Amanda masih terdiam seribu bahasa. Otak kecilnya tampaknya merasa kesulitan mencerna kata iya yang terlontar begitu lancar dari labium lelaki di depannya. Begitu pun juga dengan hatinya yang kini tengah berdebat hebat dengan logikanya sendiri. Bagaimana bisa sosok pria yang selama ini dikenal sebagai sosok penyayang, justru kini menjelma layaknya orang yang ingin membunuhnya perlahan-lahan. “Kenapa diam? Aku tahu kamu pasti terkejut karena aku sekarang sekeren ini ‘kan, hem?” ucap pria bertubuh jangkung itu dengan senyum multi tafsirnya. Seraya mencondongkan badannya ke arah Amanda. “Kak Leo. Apa-apaan? Aku Manda bukan Nindy!” sergah Amanda seraya mendorong raga Leo yang tanpa permisi ingin menempel padanya. Mencoba menyadarkan Leo jika sosok yang berdiri di depan bukanlah Nindy. Y

