Pindah

1920 Kata

"Kenapa tetap diterima? Tahu namaku bukan berarti harus diterima. Kalau memang untukku, pasti di alamatnya dicantumkan namaku juga!" Nada suara Pak Arik terdengar keras. "E .. anu Pak, kata Budi alamatnya sudah benar di sini, pas mau dikonfirmasi ke Bapak, orang yang mengantar paket itu sudah pergi." Neni menjelaskan dengan terbata. Jelas dia ketakutan. "Ya, tapi kan paketnya jangan diambil dulu. Kalau sudah diterima begini otomatis telah membenarkan kalau paket ini untuk orang yang ada di rumah ini. Bagaimana kalau ini isinya n*****a? Siapa yang mau tanggung jawab? Kamu, atau Budi?" Neni terdiam tertunduk tidak berani menatap laki-laki yang berdiri di sebelahku. Suamiku ini, kalau lagi bicara serius atau marah memang menakutkan. "Maaf, Pak. Saya minta maaf." Hanya kata itu yang teruca

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN