Clara menarik suaminya untuk keluar kamar.
Wira berjalan mengekor dibelakang istrinya.
Dan ketika sampai di depan kamar yang didalamnya ada Lira, Clara berhenti.
"Kok berhenti, memangnya kamu mau kasih aku kejutan apa?" Tanya Wira dengan penuh rasa penasaran dan selidik.
"Tapi kamu janji setelah ini akan menuruti apa yang aku mau"
"Iya janji"
Clara membuka pintu itu.
Ceklek........
Kamar itu terlihat gelap sehingga Clara dan Wira tidak bisa melihat isi kamar itu.
Clara pun ketar ketir jika Lira kabur dari kamar.
Dan pergi meninggalkan rumah begitu saja.
Lira tertidur dengan berselimutkan bed cover tebal dan hanya terlihat rambutnya saja.
"Siapa itu?" tanya Wira sangat penasaran.
Clara berjalan masuk dan menarik selimut Lira.
Betapa terkejutnya Wira ternyata wanita simpanannya berada di dalam rumahnya.
"Lira..... " ucap Wira dengan ekspresi terkejut.
Lira pun kaget karena selimutnya ditarik oleh Clara.
"Jangan kaget honey..... Mulai sekarang kau bebas menggaulinya, aku butuh anak darinya"
ucap Clara sambil memandang Wira.
"Apa yang kamu ucapkan?? Apa Kamu sadar?? Apa kau mau aku menduakanmu? " Pertanyaan beruntun keluar dari mulut Wira.
Lira yang kebingungan tidak tau harus berbuat apa, yang ada dipikirannya sekarang hanyalah ingin kabur keluar dari rumah Clara. Lira tampak mematung mendengar perdebatan mereka berdua.
"Jangan munafik sayang.... Kau senang kan dengan penawaranku?? Yang jelas aku hanya mau seorang anak dari perempuan ini"
Clara segera meninggalkan Lira dan Wira.
Wira tidak beranjak pergi, ia masih ingin menanyakan banyak hal kepada Lira.
Clara menyuruh 2 pembantu di rumahnya yang dikhususkan merawat dan melayani Lira.
Kedua pembantunya pun masuk ke kamar Lira untuk merawat Lira sesuai dengan keinginan nyonya Clara.
"Maaf tuan, kami berdua diperintah nyonya untuk memandikan dan menggantikan baju nona Lira"
"Biarkan kali ini aku yang urus dia bik, saya masih ada perlu dengan dia, bibik boleh pergi sekarang"
"Baik tuan"
Lira hanya bisa meneteskan air mat, ia tidak bisa berkata kata karena dia bisa sampai di titik ini.
"Apa salahku tuhan, hingga hidupku seperti ini?" Lira meremas rambutnya sendiri.
"Sudahlah sayang nikmati saja fasilitas yang diberikan Clara padamu, jika kau menurut hidupmu akan serba berkecukupan, layani aku seperti raja, maka kau akan ku perlakukan seperti ratu" ucap Wira yang duduk disamping Lira.
Tangan Wira mulai memeluk Lira.
"Lepaskan aku tidak akan menuruti kemauanmu dan Clara"
"Oh..... Jadi kamu melawan rupanya"
Wira mulai berdiri dan memegang tangan Lira dengan kuat.
Lira dibanting ke atas kasur dan terpental.
Wira menarik kemeja Lira hingga sobek.
Kini hanya rok yang menempel di tubuh Lira.
Dengan kasar Wira memaksa melucuti bra dan rok serta celana dalam yang masih terpakai.
Lira melawannya tapi semua sia sia. Lira tidak punya tenaga karena belum makan sama sekali.
Lira sangat lapar, tapi justru Wira memanfaatkan kelemahan Lira.
Kini Lira sudah bugil. Wira menatap tubuh Lira dengan ganas dan penuh nafsu.
Wira pun memulai pergulatan panasnya diatas ranjang super duluxe.
Wira menciumi seluruh tubuh Lira.
Tak dipungkiri Lira pun terangsang meskipun dalam keadaan terpaksa.
Wira sangat lihai melakukan foreplay agar Lira cepat becek dan banjir.
Tak lupa tangan dan kaki Lira ditali di setiap sudut kasur.
Kini lira seperti ikan terdampar yang hanya pasrah kepada Wira.
Wira meremas gunung kembar Lira dengan sangat lembut, sementara bibirnya masih sibuk menciumi bibir manis Lira.
Wira masih terus meraba raba hingga sampai ke lubang kenikmatan.
Jari Wira memainkan isi apem Lira.
Lira pun menggelinjang kenikmatan.
Lira berusaha menahan desahannya agar tidak keluar.
Lira menggigit bibir bawahnya hingga membekas dan berwarna merah.
Tak tahan lagi akhirnya Lira mengeluarkan suara desahan seksinya.
"Au......... Ah....... Augh...... Ah........ "
"Terus sayang desahanmu membuat aku candu" ucap Wira yang masih memainkan biji kacang Lira.
Wira menyuruh Lira untuk membungkuk, kali ini Wira menginginkan gaya doggy style.
Lira menuruti apa kata Wira.
Wira berlutut dibelakang Lira, dan mulai memasukkan rudalnya.
"Aw...... " jerit Lira karena kaget rudal Wira telah masuk begitu dalam kelubangnya.
"Enak kan sayang"
Wira terus menggenjot keluar masuk rudalnya.
Lira pun terus melenguh mengeluarkan desaham demi desahan , tak mau kalah tangan Wira masih terus meremas gunung kembar milik Lira.
"Tak begitu besar tapi aku suka, padat berisi" ucap Wira memuji bentuk gunung kembar Lira.
Wira pun belum klimaks, ia meminta Lira berganti posisi women on top.
Kini Lira yang mengendalikannya.
Wira terus meremas p****t Lira dan mendorongnya.
"Nikmat sekali sayang, masih sangat sempit lanjutkan sayang, naikin temponya" suara Wira parau dia mulai kelojotan dengan genjotan Lira.
"Ahhhh........... "
Akhirnya Wira pun keluar.
Lira langsunh mengeluarkan rudal Wira dan terkapar disamping Wira.
"Bagaimana sayang nikmat bukan? Permainan yang luar biasa" ucap Wira dengan melingkarkan tangannya ke perut Lira.
Lira masih mengatur nafasnya yang tersengal sengal.
Wira yang melihatnya pun gemas dengannya.
Wira menciumi gunung kembar Lira lagi.
"Sudahlah minggir, aku mau mandi" Lira mengalihkan kepala Wira dan berdiri menuju ke kamar mandi.
Lira mau menutup pintu kamat mandi, tetapi Wira menahannya dan ikut masuk kedalam kamar mandi.
"Alangkah lebih baik kita mandi bersama sayang"
Wira mengedipkan mata genitnya.
Lira berusaha mendorong keluar tapi sia sia.
Wira langsung memeluk Lira dari belakang, dia menciumi leher dan pundak Lira.
Tangannya memainkan p****g Lira.
Lira pun memejamkan mata, kali ini Lira mencoba menikmati siksaannya.
Wira tarus memainkan gunung kembar Lira dan sesekali mengelus perut Lira.
Lira mengerang keenakan.
Wira tidak sabar ingin melakukan ronde keduanya di dalam kamar mandi.
Wira memerintah Lira untuk mengangkat sebelah kakinya dan menahannya di tembok kamar mandi, kini jemari Wira bermain di area sensitif Lira.
Wira mengganti posisi, kini Wira berada di depan Lira dalam posisi jongkok.
Wajahnya berada tepat di depan gua yang indah, tidak terlalu lebat hanya tipis tipis, ia menyukai gua Lira.
"Kamu sangat pintar merawatnya sayang, aku menyukainya"
Tak lama Wira memainkan biji kacang Lira dengan lidahnya, ia mencecap dan memainkannya denga lidahnya.
Lira memegang kepala Wira dan satu tangannya lagi menahan di tembok untuk tumpuan agar tidak jatuh.
"Ah....... Ah....... Nikmat sekali Wira"
Entah setan apa yang meracuni Lira hingga sekarang ia pun menikmati permainannya dengan Wira.
Lira kelojotan dan tubuhnya menegang, apemnya berkedut.
"Aku mau keluar" ucap Lira dengan suara parau.
Wira menaikkan temponya memainkan biji kacangnya dan memainkan jemarinya dengan lihai.
"Ah...... Aku keluar" ucap Lira dan ia pun lemas.
"Bagaimana nikmat kan? Sudah kamu jangan munafik Lira, aku sangat lihai dalam hal ini, aku pastikan kau akan selalu merindukanku"
Setelah itu keduanya mandi bersama.
Belum selesai mereka berdua mandi, terdengar suara pintu kamar.
Tok.... Tok......
"Wira...... "
Rupanya Clara memanggil Wira.
Wira pun segera keluar kamar mandi dan membuka pintu kamar.
"Iya sayang, ada apa?"
"Ada seseorang yang mencarimu dibawah, segeralah turun"
"Baiklah"
Setelah selesai memakai baju Wira dengan segera turun menemui tamu yang sedang mencarinya.
Sedangkan Lira masih saja menyesali perbuatan yang baru saja ia lakukan dengan Wira.
Bagaimana bisa Lira melakukannya dua ronde bersama Wira.
"Si*alan Wira, dia membuatku menjadi wanita tidak berharga, sampai kapan aku menjadi tawanan Wira, aku tidak mungkin menuruti kemauannya, aku tidak mau hamil anak Wira, sungguh itu sangat menjijikkan"
umpat Lira dalam hati sambil menyisir rambut panjangnya di depan kaca.
"Sudah cantik sayang..... Turunlah..!! makanan sudah siap untukmu, kamu pasti lapar kan?"
Tiba tiba suara itu muncul dari arah pintu, rupanya itu adalah Clara.
Rasanya Lira tidak sudi menatap Clara.
"Istri macam apa dia, rela suaminya bermain denganku, merelakan suaminya demi kebahagiaannya, hanya istri to*lol yang mau berbagi suami dengan perempuan lain, aku tidak habis fikir bagaimana ada perempuan bermodel seperti Clara, dimana akal sehatnya, dimana hati nuraninya? "
Lagi lagi Lira mengumpat dalam hatinya sambil sesekali meremas gagang sisir yang sedang ia bawa.