BAB 16

1051 Kata
Saat membuka mata, kamar bos sudah penuh cahaya matahari. Sepertinya gue kesiangan. Kamar ini memang mempunyai kaca yang cukup besar dan dua lapisan gorden, dan semalam mungkin bos hanya menutup kacanya dengan lapisan gorden tipis, bukan gorden tebalnya. Bos masih tertidur dengan nyenyak, pelukannya tidak mengendur sama sekali. Untung hari ini libur, jadi gue tidak terlalu panik karena kesiangan. Tangan gue pun bergerak untuk merapikan rambut bos yang terlihat sedikit berantakan, ia sempat bergerak, tapi dia kembali melanjutkan tidurnya, seperti tidak merasa terganggu. Gue membunuh waktu yang ada dengan menikmati pahatan sempurna makhluk ciptaan Tuhan yang ada di depan gue ini. Hidung macungnya, rahang tegasnya, bibir kissable-nya, semuanya terlihat sempurna. Terlalu sempurna untuk diraih... Gue pun melepaskan tangan bos yang masih melingkar di pinggang sepelan mungkin, tapi dia tetap mempertahankan posisi gue.  Sialan... dia udah bangun? "Bos, lepasin udan siang," pinta gue. "Sepuluh menit," kata bos seraya memeluk gue lebih erat, "saya butuh waktu kamu sepuluh menit." Gue pun diam dan tidak banyak protes, hanya menyamankan posisi dan menikmati tubuh bos yang terasa lebih hangat daripada udara ruangan yang memakai pendingin ini. Kalau boleh jujur, berada di pelukan bos membuat gue merasa nyaman sekaligus aman. Gue harap bos akan selalu bersikap semanis ini, jangan berubah kayak macan tiba-tiba yang bikin gue ketar-ketir. "Bos, udah sepuluh menit." "Lima menit lagi," Lama-lama nambahnya bisa dua jam kalau ditotalin nanti. Memang ini posisi enak banget, tapi gue ada sedikit urgensi. "Saya harus ke toilet Bos," mohon gue. Perlahan bos mengendurkan pelukannya sehingga gue bisa terbebas dan segera menuju toilet. Gue keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar karena sudah gosok gigi dan cuci muka sementara bos masih tidur di kasurnya. "Bos, udah siang Bos." Gue menggoyang-goyangkan tubuhnya. "Saya masih ngantuk," sahutnya. "Bos bukan bayi yang perlu tidur lebih dari sepuluh jam." Ucapan gue malah membuat bos menarik badan gue hingga terjatuh di kasur, dan dia kembali menjadikan gue guling, kali ini dia bahkan menyembunyikan wajahnya di leher gue. "Saya emang bukan bayi, tapi kalau weekend saya juga perlu waktu tidur lebih," balasnya melakukan pembelaan. Setelahnya dia mengelus rambut di punggung gue, yang membuat gue lebih mendekatkan diri ke pelukannya. "Bos?" tanya gue yang dibalas singkat. "Maksud omongan Bos semalem apa?" Elusan tangannya berhenti tiba-tiba, membuat gue ragu dengan pertanyaan gue sendiri. "Kayaknya saya salah ngangkat topik ya bos? Maaf," cicit gue pelan. Gue tidak berani menatap mata bos dan lebih memilih melihat d**a bidangnya yang ada di depan mata. Tubuh gue tiba-tiba terguling, sehingga posisi bos ada di atas tubuh gue. "Kamu jadi cewek kok nggak peka sih?" "Saya cuma nggak mau banyak berspekulasi Bos, karena kalau terlalu banyak berekspektasi bukannya saya yang akan sakit hati?" Gue deg-degan banget sekarang karena posisi ini dan juga omongan frontal gue barusan. Secara nggak langsung gue bilang kalau gue mengharapkan dia bukan? "Saya mau perpanjang kontrak kamu," ucap bos yang semakin membuat gue bingung. "Kenapa harus diperpanjang Bos? Bos bahkan belum mutusin kontraknya. Kontrak itu kan cuma Bos yang bisa memutuskan," timpal gue. Ini ngomongin kontrak kerja kenapa nggak duduk saling berhadapan aja sih? Kalau posisinya begini kan nggak bagus banget untuk kesehatan jantung gue. Dia udah marathon di dalem sana. "Saya mau perpanjang kontrak kamu jadi seumur hidup," "Hah?!" "Please be my lifetime assistant," Tunggu dulu deh... Asisten seumur hidup?! INI GUE DILAMAR?! "Bos serius?" Bukannya menjawab dia malah mendekatkan wajahnya ke wajah gue. Mungkin ini pengganti jawaban ya karena bos punya gengsi setinggi langit. Gue pun memejamkan mata dan menangkup pipi bos sampai akhirnya bibir kami berdua bertemu. "Jadi sekarang kita official Bos? Bos udah mau berkomitmen?" tanya gue memastikan setelah dia melepaskan ciumannya. "Cuma sama kamu," jawabnya yang buat gue tidak bertanya lebih jauh lagi karena salting parah. "Mau nginep lagi malem ini?" tawar bos yang spontan gue jawab dengan gelengan.  Tidur bareng dia bikin kerja jantung gue nggak bagus.  "Bos?" "Berhenti panggil saya Bos di luar kantor, apalagi kalau di kamar kayak gini," pintanya. "Terus saya harus manggil apa?"  "Mas, Sayang, terserah kamu. Saya terima semua panggilan dari kamu." Gue pun berpikir cukup lama sampai gue sadar kalau bos gue sama sekali belum beranjak dari atas gue. "Mas nggak capek?"  "Enggak. Kenapa? kamu nggak suka?" Bukan... bukan itu Mas... saya deg-degan... "Saya... deg-degan kalau Mas tetep kayak gitu," ucap gue sambil menutup muka yang membuat bos tertawa. Dia pun akhirnya membaringkan diri di samping dan membawa gue kepelukannya lagi. "Mas... saya izin sama orangtua saya cuma lembur kerja dan nginep di apartemen temen saya. Kalau jam segini belum pulang nanti dicariin."  "Nanti saya anter pulang," "Nanti ketauan dong kalau saya nginep di sini Mas?!" "Ya nggak masalah sekalian saya mau ngomong soal perpanjangan kontrak kita." "Mas nggak mau nikahin saya cuma karena hasil kerja saya memuaskan kan?" tanya gue karena masih ragu. Dia ngajak nikah tapi belum mengungkapkan perasaannya sama gue. "Saya belum ngeliat hasil kerja kamu di ranjang sebenernya, jadi bukan karena itu." WHAT THE— Gue harus sabar menghadapi orang arogan macem ini... "Terus karena?" Pura-pura b**o aja terus sampai dia ngeluarin kata yang pengen gue denger. "Because I love you," Finally!!!!  Gue cuma senyam-senyum setelah bos bilang kalimat itu. Akhirnya dia menyatakan perasaannya juga. "Kenapa nggak bilang dari semalem sih Yi?" ucap gue pada akhirnya. "Yi?" tanyanya heran. "Katanya bebas boleh manggil apa aja, ya suka-suka saya dong mau manggil apa, saya mau manggil Mas Yi nggak boleh?" jawab gue.  Laynata Yisakha, teman-temannya biasa menyebutnya dengan nama Lay, gue hanya ingin berbeda dengan menyebutnya dengan dua huruf nama belakangnya saja. "Udah berani ngejawab ya sekarang," timpalnya sambil mengelitiki gue. Gue pun berteriak karena kegelian dan membuat kasurnya acak-acakan. "Kamu orang pertama yang bikin kasur ini acak-acakan," ucapnya setelah selesai mengelitiki gue. Gue pun mengatur napas yang sempat terengah. "Emang Mas sebelumnya nggak bikin kasur ini berantakan sama yang lain?" tanya gue dengan hati-hati. Gue tau ini adalah topik sensitif mengingat masa lalunya yang memiliki kehidupan bebas. "Kamu perempuan yang pertama yang saya izinin tidur di samping saya karena selama ini saya nggak pernah ngizinin siapa pun, meskipun itu partner seks saya, kamu perempuan pertama yang saya izinin untuk masuk ke kamar ini, kamu juga perempuan yang belum pernah saya sentuh meskipun saya sering gila mikirin kamu." HHHHHH mau terbang aja rasanya...  Kalau dulu gue pernah bilang let's not fall in love, maka sekarang ... "Let's fall in love Bos,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN