Papa Tara

1001 Kata
Anin mengatur nafasnya ketika mendengar suara mobil berhenti didepan rumahnya. " Bua... obil. " Anin tersenyum melihat Tara antusias mengintip dari pintu yang dibuka setengah, " Ayo itu... Nenek dan kakek Tara." ujarnya membuka pintu lebih lebar. " Tara..... "seru Ny Rahadi, melangkah cepat meninggalkan tiga lelaki yang baru turun dari mobil. Tara menatap Anin, tersenyum lebar ketika Bua nya mengangguk, " Nenek... " tertawa ketika perempuan itu memeluknya erat sambil menciumi seluruh wajahnya. " Kakek gak dipeluk nih? “ Tara menjauhkan tubuhnya lalu mengulurkan tangan," Dong..... " " Mau gendong kakek, sini jagoan." Anin menggigit bibir melihat Ny Rahadi mengusap sudut matanya yang basah. Dialihkannya pandangan pada Andro yang berdiri kikuk disamping Arfa, " Masuk dulu, yuk." Arfa menyenggol Andro yang terpaku menatap jajaran keranjang besar yang tertata rapi diteras samping, " Toko online. Dengan itu dia dan Tania membantu adik adik pantinya membiayai diri, termasuk untuk menghidupi Tara selama ini." " Yang kerja disini semua anak panti? “ Arfa mengangguk, mendorong punggung Andro untuk masuk. " Bapak ibu yakin mau menginap disini? “ Anin menatap dua travel bag yang dibawa Arfa dan Andro. " Kami mengganggu? “ Anin mnggeleng, " Tempatnya seperti ini. Kalau kurang nyaman lebih baik cari penginapan atau... " " Sudahlah, seperti ini juga bagus. Selama kamu bersedia menerima kami." potong Ny Rahadi, menepuk lengan gadis yang duduk di sampingnya. Anin mengangguk, " Baiklah, nanti bapak dan ibu bisa tidur di kamar depan. Yang lain gak apa apa nanti malam di sofa bed di ruang tengah ?“ " Sudah santai aja." sahut Arfa. Anin beralih menatap Andro, tercekat melihat lelaki itu fokus menatap Tara yang sudah asyik memainkan game di ponsel kakeknya. Tanpa berucap apa apa, ia berdiri dan menuju dapur. " Butuh bantuan? " Anin memalingkan wajahnya, " Terima kasih bu... sudah selesai kok." ditunjuknya nampan berisi minuman dan camilan. Ny Rahadi menatap sekeliling. Dapur kecil bersampingan dengan kamar mandi, ruang tengah merangkap ruang makan dan dua kamar, " Kamarmu? " ditunjuknya kamar dengan pintu dengan tempelan sticker robot. " Kamar Kak Tania awalnya. Sekarang jadi kamar Tara walaupun ia lebih sering tidur bersama saya disana." Anin menunjuk pintu bercat putih disampingnya, " Nanti ibu dan bapak bisa di kamar Tara. " " Kalian hidup dengan baik. " " Kami bersyukur bisa sejauh ini." " Mereka adik adikmu? “ Anin mengangguk, melambaikan tangan ke beberapa kepala diteras samping. " Mereka sedang apa? " " Ada yang ngurusin pesanan, ada yang cek stock ada yang packing. Biasanya nanti jam empat sore kurir ekspedisi datang, dan mereka kembali ke rumah atau panti." " Masih tinggal di panti? " " Beberapa masih, beberapa lagi sudah bisa menyewa bahkan mencicil rumah." Ny Rahadi mengusap kepala Anin, melemparkan senyum saat menyadari beberapa orang di teras samping menatap kearah mereka. " Mari ke depan bu... atau mau istirahat?“ " Anin.... bisakah kamu membuka percakapan untuk mengenalkan Andro sebagai papa Tara?" Anin mengangguk dan kembali ke ruang tamu, " Silahkan." " Bua... Mau num. Main Amu amu...? " Anin melambaikan tangannya. Tara melorot dari pangkuan kakeknya, menghampiri Anin yang sudah setengah jongkok disamping meja. " Akan di num... kakek. " Tara menggenggam gelas dengan dua tangan kecilnya, meletakkan di hadapan Tn Rahadi yang menatapnya dengan mata basah. " Akan di num Nek.... " " Terima kasih, sayang." sahut Ny Rahadi dengan suara lirih. " Om dok, mau num? “ " Mau dong, makasih ya anak pinter." Arfa mengulurkan tangan lalu toss setelah Tara meletakkan gelas. " Ehm.... mau num? Ini capa, Bua? “ Anin tersenyum, " Itu papa Tara." Mata bulat itu berkedip kedip... , " Papa Taya? Cepelti Papa Lio? “ Anin mengangguk, " Iya... itu Papanya Tara, Seperti Papanya Rio." " Papa Taya temannya papa Lio? Tan Mama Taya ama Mama Lio cama cama bobo ke culga." Tara menjelaskan tanpa diminta. " Iya sayang... seperti itu." Tara kembali menatap Andro dengan mata bulatnya, " Pa... pa.... " " Tara mau peluk ... papa? " tanya Andro ragu. Tara kembali menatap Anin. Anin mengangguk sambil tersenyum menenangkan. " Mau.... peyuk... ndong." Tara mengulurkan lengan gempalnya. Andro segera berdiri dan meraih Tara kedalam pelukannya. Mendekapnya erat dengan mata basah. Tara sudah bersama papanya, kak... bersama keluarga besar yang akan menyayanginya. Aku hanya perlu membiasakan Tara dan diriku sendiri kan kak...? Tenanglah disana kak... Tara akan baik baik saja.... Anin menatap fotonya bersama bayi Tara dan Tania di dinding. Tanpa suara ia masuk kekamarnya untuk menenangkan diri. Setelah lebih tenang dan memastikan tidak ada sisa tangis, Anin keluar lagi untuk memastikan Tara baik baik saja. " Bua..... " " Ya? “ "Ini papa nais..... " " Kenapa papa nangis? " Tara geleng kepala, " Angen mama nia? Papa Lio suka nai kalo kangen mama Lio. " Anin mengangkat bahu sambil tersenyum, " Papa jelek gak kalau lagi nangis? “ Tara tertawa, mengusap pipi Andro yang basah dengan lengan bajunya, " Udah udah angan nais, nanti papa lek lho. " Andro tertawa dan mencium gemas pipi Tara, " Terima kasih. " ucapnya tanpa suara pada Anin. Anin hanya mengulas senyum tipis, " Tara main sama papa, Bua mau siapin makan siang." " Ote Bua.... " sahut Tara mengedipkan kedua matanya lucu. " Selamat siang.... " Anin batal melangkah kedalam, " Eh, kak Ayu, Kak Bram.... " " Dotel Ayu... ini papana Taya lho." Ayu yang baru masuk menatap lelaki yang menggendong Tara, " Oh ya... kenalin ama dokter Ayu dong." " Papa... cana cenayin dotel Ayu." ditariknya tangan Andro untuk bersalaman dengan Ayu. " Ayu. " " Andro." " Bukan Ando... papana Taya." seru Tara protes. " Oh iya ... Papanya Tara, " " Papa pintel ... " Semua tertawa melihat gaya Tara, kecuali Anin yang memilih meninggalkan ruang tamu. Ayu bertukar pandang dengan suaminya lalu menyusul Anin ke dalam, " Nin.... " " Aku baik baik saja. " Ayu tertawa, " Baiklah... aku tahu kamu akan baik selama Tara baik. " ujarnya sambil membantu Anin memindahkan sayur dari panci ke mangkok saji. Ia tahu perempuan disampingnya ini tidak baik baik saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN