"Sebentar." Aku berseru dan beranjak bangun dari tempat tidur. Suara ketukan dari arah pintu kamar, memaksaku melangkah cepat menghampiri. "Iya Nen, ada apa–" Suaraku terjeda saat melihat Neni menyodorkan sebuah ponsel ke arahku. "Dari Pak Arik," selanya dengan masih mengarahkan ponsel tersebut ke hadapan agar segera diambil. Sejenak berpikir, lalu aku menggeleng. "Aku tidak mau." Aku menolak menerima panggilan dari lelaki yang telah mengabaikanku itu dengan berbalik arah dan melangkahkan kaki menuju tempat tidur. Lagi kaki kuhentakkan saat berjalan tanda aku sedang merajuk. "Tapi Nyonya, ini dari Pak Arik," ulangnya lagi membujukku menerimanya. Sayup terdengar suara laki-laki yang kurindukan bicara dari ponsel yang dipegang Neni. "Baik Pak." Neni mengarahkan lagi ponselnya ke ara

