Chapter 5 : Rencana Lain

1067 Kata
Pembantu Wira menyuguhkan kopi dan teh untuk tamu dan tuannya. "Bagaimana progres kerjasama kita dengan Perusahaan yang di Kalimantan, apakah berhasil?" Tanya Wira pada tamunya yang ternyata itu adalah rekan kerjanya. Wira yang begitu antusias membicarakan bisnisnya hingga lupa waktu. Clara pun menghampirinya dan memberi kode agar segera mengelesaikan perbincangannya dengan rekan bisnisnya. "Beib kamu janji mau nganter aku ke dokter kan" rengek Clara yang dengan sengaja duduk di samping Wira dan menarik tangan Wira ke atas paha Clara. "iya sayang sebentar lagi ya" Wira mengelus pipi Clara. "Cepet ya aku gak bisa nunggu lama" perintah Clara "Oke" Wira menjawab singkat. Clara langsung pergi meninggalkan Wira begitu saja. Teman Wira pun merasa tidak enak. "ya sudah Wir aku pamit dulu, aku tidak enak menganggu jadwalmu dengan istrimu" "santai bro, biasa lah perempuan kalau suaminya lagi di rumah manjanya bukan main, padahal biasanya dia kemana mana bisa sendiri sama supir" "maklumlah Wir kan kamu sibuk terus, kini giliran kamu yang manjain istri kamu" "Oke kapan kapan kita lanjut lagi ya.....!" "Oke Wir, aku lanjut dulu ya aku balik dulu" Teman Wira pergi dari rumahnya. Clara pun segera mendekati Wira. "Kamu lupa ya dengan janji kamu, ingat kita tidak punya banyak waktu beib" "iya honey aku ngerti, gimana Lira sudah siap?" "Sudah lah dari tadi" Ternyata Wira dan Clara mempunyai rencana akan membawa Lira ke rumah sakit untuk program hamil. Clara membutuhkan anak dari rahim Lira. Lira tidak mau tapi dia terpaksa melakukannya karena pemaksaan dari sepasang suami istri itu. "Bi..... ijah bawa Lira kebawah, persiapkan semuanya" teriak Clara dari bawah. "Siap nyonya" Dengan segera bik ijah membawa Lira ke bawah dan membawakan tas Lira yang berisi dompet serta identitas Lira" "ini nyonya, semua berkas non Lira sudah ada di dalam tas" Bi Ijah menunjukkan isi tas Lira. sedangkan Lira hanya terdiam tidak berkata apapun. "Baiklah terimakasih, jangan lupa selama aku dan tuan pergi sbersihkan kamar Lira dan persiapkan makanan yang enak, saya gak mau tau sepulang saya dari rumah sakit semua harus sudah ready" perintah Clara kepada bi Ijah dan pasukannya. "Baik nyonya". bi Ijah pun kembali ke atas untuk memberitahu pelayan yang lain agar menyiapakan permintaan majikannya. Supir sudah siap bersedia di depan pintu rumah Wira. pintu mobil sudah terbuka dan mereka bertiga siap untuk pergi ke rumah sakit. Wira duduk di depan di samping supir, sedangkan Lira dan Clara berada di kursi belakang. "Menuju rumah sakit mana pak?" tanya si supir. "kita akan ke rumah sakit Melati, rumah sakit khusus ibu dan anak" jawab Wira. "baik pak" Supir mengemudi dengan santai. Selama perjalanan tidak banyak yang diomongkan hanya sesekali Wira menanyakan kepada Clara. "Mau ke dokter Maya atau Ratna?" tanya Wira. "terserah aku mau yang terbaik" "kalau begitu dokter Maya saja, kedua dokter itu sangat komoeten dan paling favirut diantara Spog yang lainnya" "kamu sudah menghubungi pihak rumah sakit?" tanya Clara mengingatkan Wira. "belum, ini baru mau menelfon dokter Bram" tangan Wira sibuk mencari kontak dokter Bram dan segera menelfonnya. Wira tengah sibuk berbicara dengan dokter Bram, dan Lira terlihat tidak menghiraukannya. di pikiran Lira hanyalah mencari cara bagaimana dirinya bisa kabur dan lepas dari jeratan Wira dan Clara. Lira memikirkan berbagai cara dan kemungkinan agar bisa kabur selama berada di rumah sakit. "Ingat Lira kau hanya butuh menurut saja dengan kami, jika kau menuruti semuanya hidupmu akan terjamin" suara Clara memecahlan keheningan di tengah perjalanan menuju rumah sakit. Lira tidak menghiraukan dan seolah tidak mendengarnya, ia tidak menjawab dan tidak menanggapi perkataan Clara. tiba tiba wajah Lira panik teringat dengan sahabatnya. Lira sudah di culik dua hari di rumah Wira. Sahabatnya pasti panik memikirkan dirinya. Tapi percuma Lira tidak bisa menghubungi sahabatnya karena ponsel Lira telah disita oleh Clara. "Dasar ba*jingan semuanya, karena keegoisan kalian aku menjadi seperti ini, kalian lupa jasa apa yang telah papaku berikan? kalian lupa dengan semua penghianatan yang kalian perbuat? suatu saat aku pasti akan menunjukkan siapa aku sebenarnya, kali ini kalian boleh menang, tapi pada akhirnya akulah pemenangnya" Lira mengumpat dan berkata dalam hati. Tak lama mobil telah sampai di rumah sakit. Semua turun dan menuju ke ruangan dokter Bram. "Bagaimana dok, apakah dokter Maya sudah siap melakukan kerjasama ini?" tanya Wira tanpa basa basi. "Silahkan duduk dulu pak Wira, saya akan menghubungi dokter Maya dulu, memastikan kembali kalau ia siap" dokter Bram langsung menelfon dokter Maya. dan dokter Maya pun langsung datang ke ruangan dokter Bram. "Selamat Sore pak Wira bu Clara" ucap dokter Maya dengan sopan dan mengulurkan tangannya kepada ketiga tamu tersebut. "jika dirasa kepentingan dengan dokter Bram selesai, bapak, ibu dan juga nona cantik ini bisa lanjut ke ruangan saya" dokter Maya mempersilahkan semuanya pindah ke ruangannya kecuali dokter Bram. "saya rasa cukup dok, pak Wira dan semuanya bisa langsung membicarakan persoalannya kepada dokter Maya di ruangannya" dokter Bram menanggapi pertanyaan dokter Maya. Keempat orang itu keluar dan pergi meninggalkan ruangan dokter Bram. Lira melihat situasi dan kondisi sekitar, Lira masih memikirkan jalan keluar untuk kabur dari jeratan Wira dan istrinya. tak lama Wira menelfon body guardnya untuk menjaga Lira. Body guard pun langsung menuju ke ruangan dokter Maya. kedua bodyguard terlihat berdiri di luar ruangan dokter Maya. Lira pun terlihat kesal dengan penjagaan ketat dua bodyguard itu. "Sialan lagi lagi aku gak bisa berkutik, penjagaan Wira begitu ketat, aku bahkan tidak bisa berkutik" monolog Lira dalam hati. "Bagaimana dokter apakah Lira bisa untuk menjalani bayi tabung?" "Sebelum melakukan bayi tabung Lira harus melalui beberapa pemeriksaan" "bagaimana kalau dimulai sekarang dok?" ucap Clara dengan penuh ambisi. Lagi lagi Lira tidak mengucapkan satu kata pun untuk merespon pembicaraan Clara dan dokter Maya. "Bisa bu, bagaimana dengan Lira, apakah kamu sudah siap?" mata dokter Maya menatap Lira. Lira yang dari tadi tidak fokus gelagapan menjawab pertanyaan dokter Maya. "E...... e.... iya dok bagaimana?" "kamu dari tadi ngelamun aja ra, fokus donk" bentak Clara pada Lira. Lira membalas tatapan sinis kepada Clara. "sekali lagi kau berani membentakku akan aku batalkan semuanya aku tidak akan memenuhi permintaan kalian" jawab Lira dengan lantang. Sontak Wira dan Clara kaget dan memandang Lira dengan tatapan penuh dendam. "Begini saja bu Clara, kalau Lira belum siap tidak apa apa, saya tidak akan memaksanya" ucap dokter Maya dengan lembut, karena dokter Maya juga bingung dengan klien kali ini. "Tidak bisa dok Lira harus segera diperiksa dan harus secepatnya dipersiapkan untuk bayi tabung" Tak lama dokter Maya memeriksa Lira yang sedang terlentang di bed periksa. Selambu di tutup oleh dokter Maya dan pemeriksaan pun berlangsung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN