Andro VS Anin

499 Kata
Anin sudah hampir terlelap ketika ponselnya berbunyi. Diraihnya benda berwarna kelabubitu sebelum suaranya mengganggu Tara yang tidur disampingnya, " Halo. " Terdengar helaan nafas panjang, " Halo, Anin ? Ini Andro." Anin memilih keluar dari kamar dan duduk di ruang tengah, " Ya.... Bagaimana, kak? “ " Kapan kita bisa ketemu? " " Dimana? “ " Mana yang lebih nyaman untuk kalian? Disini atau disana? " Anin menarik nafas panjang. Helaan nafas dan ketidaknyamanan terbaca jelas disuara Andro, " Kakak belum siap menemui Tara." putusnya. "Tapi..... " " Kakak bisa kesini, melihatnya dari jauh." " Dia anakku." " Aku tahu... tapi apa kakak sudah yakin dengan penerimaan kakak sendiri ? Apa kakak yakin kakak mencintainya atau hanya rasa bersalah?" Andro terdiam... lidahnya terasa kelu. Anin membiarkan keheningan menyelimuti mereka untuk beberapa saat, " Kak.... datanglah kesini. Temui kak Tania dulu dan lihatlah Tara dari jauh. " " Tidak bisakah aku memeluknya? Aku sudah melihat foto dan video yang kamu kirimkan pada Arfa." Anin menghembuskan nafas kasar, tidak menutupi kejengkelannya, " Bahkan dari suara kakak saja aku sudah bisa mendengar betapa emosionalnya kakak saat ini. Apa yakin tidak akan emosional dan menangis didepan Tara? Apa sosok papa seperti itu yang akan kakak tunjukkan pada Tara? " " Jangan mempersulitku, Nin.... Please. " " Aku .... tidak." finger cross... maafkan aku..., " Tara mengenal mamanya kuat dan tenang, tidak menangis dalam kondisi sakit sampai ajal menjelang. Aku selalu berusaha menunjukkan hal yang sama selama ini, sampai Tara bisa memahami kepergian mamanya. Tolong jangan hancurkan kekuatan anakmu dengan melihat papanya emosional. " Rasa bersalah nya sedikit berkurang ketika mendengar isak tertahan dari lelaki itu. " Kamu benar." ujar Andro dengan suara bergetar. " Kak.... berdamailah dengan masa lalumu terlebih dulu. Mintalah maaf pada kak Tania, dia akan memaafkanmu. Setelah itu maafkan dirimu sendiri." " Apa Tania akan memaafkan aku? " " Ya... aku yakin itu. Lagipula dia tidak akan bisa menamparmu dari dalam kuburnya." Anin tertawa kecut. " Kamu..... " " Tenangkan dirimu kak.... Itu yang aku tawarkan. Datanglah kesini, selesaikan masa lalumu dengan Kak Tania." " Aku..... " " Kalau berhadapan dengan batu nisan saja kamu tidak sanggup, bagaimana aku akan mempercayakan Tara kepadamu ?" Sabar Anin....... kendalikan emosimu. Jujurlah saat ini kamu sedang ketakutan mereka akan mengambil Tara darimu... , " Sudah malam, kak... pikirkan lagi tawaranku tadi." " Baiklah..... " Andro menghela nafas, " Selamat malam." " Bye." Anin mematikan ponsel, membenamkan wajah dibantal sofa untuk meredam tangisnya. Sementara Andro tercenung ditempatnya dengan air mata yang menetes diujung matanya. Arfa yang sedari tadi duduk diam mendengar pembicaraan Andro dan Anin kini memeluk bahu adiknya, " Aku yakin saat inipun Anin menangis. Tapi dia benar, kamu selesaikan dulu masa lalumu. Temui Tania, bicaralah walau hanya dengan hatimu." " Apa Anin akan mempersulitku , Fa?Bagaimanapun banyak noda hitam dari diriku dimatanya.“ " Baginya Tara yang utama, kalau dia egois... dia tidak akan mengantarkan surat itu kesini. Dia hanya ingin melindungi Tara. " " Kamu yakin? " " Aku percaya padanya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN