“Mas Affandi.” labium puan berlesung pipit itu seketika bergerak, merapal sebuah nama. Seiring sepasang netra cokelatnya melihat sosok lelaki yang berhasil menjeda pertengkarannya dengan Leo. Percuma! Lirihan Amanda yang susah payah dilisankan olehnya,nyatanya tak sampai di telinga si empu nama. Bukan karena terlalu pelan suara Amanda, sehingga menyulitkan gendang telinga pria itu menangkap suara lembut puan Amanda. Melainkan terucapnya barisan kata nan takabbur yang keluar dari labium Leo. “Jangan sok jagoan dulu, Bung. Yang ada justru jarimu yang remuk redam. Hahaha!” Cuih! Sombong sekali lelaki yang kini berjalan mengikis jarak dengan Affandi. Menganggap dirinya tak akan terkalahkan oleh siapapun, tanpa tahu kekuatan tersembunyi si rival. “Oh ya? Kita lihat saja nanti,” tukas Affan

