"Sudah lama tidak melihatmu di cafe. Aku rindu." Deg! Astaga, apa yang dikatakannya? Aku sekilas menatap ke arah Alisa yang membalasku dengan tatapan penuh tanya, lalu kutundukkan wajah yang terasa terbakar dengan jemari yang sedingin es. Aku malu, gugup, semua jadi satu. Semoga Alisa tidak berpikir macam-macam dengan apa yang barusan dikatakan oleh Axel. Lelaki yang masih berdiri di depanku ini malah tersenyum semringah tanpa beban setelah mengatakan hal tersebut. *** "Ini, minumlah. Jangan terlalu sering menunduk, itu menyulitkanku untuk melihat wajah cantikmu." Aku mendongak lalu terpaksa mengambil minuman di tangannya dan memalingkan wajah ke arah berlawanan. Lagi-lagi lelaki yang setelah kuamati wajahnya mirip seseorang ini, masih menggombaliku tanpa tahu malu di depan Alisa.

