Aku menatap langit-langit dengan degupan jantung yang bertalu. Suaranya terdengar sampai ke gendang telinga karena keheningan yang menyergap kami berdua. Aku sampai tak berani menoleh ke sebelah, ke arah laki-laki yang merupakan suamiku sendiri. "Kenapa belum tidur? Ada yang kamu pikirkan?" Ia bertanya, dan aku menoleh ke arahnya. Seketika kami saling tatap. Sepertinya wajah Pak Arik lebih dulu menghadap ke arahku. Ada debaran yang tidak bisa dijelaskan saat kedua netra saling bertemu. Semakin dalam aku menatapnya, semakin besar debaran itu kurasakan. Aku yang tidak sanggup berlama-lama menatapnya, memilih memalingkan wajah. "Kak Alisa tidak menginap di sini, apa Bapak tidak tahu?" Pertanyaan itulah yang mengganjal di benakku. Membuatku sulit memejamkan mata. Kenapa ia memilih menginap

