"Tarik nafas dalam ya, Tant. Kalau nanti terasa sakit," tutur Amanda tanpa mengarahkan pandangannya pada Aninda. Perempuan berhijab itu khusyuk melepas kasa yang sengaja ditempelkan di pergelangan tangan Aninda. Sementara nyonya yang susah diatur itu kali ini hanya menurut saja apa yang Manda katakan. Mengambil nafas lalu bernafas biasa. Sesekali bibirnya dilebarkan sedikit, agar nyeri berkurang. Nyonya besar itu sama sekali tak melawan instruksi Amanda. Mungkin saja ia sadar, karena pergelangan tangannya seringkali digerakkan, membuat aliran infus terhenti. "Fiuh, syukurlah masih ingat," monolog Amanda begitu ia selesai memperbaiki infus. Senyuman manis tak segan tersungging di labium gadis idaman Aninda. "Infusnya sudah beres, Tante. Manda permisi dulu," pamitnya seraya meraih tas ra

