Ke rumah Besar

1904 Kata

Astaga, hidungku! Pake acara mau bersin segala lagi. Kenapa di waktu yang tidak tepat. Tidak ingin ketahuan sedang menguping pembicaraan mereka, terpaksa aku menjauh takut aku bersin beneran dan suara bersinnya terdengar oleh mereka. Merasa cukup jauh karena sudah berada di ruang tengah, setengah wajah yang sengaja kututup dengan satu tangan akhirnya dapat kulepaskan. Namun rasa gatal ingin bersinnya malah keburu hilang. Mengesalkan. Kalau tahu begini jadinya, aku akan memilih tetap berada di sana guna mendengarkan isi lanjutan percakapan mereka. Satu kursinya milik siapa? Satu kalimat yang keluar dari bibir Alisa terngiang terus dan membuatku berpikir keras. Mungkinkah maksudnya satu kursi itu untukku? Tidak. Aku terlalu percaya diri. Belum pasti kalau Pak Arik sudah cinta padaku

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN