membawa gue ke pelukannya. Kami sudah sering tidur satu ranjang, tapi ini baru pertamakali dia tidur dengan memeluk gue kayak gini. Gue bisa mendengar irama detak jantuk bos yang tidak karuan, same as mine. Bos, sebenernya bos cinta nggak sama saya? Pertanyaan gue cuma terkubur dalam-dalam di hati karena lirik lagu bigbang let's not fall in love tengiang lagi di benak gue. Gue selalu merasa lagu itu sudut pandang bos gue akan hubungan yang gue jalani dengan dia saat ini. I'm sorry bos, but I think I'm already fallin for you... Suara merdu Justin Timberlake dan Anna Kendrick di lagu True colors yang diputar di radio menjadi lagu pengiring tidur gue.   You with the sad eyes Don't be discouraged, oh I realize It's hard to take courage In a world full of people You can lose sight of it all The darkness inside you Can make you feel so small Show me a smile then Don't be unhappy Can't remember when I last saw you laughing This world makes you crazy And you've taken all you can bear Just call me up 'Cause I will always be there And I see your true colors Shining through I see your true colors And that's why I love you "Yeah, and that's why I love you," bisik Laynata pelan sambil mencuri kecupan di dahi Inggitya yang sedang tertidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN