Maafkan Aku

425 Kata
Anin menghentikan langkahnya saat menyadari lelaki dibelakangnya tertinggal. " Tolong bersabarlah padanya." permintaan yang diucapkan perlahan oleh Arfa saat mereka baru datang tadi membuat bibirnya tertutup rapat. Tanpa berkomentar Anin melanjutkan langkahnya, " Hai Kak.... aku datang lagi. Kali ini aku bersama lelaki itu." sapanya pelan sambil jongkok, " Aku bersihkan dulu, ya Kak.... bersiaplah sebelum dia menemuimu." gumannya sambil membersihkan permukaan makam dari daun daun kering dan buket kecil bunga yang telah layu. Setelah bersih, ia meletakkan buket anyelir putih yang selalu dibawanya. " Tania.... " Andro terduduk didepan makam itu," Maafkan aku...... " air matanya turun tanpa bisa dicegah. Bibirnya bahkan tidak sanggup berkata apa apa. Anin menepuk bahu Andro lalu berdiri dua langkah dibelakang lelaki yang bahkan tak mengeluarkan suara selain tangis nya. Tapi ia tahu banyak hal yang disampaikan dalam diam oleh Andro pada gundukan tanah dihadapannya. " Terima kasih." ujar Arfa, "Untuk bersabar padanya." lanjutnya ketika Anin menatapnya dengan kening berkerut. Gadis itu menggeleng, " Seperti yang aku bilang, kak Tania akan mudah memaafkannya. Dia orang baik, apalagi ... pada ayah dari anaknya.. dan laki laki yang mengisi hatinya." " Dan kamu? " Anin mengangkat sedikit ujung bibirnya, " Maafku tidak ada artinya... ini tentang mereka." " Gak terlepas darimu." Anin tersenyum tipis, " Semua yang kulakukan hanya untuk memberi yang terbaik bagi Tara." Arfa tersenyum, " Kamu gak bisa menutupi ketidakrelaanmu." " Aku bisa apa  ?"  sahutnya tanpa  mengalihkan pandangan dari batu nisan... dan akhirnya mereka yang akan memiliki Tara ... dan aku akan kembali sendiri, seperti kita dulu Kak... Arfa menatap gadis yang dengan jelas menarik garis pembatas antara mereka, " Bagaimanapun kamu adalah Bua... Bunda Anin, buat Tara. Kamu akan membantu kami berdaptasi dengan Tara kan? " " Untuk memastikan Tara aman dan nyaman." sahut Anin tanpa ekpresi. Keduanya kembali diam menatap bahu Andro yang masih terguncang, walaupun sudah sedikit reda. " Terima kasih, Tania...terima kasih menghadirkan dan menjaga Tara kita. Aku janji... aku akan berikan yang terbaik untuk Tara. Kali ini percayalah kepadaku.... Beristirahat lah dengan tenang.... Sekali lagi, maafkan aku....." " Setelah ini bagaimana? " tanya Arfa. Andro berdiri sambil mengusap wajahnya dengan saputangan, " Boleh aku melihat Tara sekarang? " " Melihat ? “ Anin menatap Andro. " Apa dengan keadaanku seperti ini... Bua nya Tara bakal mengijinkan aku menemuinya? “ ditunjuknya wajahnya sendiri, menyadari pasti matanya sembab dan terlihat kacau. " Syukurlah kalau paham." Anin beranjak pergi setelah menatap makam Tania, berpamitan dalam diam. Arfa mengikuti nya, tersenyum saat melihat gadis itu membuang muka dan sedikit menengadah. Ditepuknya bahu Andro, menenangkannya tanpa kata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN